Literasi Sastra versus Nonton TV dalam Menggelitik Empati

Posted on Juni 1, 2018

3


Menonton televisi itu selalu menyenangkan. Kita tinggal duduk manis dan berbagai drama dan berita akan tersaji di hadapan kita untuk kita telan begitu saja. Eh, konon generasi Millennial tidak lagi menonton TV dan lebih suka nonton streaming di gadgetnya. Ya, sama aja. Ketika menonton sajian itu, mereka cenderung menelan begitu saja apa yang ditayangkan. Namun pernahkah kita berpikir kenapa ya kok saya tinggal menelan saja? Saya ingin mengunyah dan menikmati cita rasa sajian itu.

Maka beranjaklah dari depan televisi dan mulailah membaca buku karya sastra.

Membaca cerita, apalagi kalau itu ditulis oleh pencerita ternama, ternyata membantu kita memahami pengalaman dan perasaan dari budaya, bangsa, bahkan kepercayaan yang berbeda. Apa yang kita baca merasuki pikiran kita dan memacunya untuk bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh para tokohnya. Dengan kata lain, membaca buku sastra membuat kita berlatih untuk mengasah empati.

Ini bedanya dengan sajian televisi. Ketika menonton drama di televisi, apa yang disajikan oleh produser dan sutradara sampai penata suara, casting, dan perias para aktornya membuat kita “menelan” begitu saja apapun yang tersaji. Karena film televisi umumnya disajikan dalam waktu terbatas, nyaris tidak ada waktu untuk berkontemplasi dan membuka ruang penafsiran subyektif di benak kita. Akibatnya, mungkin kita bisa sedikit merasakan apa yang dialami para karakternya, namun tidak setajam kalau kita membaca buku sastra. Karena waktu membacanya bisa sampai berminggu-minggu, latihan empati di benak kita itu akan terjadi lebih intens.

Itu mungkin sebabnya seorang pakar bahasa dan budaya bernama Steven Pinker dalam bukunya “Better Angels of Our Nature” mengatakan bahwa literasi sastra mengasah kemampuan pembacanya untuk berempati dengan sesama manusia dari lingkungan yang berbeda. Ini didukung pula oleh sebuah studi unik dari Daniel Batson. Dia meminta sekelompok orang membaca sebuah surat tentang hancurnya hati yang patah dari seorang wanita. Sementara itu, ada kelompok lain yang tidak membaca surat tersebut. Lalu, si wanita ini dihadirkan ke kedua kelompok tersebut dan mereka diminta bermain sebuah game. Ternyata, kelompok yang tadi membaca surat si wanita itu cenderung untuk mengalah dan bekerja sama dengan si wanita, sementara kelompok yang tadi tidak membaca suratnya cenderung mati-matian berusaha mengalahkannya. Ini menyiratkan bukti bahwa orang bisa berempati kepada sesamanya melalui membaca, dan ketika empati itu sudah terbentuk, mereka cenderung untuk tidak berkompetisi namun rela mengalah dan bekerja sama dengan orang lain.

Di bawah ini dua dari sekian banyak buku favorit saya yang sudah saya baca:

Buku ini mengajarkan nilai-nilai luhur yang berlaku di banyak budaya, bukan hanya Jawa

Buku tentang pembuatan super komputer era 80 an. Cerdas namun tetap manusiawi.

Selamat membaca. Tidak ada ruginya membaca karya-karya sastra. Kalau ternyata memang benar Anda bisa lebih berempati melalui membaca, syukurlah. Kalau belum, tidak mengapa. Membaca dan membiarkan daya fantasi kita mengguratkan apa saja yang dialami oleh para tokohnya juga merupakan kegiatan mental yang menyenangkan
.
(Disarikan dari Blinkist “The Fear Factor” terbitan tahun 2017).

Iklan
Posted in: akademik, humanity