Betapa Beruntungnya Bisa Berbicara Lebih dari Satu Bahasa

Posted on Februari 14, 2018

2


Berapa banyak bahasa yang Anda bisa ujarkan? Saya hanya bisa bahasa Jawa, sedikiiit Madura, Indonesia, dan Inggris.

Menurut sebuah artikel yang ditulis oleh seorang ekonom di Medium.com, semakin banyak bahasa yang dikuasai oleh suatu bangsa, semakin bagus kondisi ekonominya. Swiss yang penduduknya bisa 4 bahasa (Jerman, Perancis, Italia dan Romansh), mempunyai GDP yang lebih tinggi daripada Inggris yang kebanyakan hanya bisa berbahasa Inggris. Perusahaan-perusahaan Jerman yang memperkerjakan karyawan multilingual (bisa lebih dari satu bahasa) menambahkan 10 perusahaan asing ke daftar ekspornya. Ini karena kemampuan multilingual itu membuka banyak peluang untuk berdagang dengan negara lain, dan ujung-ujungnya adalah kesempatan melakukan jual beli yang menguntungkan dari segi pertumbuhan ekonomi.

 

Lebih dahsyat lagi, ternyata orang-orang yang multilingual kebanyakan berpenghasilan sedikit lebih tinggi daripada mereka yang hanya bisa satu bahasa. Anda juga ndak perlu sangat lancar berbicara bahasa asing. Cukuplah kalau di berkas-berkas data pribadi Anda dicantumkan bahwa Anda bisa berbahasa Indonesia, Inggris, dan sedikit Mandarin. Ternyata besar kemungkinan orang semacam itu dipandang lebih tekun, lebih berpendidikan, dan lebih pintar. Ya, masuk akal. Untuk bisa menguasai satu atau lebih bahasa asing, kita harus tekun, berotak encer supaya mudah mengingat kata atau pola-pola kalimat dan cara pengucapan, dan juga tidak malu mencobanya dengan penutur asli.

 

Mempelajari lebih dari satu bahasa asing ternyata juga membuat otak mudah dipacu untuk berkonsentrasi dan lambat pikun. Ini akan sangat kentara kalau kegiatan multilingual itu sudah dimulai sejak usia muda, namun jangan khawatir, yang sudah dewasa kayak kita-kita pun ternyata juga masih bisa merasakan keuntungan tersebut.

 

Para ahli menciptakan istilah “diet bahasa yang sehat” yaitu “melakukan komunikasi tulis maupun lisan dalam lebih dari satu bahasa asing.”

 

Yang membanggakan di artikel tersebut adalah data tentang negara yang jumlah bahasanya paling banyak. Indonesia menempati urutan kedua dengan 707 jumlah bahasa. Bangsa kita kaya dengan bahasa. Sayangnya, menurut penelitian terbaru akhir-akhir ini, ternyata ada sekitar belasan bahasa di tanah air ini yang mati setiap tahunnya karena sudah tidak lagi diujarkan. Setelah penutur aslinya meninggal karena usia tua, generasi mudanya sudah tidak lagi menggunakan bahasa tersebut dan matilah bahasa itu.

 

Saya jadi iri akan rekan-rekan dosen dari prodi Bahasa Mandarin. Rata-rata mereka bisa berbahasa Inggris dan Mandarin. Para lao shi impor dari Tiongkok pun juga rata-rata bisa berbahasa Mandarin dan Inggris, dan kalau sudah setahun an di Ma Chung mendadak bisa ngomong dengan bahasa Indonesia juga. Sementara itu, saya dan rekan-rekan dari Prodi Sastra Inggris  ya hanya bisa berbahasa Inggris saja. Ini agak memalukan. Semoga saja para rekan dari prodi Sastra Inggris itu sadar akan hal yang memalukan ini dan mau mencambuk anak-anaknya untuk belajar beberapa bahasa asing.

 

 

 

 

 

 

Iklan
Posted in: akademik, bahasa