Mengapa Hillary Keok Lawan Trump

Posted on Juni 19, 2018

0


Sudah banyak yang ditulis tentang kekalahan Hillary Clinton dari lawannya, Donald Trump, dalam pemilihan presiden Amrik dua tahun yang lalu. Saya tidak bermaksud sok pinter dengan menulis hal yang sama. Mau pinter juga tetap keliatan bodoh wong saya bukan analis politik. Tapi setidaknya ada dua hal dari pertarungan kedua tokoh itu yang bisa saya tulis untuk dicamkan kita semua:

Yang pertama, Hillary berusaha menghindari isu gawat tentang penggunaan server email pribadinya untuk komunikasi resmi. Kelemahan seperti itu udah terkuak di publik dan sudah dipandang sebagai skandal. Namun, Hillary (atas saran para penasihat kampanyenya) mati-matian menghindari topik tersebut dalam pidato-pidatonya. Akibatnya, rakyat Amrik memandang dia sebagai orang yang tidak bisa dipercaya karena menyembunyikan masalah sangat gawat dan menghindar untuk membahasnya. Seandainya dia memilih untuk menyentuh hal itu secara terbuka dalam pidato-pidatonya, barangkali publik akan melihat sisi lain dari seorang calon presiden.

Yang kedua, pesan kampanye Hillary tidak menyentuh jantung hati permasalahan yang diam-diam dirasakan banyak rakyat Amrik. Para pendukung Trump adalah orang-orang yang merasa pekerjaaanya dirampas oleh otomatisasi dan persaingan dengan negara lain, yang melihat dilegalkannya perkawinan lesbi dan gay, yang melihat dukungan publik terhadap Obamacare., dan hal-hal lain yang membuat mereka kecewa. Mereka bertanya-tanya: “kemana Amrik yang jaya dulu?”. Mereka merasa goyah karena Amrik yang dialaminya bukanlah Amrik yang dulu mereka puja sebagai negara yang kuat dan tegas. Trump dengan jitu membaca ini dan mengaumkan slogannya yang simpel tapi mengena: “Make America Great Again!”. Simpel, tapi sangat mengena. Ini salah satu faktor di balik popularitasnya di kalangan Amrik yang kemudian berujung pada kemenangannya.

Seandainya Anda adalah seorang yang sedang berambisi untuk menjadi pemimpin (entah itu ketua badan perwakilan mahasiswa, calon walikota/bupati, calon rektor, atau calon pemimpin di area lainnya), apa yang bisa Anda pelajari dari kedua hal di atas? Yang pertama, janganlah malu mengakui kelemahan. Kita harus bisa dan berani menghadapi kelemahan itu, apalagi kalau banyak orang ternyata sudah mengetahuinya. Namun, kita juga harus cerdik menggunakan retorika untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang membuat publik bersimpati.

Yang kedua, kita harus sangat peka dalam membaca isi hati orang banyak yang akan memberikan suara mereka. Kita harus mau terjun ke segala lapisan publik, mengadakan diskusi intens yang mendalam, dan mengamati hal-hal yang kadang tak tersuratkan namun jelas terasa. Kita harus membaca apa yang dinamakan “zeitgeist” (perasaan banyak orang terhadap banyak hal dalam suatu jaman). Lalu kita harus bisa meluncurkan slogan atau motto yang sederhana tapi mengena. “NKRI harga mati” adalah salah satu contohnya selain “Make America Great Again” oleh Trump di atas tadi.

Iklan
Posted in: humanity, pendidikan