Membaca Buat Apa

Posted on April 13, 2018

2


Membaca buat apa? Iya, buat apa? Masih ada kegiatan lain yang lebih asik. Wisata kuliner kek, traveling kek, gowes, atau sekedar menyegarkan mata (plus kadang-kadang membiarkan sirik dan dengki merajalela) lewat melihat-lihat Instagram, Facebook, atau Path.

Posting ini akan berakhir disini kalau saja saya tidak terantuk pada isi Blinkist pagi ini (Blinkist adalah sejenis apps di Android yang menghadirkan intisari bacaan-bacaan berbobot. Jajalen tah. Wenak wis talah).

Menurut Blinkist, membaca adalah hal menemukan diri dan menyempurnakannya. Melalui membaca, kita menemukan jati diri yang disuarakan oleh tokoh-tokoh dan plot cerita yang kita baca. Ketika kita diperhadapkan padanya, kita tersentak, kagum takjub, ngelangut, dan bahkan bersyukur. Disarankan jangan langsung mbaca novel setebal 600 halaman dulu. Mulailah dengan cerpen-cerpen yang padat makna dan penuh harta di baliknya. Karya-karya penulis Rusia seperti Alexander Pushkin, Nikolai Gogol, Ivan Turgenev, dan Anton Chekov adalah karya-karya fundamental yang kemudian menjadi basis penulis-penulis terkenal di era berikutnya seperti Hemingway, D.H. Lawrence, Vladimir Nabokov, dan Patrisius Djiwandono. Oh, maap, yang terakhir itu typo. Harap diabaikan.

Cerita-cerita para penulis itu menuntun kita untuk menemukan titik hidup yang menyegarkan dan membuka mata di tengah kegalauan, penderitaan, dan keputusasaan yang banyak mewarnai hidup ini. Nada bercerita mereka terkesan dingin dan tidak melekat pada keseharian perasaan kita. Namun, jika kita baca dengan cermat baik yang tersurat (eksplisit) maupun yang tersirat (implisit), kita akan menemukan intinya, yaitu bahwa di tengah dinamika hidup ini selalu ada momen-momen suka cita yang biar sebentar namun bermakna.

Contohnya adalah “The Kiss”, cerpen karya Anton Chekhov. Cerpen ini mengisahkan seorang prajurit yang mendapat ciuman dari seorang gadis yang mengira bahwa si prajurit itu adalah pacarnya. Setelah terkena “benturan dahsyat tapi nyemek-nyemek” itu, si prajurit lalu berjalan-jalan di malam hari. Dia ketemu sebuah seprei yang sedang dijemur (dan lupa diangkat sampai malam tiba), dan dia bisa merasakan tekstur seprei yang agak kasar namun membuat nyaman itu. Lalu dia jalan lagi dan melihat bayangan rembulan di permukaan danau yang agak beriak kecil. Lalu dia sadar betapa hidup adalah sebuah lelucon yang kadang tak bisa dipahami (an incomprehensible joke). Maka hidup ini, sekalipun banal dan tak jarang tragis, sebenarnya penuh dengan momen-momen sesaat yang indah, yang bisa dicerap lewat peristiwa-peristiwa sederhana seperti ketika melihat dan merasakan tekstur seprei atau melihat rembulan beriak di permukaan danau.

Jenis karya sastra yang lain adalah puisi. Ini lebih membuat gregetan lagi karena pada umumnya puisi sulit dimengerti. Pikiran “koen iki ngomong opo seh??” selalu meruyak di benak saya ketika membaca puisi. Namun simaklah apa yang dikatakan penyair terkenal William Carlos William:

It’s difficult
to get the news from poems
Yet men die miserably everyday
for lack of what is found inside.

Ngerti maksudnya? Ndak ngerti? Saya lho udah tahu maksudnya. Super sekali pokoknya. Di balik puisi sesingkat itu kita bisa membuat uraian panjang lebar jadi satu artikel untuk jurnal ilmiah, kalau mau.

Puisi jadi ndak populer di kalangan masyarakat serba instan dan mau cepat jaman sekarang. Ungkapan-ungkapannya selalu metaforis. Namun sebenarnya ia sedang berbicara ke diri kita yang tidak terbajak oleh kendali rasio dan logika semata.

Pujangga puisi paling dahsyat di segala jaman tentulah William Shakespeare. Karya-karyanya immortal karena mengandung pemahaman sangat dalam tentang jati diri kemanusiaan, dan banyak menyuguhkan skenario yang ternyata selalu berulang dalam episode kita sebagai manusia fana. Blinkist menulis: hanya ada satu karya yang bisa menyaingi William Shakespeare, yaitu Kitab Suci. Biyuh!

