Jalan-Jalan ke Hong Kong dan Macau

Posted on Januari 9, 2018

3


Awal tahun 2018, saya sudah tidak lagi memberikan jawaban mengenaskan “ndak kemana-mana” ketika ditanya “liburan ini kemana?”. Awal tahun ini saya dan keluarga berkesempatan jalan-jalan ke Hong Kong dan Macau. Di bulan Januari, cuaca disana masih dingin dan kadang-kadang berangin. Suhu antara 16 sampai 20 derajad Celcius jadi kita lebih baik sedia payung kecil dan mantel bulu angsa untuk menahan dingin.

Rakyat jelata seperti saya patut berterima kasih kepada Air Asia (AA) yang memang bermurah hati menerbangkan setiap orang. Kami naik AA dari Surabaya transit Kuala Lumpur, kemudian dari sana langsung ke Hong Kong  (tiketnya  2.5 juta per orang pp). Pesawat Airbus A320-200 neo nya mendarat dengan sangat mulus di bandara Hong Kong jam 9 malam waktu setempat. Oya, kalau mau ndak ribet dengan bagasi, kita bisa membawa koper kecil yang bisa masuk ke kabin (koper saya 30 cm x 45 cm dengan tebal sekitar 18 cm). Selain itu masih bisa membawa tas jinjing kecil. Selama berat totalnya per orang tidak melebihi 7 kg, kita bisa membawanya ke kabin dan begitu mendarat ndak perlu antri ngambil bagasi.

 

Untuk transportasi darat, terutama bis dan MTR (kereta bawah tanah), kami membeli kartu Octopus di dekat pintu keluar bandara yang menuju ke terminal bis. Kartu diisi dengan pulsa 100 HKD (Hong Kong Dollar), dan kartu itu lalu bisa digunakan untuk naik bis tingkat dengan cara menempelkannya ke layar di dekat sopir.

 

Perjuangan pertama adalah menemukan lokasi guest house yang namanya Tom’s Guest House di daerah Tsim Tsa Tsui (dibaca “Chim Cha Choi”). Alamatnya sih di Nathan Rd, tapi yang kelihatan disitu hanyalah jajaran hotel, toko-toko branded, dan toko-toko eceran. Berjalan menggelandang tak tentu arah, akhirnya saya tertumbuk ke seorang pria India yang langsung menawari saya sebuah guest house. Saya tolak: “Saya dah dapat guest house. Sekarang saya lagi nyari yang namanya Tom’s Guest House”. Tanpa ragu dia menunjuk sebuah komplek pertokoan bertuliskan “Chungking Mansions” (yang modelnya kayak lorong di Gajah Mada Plaza atau Malang Plaza di Malang tu lhooo). Masuk kesana, lha kok isinya wong India melulu. Saya mulai agak ragu, jangan-jangan saya sedang dikadali preman-preman India. Beberapa pria mendekat lagi menawarkan dan saya tolak lagi sambil menanyakan “mana sih Tom’s Guest House?”. Mereka menunjuk saya ke sebuah lorong kecil yang ternyata isinya lift. “Lantai 16,” katanya.

IMG20180104090215

Di depan Chungking Mansions (tertutup bis). Hawa dingin tapi kalau Anda gendut kayak saya (saya 71 kg), pake jaket kayak gitu ya oke lah.

 

 

Lift kecil itu membawa kami dengan sangat pelan ke lantai 16. Ketika akhirnya menemukan Tom sialan itu, saya terkesan kepada pria-pria India tadi. Mereka gigih menawarkan komoditasnya namun jujur mau membantu saya menemukan guest house yang sedang saya cari.

 

Yang namanya Tom’s Guest House ini unik. Kamar-kamarnya kecil-kecil, mungkin hanya 3.5 x 4 meteran, dijejali dengan 2 bed dan satu kamar mandi. Dengan tarif 2 juta rupiah untuk 3 malam, tempat ini memang cocok untuk turis backpacker atau tipe keluarga kecil kelas jelata yang nekad kayak kami ini. Kecilnya ruangan membuat kami harus bergantian bahkan hanya untuk berdiri ganti baju atau ngecas gadget. Makanya kalau mau kesini dengan backpackeran mode, bawalah koper-koper kecil yang di pesawat bisa masuk kabin saja. Kalau nekad bawa yg besar, akhirnya harus rela didamparkan di lorong kayak gambar kanan di bawah ini:

 

Kelebihan tempat ini adalah bersih (walaupun pada pagi hari saya melihat beberapa tikus berkeliaran di pipa-pipa airnya) dan ada dua pantry tempat kita bisa memanaskan makanan di microwave, menyimpan makanan di lemari es, plus air panas dan kopi, creamer, dan gula. Yang lebih menyenangkan, tempat ini terletak di pusat kota yang sangat dekat dengan stasiun MTR dan bahkan dermaga ferry Star Ferry Pier  (bisa dicapai dengan sekitar 15 menit berjalan kaki). Di sekitarnya bertebaran tempat makan, mall, dan taman.

