Kiat Praktis Facebook Mengehe Dunia

Posted on April 19, 2018

4


Mark Zuckerberg, pendiri Facebook itu, kayak alien. Lihat aja matanya. Dan kok ya kebetulan (atau mungkin memang sudah pertanda) dia muncul di salah satu versi film Men in Black yang menyajikan orang-orang Bumi yang dicurigai adalah alien. Hahaha!

Eh, ssstt, . . . tapi diamlah dulu. Ini serius. Zuckerberg sedang ditanyai oleh para senator dan anggota Kongres Amerika Serikat yang terhormat menyusul kehebohan data 50 juta penggunanya ternyata telah dicuri oleh Cambridge Analytica:

Seorang senator melontarkan jab ringan: “Gimana caranya Anda bisa mempunyai platfom bisnis yang penggunanya bisa menggunakan tanpa membayar?”

Yang langsung dielakkan aja sama Suckerberg, eh, Zuckerberg dengan tangkas: “Ya kita pasang iklan dong, Bu”.

Seorang senator lain bertanya: “Kalau saya mengirim pesan lewat Whatsapp, apakah pesan itu juga diberitahukan ke para pengiklan? Contohnya, saya ngirim pesan kepada teman tentang film Black Phanter. Apakah nanti lalu ada iklan Black Panther yang mampir ke Whatsapp saya?”

Zuckerberg: “Tidak mungkin, Pak. Pesan-pesan di Whatsapp itu semuanya terenkripsi (tidak bisa dibaca karena sudah diacak-acak). Jadi ndak ada yang bisa membaca pesan Bapak itu kecuali teman yang dikirimi tadi.”

Senator itu belum puas dan bertanya lagi: “Maksudku, apakah ada semacam algoritma yang memungkinkan sistem Facebook dan Whatsapp itu saling berkomunikasi untuk memberitahukan isi pesan saya itu, tanpa ada campur tangan manusia?”

Zuckerberg agak terhenyak. Itu pertanyaan berimplikasi dalam. Kalau jawabannya iya, berarti memang sistem kecerdasan buatan yang tertanam di Facebook dan Whatsapp itu sudah mampu ikut campur tangan dalam kehidupan manusia tanpa harus dikendalikan oleh sang manusia. Hmm, . . . interestingly horrible (menarik tapi mengerikan).

Pertanyaan dari senator berikutnya: “Apakah Internet bisa mendeteksi aktivitas online seseorang, bahkan ketika orang itu sudah keluar dari sistem (logged off)?

Jawab Zuckerberg: “Ya, ada jejak kegiatan online yang disebut cookies. Cookies ini membuat kita mampu menghadirkan iklan-iklan yang paling sesuai dengan selera sang pengguna. Tapi toh untuk ditawari iklan-iklan ini selalu ada pilihan menolak bagi sang pengguna.”

Jadi memang sudah lazim kita ketahui bahwa iklan-iklan yang nongol di layar gawai kita itu disesuaikan dengan selera kita. Kalau sepanjang hari kita membaca atau melihat tentang tas-tas bermerek, maka yang muncul besoknya adalah iklan tentang tas. Kalau Anda suka mengklik situs-situs bokep, yang muncul di gawai Anda ya gambar-gambar bohay para wanita atau pria penjaja kenikmatan fisik.

Pertanyaan terakhir: “Apakah Facebook bisa membagikan data seorang pengguna ke orang lain tanpa sepengetahuannya?”

Zuckerberg menjawab: “Secara teknis bisa, tapi tindakan seperti itu adalah pelanggaran berat. Maka, kami tidak akan pernah melakukannya.” Menarik untuk membaca jawaban aslinya dalam bahasa Inggris karena dia menggunakan kata ganti dan kata bantu yang menyingkapkan bagaimana dia bersusah payah menghindar dari pertanyaan sulit ini:

Technically, SOMEONE COULD do that. But that WOULD be a massive breach. So WE WOULD never do that.”

Kata benda “SOMEONE” menyiratkan bahwa dia tidak ingin tudingan itu langsung mengarah ke Facebook atau dia sendiri. Lalu kata “WOULD” dan “COULD” adalah lazim diutarakan oleh orang Inggris kalau mereka mengungkapkan sesuatu yang masih bersifat praduga, perkiraan, asumsi, dan bukan sesuatu yang pasti. Dia seolah-olah mengatakan: “Yaa, bisa aja sih, tapi ya ndak tahu juga ya . . .” Lalu di kalimat terakhir dia mengatakan “We” untuk suatu hal yang berkonotasi positif. Jadi maunya dia, kalau sesuatu yang positif itu ya pastilah dilakukan Facebook, tapi untuk sesuatu yang buruk, yaah “someone” aja lah. Ini kajian menarik untuk analisis wacana atau pragmatik.

Tapi lepas dari bahasa, kita semua tahu apa yang sudah terjadi dengan Facebook. Data 50 juta penggunanya (1 juta dari Indonesia) dicuri oleh setan bernama Cambridge Analytica lalu digunakan untuk mengelabui rakyat Amerika untuk memilih Donald Trump. Canggih ya? Pinter, jahat, jenius, dan yang jelas sangat ngehe alias bangsat.

Lalu apakah kita akan berhenti Facebookan dan memboikotnya? TIDAK MUNGKIN. Kita lah yang butuh Facebook, dan bukan sebaliknya. Butuh untuk apa? Ya untuk mengukuhkan jati diri kita sebagai manusia seutuhnya: bisa beli ini itu dan memamerkannya, bisa traveling kemana-mana dan memamerkannya, selfie dengan wajah dipermak, cari teman sepaham sealiran untuk menghantam kelompok lain, sok pinter dan sok suci dengan status-status mulia yang sebenarnya kita juga jarang praktekkan, dan sebagainya.

Iya toh??

Catatan: “Mengehe” dari kata “ngehe” yang artinya adalah ‘kurang ajar’, atau bisa juga ‘nakal tapi kreatif’, tergantung mood . . .

Iklan