Yesterday nya Haruki Murakami

Posted on Mei 29, 2018

2


“Yesterday
is two days before tomorrow
The day after 2 days ago”

Bayangkan lirik lagu “Yesterday” nya the Beatles dioprek sampai menjadi gak jelas seperti di atas. Ngehe betul, bukan? Tapi itulah yang menjadi ciri khas Kitaru, seorang pria Jepang kelahiran Tokyo yang lebih suka berbicara dalam dialek Kansai. Dialek ini terkesan ndeso (udik) tapi dia tidak perduli. Dengan sosok yang ramping, tidak tinggi, wajah terkesan alim dan berpendidikan, Kitaru ini membuat banyak kenalan barunya langsung terhenyak mendengar gaya bicaranya yang udik itu. Sekalipun kelihatan pinter, tapi dia harus sengsara belajar untuk bisa lulus ujian masuk universitas. Dia punya pacar yang kelihatan ndak ngematch blas dengan dirinya: namanya Erika Kuntani. Erika lebih ceria, namun juga memendam kekhawatiran tersendiri: pacarnya itu tidak pernah melakukan hubungan sex dengannya. Kalau pria lain mencium kekasihnya masing-masing lalu berlanjut ke hubungan intim, Kitaru hanya sebatas membelai tangan Erika lalu berhenti ndak lanjut lebih jauh.

Kitaru ini suatu ketika dengan kalemnya menawarkan Erika kepada teman baiknya, namanya Tanimura. “Kamu kan temanku. Aku sudah kenal kamu. Kamu pria yang baik. Sana, pacaran sama Erika.”

Selagi temannya keheranan dengan tawaran sinting itu, Kitaru mengaku: “Kadang aku memang sengaja membelah diriku menjadi dua. Yang satu adalah diriku yang khawatir dengan Erika dan pergaulannya. Bagaimana nanti kalau dia terpikat pria lain? Nah, diri yang satu lagi merasa bahwa hidup sepasang kekasih itu sudah bisa diramalkan: jatuh cinta, lalu menikah, lalu punya anak, lalu menyekolahkan anaknya. Lalu kadang-kadang sekeluarga berjalan-jalan bersama di taman dan sungai-sungai. Udah itu aja. Nah, aku ingin berpisah dengan Erika, dan nanti kalau suatu saat ternyata kita memang tidak bisa hidup tanpa satu sama lain, bolehlah kita bertemu lagi.”

Maka Tanimura pun menuruti kemauan temannya yang aneh itu. Dia berduaan dengan Erika, nonton bioskop, lalu makan bareng. Tapi ya sudah, itu saja. “Kamu ndak cium dia?” “Endak.” “Kamu ndak ngesex ma dia?”, “Ah, endak juga lah!”

Kitaru yang semula ngotot belajar untuk bisa masuk universitas akhirnya pergi. Dia bahkan meninggalkan pekerjaannya di sebuah kedai kopi, hilang entah kemana. Tanimura tentu saja merasa kehilangan temannya itu. Sampai suatu ketika, 16 tahun kemudian, dia bertemu lagi dengan Erika yang sudah menjadi karyawati sebuah perusahaan. Saat itu mereka juga tahu bahwa Kitaru sudah pindah ke Denver, jadi chef sushi disana. Masih lajang pula.

Erika mengaku bahwa dia memang pernah berhubungan intim dengan pria lain selain Kitaru. “Aku mencintai Kitaru. Omongan dan jiwa kami nyambung, namun aku tak menyangkal bahwa aku juga ingin meluaskan pergaulanku, kenal dengan pria-pria yang lain. Akhirnya memang aku sempat berpacaran dengan pria lain yang atlit basket itu. Namun walaupun hubungan sex kami dahsyat, kami putus karena aku ndak bisa nyambung dengan dia,” ujarnya. “Dan hatiku masih untuk Kitaru.”

Lalu Erika pergi begitu saja dari hadapan Tanimura.

Tanimura pun termangu-mangu dalam diam dan kesendirian. Lalu dia memimpikan melihat sebuah bulan es dari jendela kamarnya sambil terngiang-ngiang lagu “Yesterday” yang sering dilantukan Kitaru dengan gaya udiknya itu.

Kalau cerita di atas terasa absurd dan aneh, ya, saya juga merasakan demikian kok. Itu adalah karya seorang sastrawan Jepang terkenal, namanya Haruki Murakami. Saya baca buku digitalnya yang berjudul “Men Without Women”, dan salah satu cerita yang ada disitu adalah “Yesterday” yang baru saya ulas di atas.. Sekali baca satu kalimat sudah sulit sekali untuk menaruhnya kembali karena daya magis ceritanya. Namun begitu sampai di akhirnya, saya bertanya-tanya sendiri: “Ini maksudnya apa sih?”

Salah satu yang saya rasa benar adalah hal tentang Erika dan hubungan sexnya dengan pacar gelapnya itu. Ternyata memang betul: sex yang hebat tidak menjamin bahwa kedua hatinya juga saling bertaut. Hati yang sudah nyaman dengan seorang pria/wanita akan “transcend even the greatest sexual experience”.

Buat kita di budaya Indonesia yang lurus-lurus, jujur, monogami, posesif, dan pencemburu, cerita Kitaru itu sungguh aneh betul. Menawarkan pacar ke teman dekat? Berhubungan intim dengan pria lain lalu putus karena secara batin ndak nyambung, dan masih merindukan pria yang sekalipun udik tapi nyambung? Kencan dengan pacar teman tapi tidak menyentuhnya sama sekali? Lebih gila lagi pengakuan Kitaru tentang hidup pernikahan itu: “Paling ya gitu-gitu aja, terus udah. Mending kita pisah dulu, entar kalau ternyata aku ndak bisa hidup tanpa kamu dan sebaliknya, ya kita ketemu lagi dan berhubungan lagi.”

Haruki Murakami ternyata memang terkenal dengan cerita yang melantunkan kesendirian, kesepian, dan kegelapan. Itu mungkin yang membuat ceritanya terasa aneh luar biasa di batin saya. Karena saya bukan dari bidang sastra, saya juga tidak bisa mengapresiasi karya Haruki itu dengan ungkapan yang dramatis. Terus terang saja saya bingung, ini cerita maksudnya apa tho? Dengan agak nakal saya terus-teruskan judulnya: “Men Without Women Are Dead”. Ya, iyalah, buat saya yang pria itu adalah sangat benar!

Nah, anehnya, saya membuka lagi cerita berikutnya di buku “Men Without Women” itu . . .

Haruki Murakami

Ini bukunya

Iklan