 

Jalan-jalan di Hong Kong kecil. Isinya bis, taksi, dan beberapa mobil pribadi, beberapa di antaranya sangat mewah seperti Porsche dan Ferrari. Tidak ada sepeda motor sama sekali. Ini menyenangkan untuk saya yang tingkat stressnya di Malang ditentukan oleh ratusan ribu sepeda motor di jalan. Tapi mungkin saya masih lebih happy daripada penduduk Hong Kong yang menurut studi terbaru ternyata adalah bangsa yang tergolong  paling tidak happy di dunia. Yah, itu bisa dirasakan kok. Aura muram, ketus, dan cuek itu bisa Anda rasakan ketika pertama kali berada disini. Kalau sudah begini memang tidak salah ungkapan yang selalu saya pikir hanya fantasi: “bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Wanita-wanita Hong Kong tampil nyaris tanpa cacat. Kemulusan kulit dan keindahan matanya memang bagus tapi tidak menarik. Lho kok gitu? Iya, kan sudah saya tulis tadi bahwa jiwanya tidak cerah. Mau wajah semulus dan bodi semolek  apapun kalau dalamnya meranggas ya tetap tidak menarik.

 

Sehari setelah bermalam di Tom, kami ke Ferry Pier. Dari sini naik feri kecil melintasi perairan berombak malu-malu tapi goyangannya kadang membuai juga sih ke suatu area yang namanya Central. Tiket kapal yang dibeli dengan kartu Octopus  hanya 2.2 HKD, dan untuk dek atas 2.7 HKD.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disitu ada Hong Kong Maritime Museum yang salah satu slogannya menarik perhatian saya. Ternyata yang di bawah ini adalah slogan anti perburuan ikan hiu. Maksudnya jelas: kalau kita berhenti membeli (dan mengkonsumsi) sirip ikan hiu, maka perburuan ikan hiu pun juga akan berhenti. Yah, saya memang sudah tidak lagi memakan sup hisit (sup sirip ikan hiu) sejak beberapa tahun yang lalu:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari kedua itu kami isi dengan berjalan-jalan keluar masuk toko obat dan kedai-kedai makan murah meriah. Rata-rata porsinya savage alias gedhee. Di Yoshinoya, dan di kios-kios  panganan Chinese, kami selalu kewalahan menghabiskan porsi yang besar itu:

 

 

 

 

 

 

 

 

Jadi ketika makan berikutnya, kami lebih suka memesan dim sum yang porsinya tidak terlalu buas. Yang di bawah ini adalah sajian dari Imperial Dim Sum di Hotel Venetian:

IMG-20180108-WA0002

 

 

 

O, ya, di bawah  ini gambar warung yang berjualan Smuki, sejenis kue kayak Choco Puff yang kering dan gurih dan berisi lumeran vanilla atau coklat. Ini bukan makanan khas Hong Kong tapi enak sekali:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari berikutnya kami mengunjungi Ngong Ping Village, sebuah lokasi di daerah pegunungan. Lho ndak ke Disneyland tah? Waduuh, itu mah mainan anak keciiil. Si bungsu kami sudah mau 15 tahun, dan kakaknya menjelang 21 tahun. Saya sudah 51 tahun. Mosok reek mau main gajah-gajahan ke Disneyland, mwahahahaha!

 

Ngong Ping Village dicapai dengan Cable Car yang dicapai dengan dua kali naik MRT dari daerah kami di Tsim Tsa Tsui (bacanya “Tsim Cha Choi”). Biayanya per orang pulang pergi ya lumayan sih, 250 ribu Rp. Antrenya luar biasa panjang jadi harap sabar dan siap kuat berdiri selama satu jam lebih. Tiap car berisi 8 orang, dan kami melesat dengan cable  car  selama lebih kurang 20 an menit melintasi perairan dan perbukitan yang berkelindan memikat dengan latar belakang landasan pacu bandara Hong Kong dimana pesawat saling bergantian lepas landas. Sayang sepanjang perjalanan kami di dua negeri ini cuacanya berkabut dan mendung serta hujan rintik jadi ya gitu deh foto-fotonya agak menguarkan aroma kelabu:

