Tentang Medium dot kom

Posted on Februari 15, 2018

4


Akhir pekan adalah hari literasi buat saya. Itu artinya, sepanjang hari Sabtu dan Minggu saya akan asik di depan laptop untuk membaca atau menulis. Bukankah literasi tidak hanya sebatas membaca, tapi juga menulis? Menulis apa? Ya menulis apa saja yang layak dibaca orang dan syukur kalau bisa memperkaya wawasan mereka atau membuat otak kram karena dikejutkan pada pandangan yang unik, kalau ndak bisa dikatakan radikal, lalu mulai berpikir. Memang penulis itu kerjanya simpel kok: membuat orang berpikir.

Nah, ada satu situs yang saya sedang suka bacanya. Namanya Medium. Ini adalah ajang para penulis dan pemikir menuangkan buah pikirannya. Topiknya pun terentang mulai dari teknologi, bisnis, ekonomi, kewirausahaan, media, dan budaya. Uniknya, setiap postingan disitu bisa mendapatkan tepukan tangan (clap) dari pembacanya yang suka akan bacaan tersebut. Jadi, kalau saya suka satu bacaan, saya akan mengklik ikon bergambar tangan itu sampai beberapa kali, katakanlah 10 kali, yang artinya saya memberi 10 kali tepuk tangan untuk posting itu.

Yang juga istimewa, seperti lazimnya situs jaman sekarang, Medium bisa menyarankan beberapa posting yang relevan dengan apa yang saya baca beberapa hari sebelumnya. Jadi, kalau dua hari yang lalu saya baca tentang psikopat, hari ini di layar kiri bawah akan ada serangkaian judul tentang psikopat. Bukan hanya itu. Ia seolah juga bisa meramalkan saya sedang memau membaca tentang apa. Maka di bawah saran tadi ada beberapa lagi saran posting yang mungkin menarik buat saya. Ini khas situs cerdas yang benar-benar bisa membaca pikiran penggunanya.

Penulis-penulis di Medium sungguh berkaliber besar. Maka tulisannya pun benar-benar membuka mata atau menggugah benak yang sedang pulas dalam comfort zone. Di Medium hari ini, ada yang nulis tentang bagaimana bermeditasi Zen lewat ponsel Android, mengapa Anda tidak kunjung mendapat jodoh, bagaimana caranya bermain Tuhan dengan emosi orang, sampai bagaimana caranya berbicara dengan wanita. Fiyuh! Kadang saya hanya termangu-mangu saja kalau sudah begitu, bingung mana yang mau saya baca duluan karena hampir semuanya menarik.

Saya juga pernah menulis disitu. Ini salah satu tulisan saya .

Tulisan itu mendapat 10 kali tepuk tangan dari mahasiswa Ma Chung. Yah, lumayan sih. Terima kasih ya buat Yoko dan Teofilus Chandra.

Lalu suatu ketika saya tertegun-tegun mendapati tulisan dari dua orang mantan mahasiswi saya. Biyuh, dua wanita muda ini, belum juga 3 tahun lulus dari kelas-kelas saya, sudah bisa menulis sebagus itu. Satunya menulis tentang kehidupan dalam Yesus (saya sungguh ndak mengira bahwa ternyata dia sangat religius), dan satunya lagi tentang topik seputar budaya dan sastra.

Anda suka membaca bacaan selain Kitab Suci dan UUD 45? Nah, Medium dot kom bisa dipertimbangkan. Satu pesan saya: siap-siap sedikit terguncang dengan isinya, tapi itu terguncang yang sehat karena Anda lalu dipaksa untuk berpikir dan keluar dari zona nyaman dan membuka wawasan lebih luas.

Iklan
Ditandai: , ,