Cerdik Cerdas dan Rakus: Kisah daripada Google, Facebook, dan Amazon

Posted on Juni 11, 2018

0


Sebelum menukik ke Google dan Amazon, baiklah kita berkenalan dulu dengan konsep “libertarianism”. Libertarianism, seperti kata “liberty” yang artinya “kebebasan”, pada intinya adalah konsep kebebasan individual. Libertarian ini ada dua, yang kiri dan kanan. Yang kita bicarakan ini adalah versi yang kanan, yang pada intinya mendukung kepemilikan individual (kalau yang kiri itu percaya bahwa kepemilikan individual akan menghambat kemakmuran bersama dan mengekang kebebasan). Yang menarik, paham libertarian kanan ini selaras dengan novelis Ayn Rand. Hebat ya, sastrawan bisa ikut membentuk suatu ideologi! Ayn Rand yakin bahwa keegoisan dan siapa yang paling kuat pasti akan selamat (survival of the fittest).

Nah, paham ini dianut oleh Amazon. Ia menelikung satu peraturan dari Mahkamah Agung USA yang menegaskan bahwa sebuah perusahaan tidak perlu membayar pajak negara bagian kalau tidak punya bangunan fisik atau kehadiran secara fisik di negara bagian tersebut. Karena tokonya adalah toko virtual (hanya ada di komputer online), maka Amazon memang berhak tidak membayar pajak. Jadi, walaupun Amazon memasarkan produknya ke Arkansas dan memperoleh keuntungan darinya, dia tidak perlu bayar pajak. Cerdik, bukan?

Kiat yang sama juga digunakan secara jitu oleh Facebook dan Google. Dikabarkan bahwa pajak yang seharusnya mereka bayar tapi bisa mereka hindari dengan wenaak mencapai sebesar 60 milyar US dollar. Ngehe, bukan?

Google menguasai 88 persen pangsa pasar mesin pencari dan iklan, sementara Facebook sebesar 77 persen saham sosial media. Monopoli macam ini pertama kali dideteksi oleh Presiden Amrik bernama Thomas Jefferson di abad ke 17. Beliau lalu mengeluarkan Bill of Rights yang bertujuan untuk membebaskan rakyat dari kungkungan monopoli. Tapi presiden berikutnya, Alexander Hamilton, percaya bahwa pemodal lah yang harus mengendalikan politik, dan bukan sebaliknya. Berkat kiprahnya, bank nasional Amrik hanya menguasai 20 persen saham, sementara sisanya dikuasai oleh Hamilton dan konco-konconya. Ini sebabnya kalau kita mencermati dokumen-dokumen pendiri bangsa Amerika, hampir semuanya selalu melindungi kepentingan pemilik modal dan tuan tanah yang kaya raya.

Gerah dengan permainan kaum tajir yang culas itu, pada tahun berikutnya muncullah Sherman Act yang bertujuan membatasi penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang. “Jika segelintir orang kaya bersatu mengumpulkkan harta dan kekuasaan, akibatnya adalah tidak baik untuk keseluruhan bangsa dan semangat kewirausahaan yang adil”.

Baru juga Sherman Act ini terasa efektifnya, pada periode berikutnya seorang bernama Robert Bork meyakinkan para penguasa bahwa monopoli pada ujungnya akan selalu menguntungkan pihak konsumen dan rakyat banyak secara keseluruhan. Maka Sherman Act pun loyo dan sekarang semangat libertarian berwujud monopoli itu mencapai kedigdayaannya di era teknologi digital.

Google menguasai sebagian besar ruang beriklan. Karena dia bisa menentukan seberapa besar suatu iklan akan dipaparkan pada publik luas, dia juga bisa menentukan tarif yang harus dibayar oleh setiap pengiklan. Amazon pun juga menguasai jumlah buku dan penerbit secara masif. Maka, ia pun juga bisa mendikte para penerbit yang mau tidak mau harus mengiklankan dirinya di jaringan Amazon.

Pada tahun 2012 ada gerakan yang menentang pembajakan karya seni di Internet. Gerakan ini namanya SOPA (Stop Online Piracy Act) dan langsung didukung oleh para seniman yang merasa karyanya dibajak orang lain tanpa membayar ke mereka. Sebagai tanggapannya, Google meluncurkan kampanya menentang SOPA. Kenapa? Karena selama ini, tindakan mencari lagu atau karya seni lainnya di Internet lalu menggunakannya tanpa membayar royalti adalah salah satu bentuk kegiatan yang mendatangkan uang bagi Google!

Selama ini kita cenderung memuji dan bahkan memuja Google sebagai hasil kecerdasan manusia yang banyak membantu umat manusia menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan. Ya, memang betul, tapi pada saat yang sama, Google sebenarnya juga sedang menggali data kita dalam jumlah yang sak hohah (luar biasa besar) lalu menjualnya ke pihak lain. Ini yang terjadi dengan Facebook yang dituduh menjual data para penggunanya ke pihak pengiklan.

Pada prinsipnya, perusahaan berbasis digital teknologi seperti Google dan Facebook menjalankan prinsip: “sikat dulu, akibatnya nanti diurus belakangan. Dalam bahasa sono, ini disebut prinsip “move fast and break things”. Secara sederhana, itu sama seperti kalau kita menyikat ayam dan kambing peliharaan tetangga, lalu setelah semua habis dan kenyang, baru kita berurusan dengan tetangga yang marah-marah itu.

Data pengguna. Itu adalah tambang emas bagi perusahaan-perusahaan macam gini. Data yang mereka kumpulkan secara online itu setara dengan data yang bisa terkumpul dalam waktu 15 juta tahun! Hahaha, dahsyat, bukan?

Lalu bagaimana kita mencegah tindakan rakus yang masif seperti itu? Ya, sebagian besar dari kita mungkin malas memikirkannya apalagi setelah kita sendiri juga merasa diuntungkan oleh perilaku seperti itu. Berbagai media sosial memuaskan nafus terpendam narsisisme kita, dan perusahaan seperti Google terbukti telah banyak membantu para akademisi menuangkan gagasan ilmiahnya, plus memabntu milyaran orang lainnya mendapatkan informasi dengan cepat.

Jadi biarlah yang rakus semakin rakus . . .

Iklan
Posted in: akademik, humanity