Soliloquynya di naskah “Hamlet” yang mulai dengan larik sangat terkenal “to be or not to be” disebut sebagai pertanyaan eksistensial manusia. Empat ratus tahun setelah karya itu ditulis para ahli bahkan masih belum menemukan jawaban tentang makna di balik soliloquy itu. Ada yang mengatakan itu adalah keinginan untuk bunuh diri. Namun ada juga yang mengatakan itu adalah kebimbangan antara tindakan yang dipicu oleh kehendak bebas atau tindakan yang dipicu oleh keadaan/kondisi.

Masih ada karya besar lainnya dari Miguel de Cervantes: Don Quixote. Saya membaca ceritanya yang sudah diformat ulang menjadi komik Album Cerita Ternama ketika masih kelas 5 SD. Waktu itu, kesimpulan saya sederhana saja tentang cerita ini: “iki ceritanya orang gemblung yang asik. Hi hi hi!”. Sang pengarang tidak menuliskan secara jelas apa makna atau pesan moral di balik cerita wong edan itu. Semua diserahkan kepada penafsiran pembaca. Rupanya ini yang lalu menjadi ciri khas karya sastra modern. Seperti apa rasanya digantung di akhir cerita? Anda ndak akan menemukan jawabannya secara jelas di novel atau cerpen itu. Semuanya lalu Anda renungkan sendiri, Anda nikmati sendiri gelitikan rasa penasaran itu. Kurang enak opo jal?

Juga dahsyat adalah “Moby Dick” oleh Herman Melville. Tokohnya, Kapten Ahab, digambarkan sebagai kombinasi kegemblungan seorang Don Quixote, King Lear, dan Macbeth. Jadilah dia seorang hero tapi sekaligus juga seorang penjahat.

Di era lebih modern, ada William Faulkner dengan cerpennya “As I Lay Dying”. Ini cerita tentang seorang pria yang harus mengubur jenazah ibunya ke suatu tempat yang sulit dicapai namun tetap harus kesana karena sudah dipesan oleh ibunya semasa hidup dulu. Untuk Anda yang cinta orang tua namun kadang mengalami kegalauan karena kecerewetan mereka di usia senja, kayaknya cerpen ini akan merobek-robek perasaan. Saya membaca uraiannya sekilas saja sudah bergidik. Mungkin akan saya baca nanti saat sudah usia 80 an. Kalau sekarang, saya ndak berani.

Masih ada lagi si Thomas Pynchon dengan cerpennya “The Crying of Lot 49”. Ini kisah tentang seorang tokoh yang mencari Tristero, yaitu . . . . . wis wis, saya stop sampai sini spoilernya. Kalau saya bablaskan ceritanya nanti Anda ndak tergelitik untuk mencari sendiri dan membaca sendiri ya toh? Cari dan baca, kalau sudah dapat pesannya datanglah ke Book Sharing Forum di Ma Chung setiap Selasa sore jam 3.30 di Common Room Perpustakaan. Ini adalah ajang mencurahkan isi buku dan saling berbagi pendapat tentang isi buku. Saya akan tulis ini di posting berikutnya. Untuk saat ini fotonya aja yang saya pajang ya:

Ini dari sesi kemarin sore. Yang sedang mensharingkan bukunya adalah Mbak Prita (duduk di seberang saya) yang sharing tentang “Cacing dan Kotoran Favoritnya”, dan sebelumnya saya sharing tentang buku Sapiens yang juga bisa dibaca di posting ini. Di sebelah kiri sendiri adalah pak Wawan, dosen muda yang menjadi penggagas gerakan literasi ini. Di sebelahnya adalah lakonnya, yang nulis posting ini alias saya sendiri. Lalu di sebelah saya ada Pak Adit yang suka membagikan isi buku tentang budaya Jawa. Yang berbaju biru adalah pak Daniel Ginting, yang baru bergabung sore kemarin dan sudah memberikan komentarnya tentang kegalauan orang Barat. Sebelahnya adalah Mbak Devy, juga anggota baru yang nampaknya akan sharing buku sesi berikutnya. Lalu di sebelahnya ada Mbak Putu yang minat dan jumlah bacaan di gadgetnya cukup mencengangkan. Dua rekan pria di ujung kanan adalah mas Irfan, yang konon rajin ke Toga Mas untuk bisa sharing buku, dan Pak Rokiy yang suka mensharingkan banyak hal mulai dari ahli kimia sampai webtoon. Adapun foto itu diambil oleh pak Jerufael yang sudah rutin datang ke setiap sesi book sharing. Memang tampang kami semua disitu serius, tapi percayalah, itu hanya untuk pencitraan belaka. Yang sebenarnya terjadi adalah sembari sharing, kami bisa ngakak-ngakak dan berkomentar kritis, cerdas, dan kontributif.

Kembali ke hal membaca. Membaca buat apa? Semoga sudah menemukan sedikit jawabannya di posting ini.

Iklan