Yang Unik dari Kita Manusia

Posted on Februari 17, 2018

0


Sebagai makhluk paling berakal budi sekaligus paling “buas” di Bumi ini, kita ternyata menyimpan perilaku sosial yang unik dan kadang menggelikan. Posting berikut ini saya sarikan dari Blinkist, website favorit saya untuk menambah wawasan selain Medium dot kom pada posting sebelumnya:

Illusion of control: Kita merasa lebih nyaman kalau merasa kita memegang kendali atas kehidupan kita. Pejudi melemparkan dadunya lebih keras untuk mendapatkan angka besar, dan lebih pelan untuk mendapatkan angka kecil, padahal tidak ada hubungan antara kerasnya lemparan dengan angka yang keluar. Melempar lebih keras atau lebih pelan adalah ulah kita saja untuk merasa mengontrol keluarnya angka di dadu itu. Tombol penyeberangan di pinggir jalan yang ramai membuat kita merasa lebih nyaman karena begitu menekannya, kita seolah mengendalikan lalu lintas. Padahal yang terjadi ya sama saja: kita tetap harus menunggu sekian belas detik sebelum bisa menyeberang.Ini saya alami sendiri waktu kuliah di New Zealand berpuluh tahun silam.

Social proof: Dalam sebuah pertunjukan, jika ada beberapa orang yang mendadak bertepuk tangan, yang lain ikut bertepuk tangan. Ini diwariskan secara genetik dari nenek moyang kita. Kalau satu lari karena melihat singa datang, yang lain ikut lari. Kalau ndak lari ya mati. Ini membuat kita merasa lebih nyaman kalau mengikuti tingkah laku banyak orang. Ternyata warisan gen dari nenek moyang itu bertahan sampai sekarang. Lihat saja sebagian besar ulah kita; ternyata banyak yang karena meniru orang lain, bukan?

Contrast-effect: orang bertampang cakep akan kelihatan biasa saja kalau disandingkan dengan bintang film yang molek rupawan. Makanya, jangan mengajak teman yang cantik atau ganteng ke pesta karena Anda bakal dicuekin dan teman Anda akan mendapat lebih banyak perhatian. Di dunia bisnis, barang yang ditaruh dengan tulisan “harga asli Rp 2 juta didiskon 50%” akan kelihatan lebih menarik jika disandingkan dengan barang lain yang dari dulu labelnya berbunyi “Rp 2 juta”.

Scarcity: kita cenderung lebih menghargai barang yang sudah langka. Di bisnis, hal ini diterapkan dengan kata-kata “diskon 50% hari ini terakhir” atau “cepatlah mendaftar. Hanya tersisa 2 kursi lagi” dan sejenisnya. Mungkin yang jomblo juga bisa mengiklankan dirinya dengan kalimat “saya adalah limited edition. Dijamin happy kalau memperoleh saya”. Hmmm.

Cerita yang lebih detail akan lebih menarik daripada faktanya sendiri. Kalau ada suatu insiden kecopetan di bis kota, beritanya tentu tidak akan semenarik kisah dari si korban yang siang itu baru mengambil tabungannya untuk menebus obat ibunya yang sedang sakit keras dan terpaksa pulang dengan tangan hampa karena uangnya dicopet. Maka koran yang tidak hanya memberitakan bahwa ada penumpang dicopet tapi juga menceritakan dramatisnya kisah si korban itu cenderung akan lebih banyak meraih pembaca.

Primacy effect: kita terkesan pada apa pun yang datang di awal. Maka awal sebuah acara atau iklan dibuat semenariik mungkin karena hal itulah yang akan terus melekat di benak pemirsa. Nah, sebaliknya ada yang namanya recency effect: kita juga cenderung mengingat apa yang hadir di urutan terakhir.

Paradox of choice: terlalu banyak pilihan akhirnya membuat manusia tidak jadi memilih. Ini kita rasakan di website-website menarik di jaman sekarang. Karena begitu banyaknya judul dan foto yang menarik, akhirnya kita termenung-menung bingung harus memilih yang mana. Pada banyak kasus, kita akhirnya memilih beberapa dan begitu selesai membacanya, kita lupa apa yang kita baca karena saking banyaknya yang harus disimpan di ingatan jangka pendek.

Makanya, kalau sedang menawarkan produk buatan kita, jangan kasih terlalu banyak pilihan. Pajang saja 5 – 6 items dan biarkan pelanggan memilih sendiri. Sebuah studi menunjukkan bahwa toko yang memajang terlalu banyak pilihan akhirnya membuat pelangganya malas memilih karena sudah mumet duluan. Sebaliknya, setelah barang dikurangi sampai tinggal 6 pilihan, mereka pun berbondong-bondong memilih dan membelinya.

Iklan