Menghidupkan Karakter dalam Tulisan Fiksi lalu Terhantui

Posted on Juni 11, 2018

0


Karena saya suka menulis, baik itu fiksi maupun akademis, saya tak henti mencari resep manjur dalam membuat karya saya menjadi bagus dan lebih bagus lagi. Bagus dalam dunia penulisan artinya bisa membuat karakter cerita saya seolah hidup dan ada di alam nyata. Karakter yang hidup dan dinamis membuat cerita terasa mencekam. Mencekam disini tidak harus berarti horor; mencekam adalah perasaan yang membuat kita tidak mampu meletakkan sebuah buku yang sedang kita baca karena sedemikian memikat si penulis melukiskan tokoh-tokohnya.

Setelah usia menginjak satu abad kurang separuh, baru lah saya menemukan kiatnya. Ini agak tolol tapi pantas dimaklumi. Profesi saya yang dosen dan gelar guru besar memaksa saya untuk menghasilkan tulisan ilmiah bin akademis yang kering, datar, boring total kecuali mungkin di mata beberapa gelintir orang dari bidang saya. Untuk mengganti mood dan mode menulis fiksi bukan suatu hal yang mudah. Bisa-bisa tulisan fiksi saya dahului dengan sebuah abstrak dan kata-kata kunci. Ah, sudahlah . . . .

Ternyata, untuk menghidupkan tokoh-tokoh fiksi saya, saya harus mulai dari manusia nyata. Saya harus menentukan beberapa orang di lingkungan saya yang kemudian akan saya jadikan tokoh-tokoh di cerita fiksi saya. Ini hal yang menyenangkan sekaligus menegangkan . Saya jadi agak tekun mengamati beberapa orang ini, mulai dari gaya pakaiannya, cara bicaranya, caranya tertawa, obrolan yang dibincangkannya, sampai pada musik favorit dan makanan favoritnya. Yang terakhir ini menjadi sangat mudah lebih mudah daripada membalik telapak tangan karena semuanya bisa saya peroleh dari Instagram atau Facebook mereka.

Maka jadilah saya menulis sebuah cerita panjang (saya belum tega menyebutnya “novel”, takut ditertawakan pembaca yang tahu betul siapa saya) tentang beberapa karakter. Ada satu yang baik, ramah tapi sedang galau, ada yang tomboy, spontan, teguh pendirian tanpa kompromi, ada juga yang tenang kalem menghanyutkan, dan ada yang selalu ceria di segala cuaca. Semua itu saya tuangkan dalam fiksi namun jangan lupa bahwa mereka semua “bernyawa” karena memang saya ambil dari insan-insan bernyawa di sekitar saya.

Saya berharap cara saya itu mampu menghadirkan para tokoh di cerita saya yang terasa nyata, hidup, bergelora di lautan emosi mereka di lautan kata yang saya rajut menjadi sebuah cerita fiksi.

Nah, tadi kan saya bilang kegiatan mengamati ini bisa juga “menegangkan”. Suatu pagi, saya melihat posting live story di Instagramnya seorang tokoh saya itu. Ketika melihatnya, saya kontan membatin: “Lho kamu kok suka yang begituan? Seharusnya kamu ndak begitu. Di ceritaku, kamu ndak begitu.”

Sesaat kemudian sadarlah saya bahwa karakter yang saya ciptakan di cerita fiksi itu telah saya benturkan dengan karakter orang sesungguhnya. Ketika terasa tidak pas, saya langsung protes dalam hati. Padahal fiksi tetaplah fiksi alias khayalan belaka. Ketika watak tokoh di fiksi terasa begitu hidup dan “nyata”, saya merasa tidak rela bahwa orang sebenarnya di dunia nyata ternyata tidak seperti itu. Saya terjerumus pada gejala terkena ilusi alias sesaat tidak bisa lagi membedakan mana yang nyata dan mana yang fiksi.

Hmmmm . . .

Iklan
Posted in: humanity, membaca, menulis