Sampai di lokasi,  kami disambut pusat kuliner berbagai rasa mulai dari babi kuah sampai coklat honeymoon. Di kejauhan tampak patung Buddha sedang bersemedi, anggun dan damai. Ketika berfoto disitu pun saya hanya ingin kedamaian di sisa hidup saya yang menurut ramalan sih masih 100 tahun lagi:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah menggasak ramen babi dan coklat, kami lalu naik lebih tinggi. Agak ke atas sedikit, kami menjumpai taman yang luas. Ada beberapa ekor sapi sedang mejeng. Nampaknya mereka jinak jadi saya sempatkan berpose dengan salah satunya walaupun dia kayak ogah :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar di atas adalah arak-arakan ritual yang sempat melintas disitu. Ada sebuah biara yang namanya Po Lin Monastery dan dari situlah ritual ini berasal. Tak jarang kami lihat beberapa penganut Buddha, bahkan orang-orang bule, yang kelihatan diam bermeditasi di tempat sakral itu.

 

Makin ke atas, perjalanan makin menantang karena hanya bisa berjalan kaki. Capek sih tapi percayalah sehat lahir bathin. Suasana makin sepi, dan kabut serta hawa dingin makin menusuk. Sampailah kami di sebuah tempat yang namanya Wisdom Path. Beberapa tonggak cadas menjulang dengan berukiran aksara China. Konon sih itu kata-kata bijak. Sayang seorang turis yang berwajah Chinese hanya menggeleng sambil tersenyum sopan ketika saya tanya artinya apa:

 

IMG20180105150619

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ternyata, si bungsu menyukai suasana disitu. “Tenang, dan sepi” katanya. Oalah, padahal masih segar di ingatan saya betapa dia senang sekali diajak ke Universal Studio di Singapore sekitar 5 tahun yang lalu. Sekarang mah yang kayak gituan ndak menarik minatnya.

 

Tidak jauh dari situ ada puing-puing sebuah Youth Hostel. Apa yang terjadi disitu pastilah buruk. Rumah ditinggal begitu saja dengan kerangka ranjang susun masih tergolek di kamar. Di salah satu jendela bahkan ada boneka gadis yang langsung mengingatkan saya pada horor Anabelle . . . . Nampaknya sesuatu yang mengerikan pernah terjadi disini dan pemiliknya langsung kabur begitu saja.

 

Di hari ketiga kami berkemas keluar dari Tom’s Guest House untuk lanjut ke Macau. Kami berjalan agak jauh ke sebuah gedung yang namanya China Ferry. Dari situ melalui proses imigrasi dan naik ke feri cepat Turbo Jet. Namanya aja Turbo Jet jadi kapal ini langsung tancap membelah air dengan kecepatan sekitar 100 an km/jam. Ongkosnya sekitar Rp 300 ribuan per orang. Lumayan mahal tapi nyucuk lah dengan kenyamanan dan pengalamannya. Interiornya nyaman, persis seperti di kereta api kelas utama:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sejam melintas dengan kapal cepat itu lalu sampailah kami ke Macau. Ini daerah administratif China juga tapi dulunya dijajah Portugis. Jadi jangan heran disini semua papan petunjuknya masih bertuliskan bahasa Portugis dan bahasa Mandarin. Yang menarik adalah tampang para prianya. Ada warna Amerika Latin disitu tapi juga ada jejak Chinesenya. Unik dan ganteng sih kalau menurut saya. Tapi berhubung saya bukan homo maka sekian dulu ajalah komentar tentang pria Macau. Nah, wanitanya bisa dibayangkan cantiknya: campuran antara Chinese dengan Portugis. Apik.

 

Macau adalah negara yang penghasilannya dari judi. Di negeri yang sak ipet itu kami menjumpai jalanan mulus dengan tidak banyak kendaraan lalu lalang. Yang membuat ternganga adalah hotel-hotelnya. Hotelnya sak hohah (gedhee banget), dan diposisikan dalam satu komplek di pusat kotanya. Hotel yang kami tempati berdekatan dengan Hotel Parisien, Venetian, dan JW Marriott. Pada malam hari, setiap hotel itu bermandikan cahaya kuning keemasan, seolah-olah jor-joran menampilkan kemolekannya. Wah ini benar-benar polusi cahaya yang luar biasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di hotel yang kami tempati, Studo City, ada kasino yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang sudah berusia 21 tahun ke atas. Apakah harus kaya raya? Ya endak lah, wong gembel intelek kayak saya aja boleh masuk kok. Di dalamnya ada ratusan mesin judi berupa sebuah console dengan layar, dan beberapa belas meja roulette. Pertama main di salah satu mesin itu langsung masang 10 HKD lalu pencet sana sini nguawur pol wis lha wong ga ngerti cara mainnya dan belum lagi aksaranya yang hanya Mandarin. Mendadak mesin berbunyi ngooing ngoiing ngoing heboh dewe. Lalu crut! Keluar secarik kertas yang isinya tulisan angka 6 HKD. Lho iki piye tho masang 10 dollar metune 6 dollar? Wis embuh lah. Dengan ketawa-ketawa kami meninggalkan mesin judi sialan itu.

 

Salah satu gang di hotel itu entah gimana bisa membuat saya merasa sangat nyaman. Duduk-duduk di bangkunya, memandang orang-orang cuek  lalu lalang berpakaian necis, diiringi lagu-lagu jenis lounge music, house, dan lagu-lagu pop jadul yang pas betul dengan suasananya, membuat saya merasa betah berlama-lama disitu. Padahal di kiri kanan gang lebar dan besar dan tinggi itu berderet toko-toko barang branded yang biasanya membuat saya males. Tapi disini kok enggak ya? So cozy and comfy here.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah tidur semalam di hotel yang tarifnya sekitar 2 juta per malam itu, paginya kami ke Senado Centre, daerah pusat kota yang kemudian akan membawa ke reruntuhan gereja St Paul yang ikonik itu. Disini kalau sudah menginap di hotel kita akan diantar ke beberapa lokasi wisata oleh bis-bis  hotel. Bisnya sendiri banyak, dan datang setiap 15 – 30 menit di terminal di belakang hotel. Jadi tidak heran Grab dan Uber tidak laku disini karena praktis semua kebutuhan transportasi sudah dipenuhi oleh bis-bis hotel-hotel raksasa itu dan taksi.

 

Senado Centre (Largo Do Senado bahasa lokalnya) kemriyek dengan turis yang sedang jalan-jalan, selfie, dan makan-makan. Jajanan lokal disini adalah Portuguese Egg Cake, sejenis pai yang disajikan panas dan lelehan isinya terasa lezat dan hangat di lidah dipadu dengan kepingan rotinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jajanan kedua adalah olahan daging babi beragam bentuk dan rasa. Ada yang bentuknya kayak lembaran seng  kecoklatan sampai yang gulungan. Toko yang menjualnya berderet-deret, dan setiap toko menyediakan sepiring potongan daging babi  dan kue-kue kering yang bisa dimakan gratis sebagai icip-icip. Untuk Anda yang suka jajanan yang  renyah, gurih namun tidak terlalu manis, jajanan disini akan terasa sangat pas.

IMG20180107115314

 

Berjalan berliku-liku sampailah kami ke St Paul’s ruins. Bangunan gereja yang tinggal facadenya itu masih tegak kokoh di puncak bukit landai. Di bawahnya manusia-manusia dari berbagai bangsa kemriyek karepe dewe pada sibuk selfie, wefie, dan entah apa lagi.  Agak sulit mencari spot foto yang pas di tengah keriuhan massa seperti itu. Kami harus dibantu oleh seorang Indonesia yang kebetulan mau berbaik hati memotret kami berempat:

 

 

 

 

 

 

Figur patung  Bunda Maria di bagian puncak reruntuhan itu (lihat gambar di atas) wajahnya agak mengerikan. Mungkin karena dulunya sempat terbakar atau mengalami kekerasan fisik dalam suatu kekacauan.

 

Malam harinya, perjalanan dilanjutkan ke Hotel Venetian yang bertetangga dengan hotel kami. Hotel raksasa itu menampung semacam sungai kecil yang dilintasi oleh gondola. Para turis bisa menaikinya (ongkosnya 180 HKD) lalu dihibur oleh sajian suara prima dari pengemudinya yang nampaknya diimpor langsung dari Italia.

 

Yang menarik di hotel ini, teerutama di salah satu food courtnya, adalah pencahayaan yang sedemikian rupa sehingga suasananya seperti menjelang sore yang cerah. Di langit-langitnya ada gambar langit biru dan beberapa gumpal awan, lalu sinar mataharinya disorotkan lewat lampu-lampu kuning  dari tepi-tepinya. Jadi walaupun di luar hotel dingin, gelap dan hujan, disitu kita bisa merasa sangat cerah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari berikutnya kami kembali ke tanah air langsung dari Macau transit Kuala Lumpur, lalu dari situ ke Surabaya. Liburan yang padat singkat tapi cukup lah untuk refreshing dan sedikit berkontemplasi tentang siapa diri kita sesungguhnya  ketika berada di tengah kerumunan orang-orang dari berbagai bangsa itu.

 

PS: Semua harga disini sedikit lebih murah karena diupayakan oleh istri saya. Di tempat lain bisa lebih mahal. Tertarik memesan tiket pesawat dan tempat2 hiburan? Hubungi saja istri saya di susan_snowwhite@yahoo.com.

 

 

 

 

Iklan
Posted in: humanity, traveling