Nasihat Surga dan Neraka Untuk Generasi Penerus

Posted on Desember 13, 2017

0


Suatu kala menjelang rasa jengah, jenuh, dan gundah melanda karena menunggu kiamat tidak datang jua, seorang tuwek berpesan kepada anak-anak muda di sekelilingnya:

“Nampaknya kiamat tidak jadi datang. Dulu katanya tahun 2012, sampai sekarang kok kita ndak meleduk juga. Sangat mungkin kita ini tertipu hoax. Tapi mumpung kita masih hidup dan kalian semua masih muda, saya ingin memberikan pesan untuk masa depan.”

“Pesan apa, Mbah?” tanya seorang muda.

“Kalian masih muda. Kalian mampu berpikir cerdas, kritis, dan sehat. Jelajahilah alam ini. Pelajari sifat-sifatnya. Catat kekuatan dan dayanya untuk menjadikan Bumi lebih sehat, lebih nyaman, dan lebih aman untuk ditinggali. Pelajari sains. Pelajari bagaimana mendapatkan sumber energi terbarukan selain minyak Bumi. Ambil tenaga dari matahari, angin, air laut, bahkan kalau perlu dari tinja sekalipun.”

“Wah, tapi saya ndak pintar ilmu alam dan matematika,” keluh seseorang.

“Ya ndak masalah. Kamu bisa mendalami ilmu humaniora. Pelajari manusia dan budayanya. Pelajari apa yang mampu menyatukan manusia yang beragam warna kulitnya, kebiasaannya, keyakinannya, perilakunya, dan bagaimana membuat mereka bisa bekerja sama secara produktif. Kembangkan hipotesa sosial budaya, uji, dan munculkan teori-teori baru tentang umat manusia dan  upaya mereka menjadikan dirinya lebih ramah, toleran, santun, asertif tapi terbuka.”

“Dan jangan lupa agama,” celetuk seseorang ketika yang lain sedang manggut-manggut.

Kali ini sang tua agak terdiam. Keningnya agak berkerut.

“Yah, itu bolehlah,” katanya kemudian, agak ragu-ragu. “Agama itu penting supaya–”

“Supaya kita bisa bertindak sesuai perintah Nya dan tidak masuk neraka,” sahut sang anak muda yang tadi menjawab.

 

“Kamu tahu neraka itu apa?” tanya sang tua.

“Tempat orang yang tidak mematuhi perintahNya disiksa selama-lamanya,” jawab sang pemuda.

“O begitu? Itu kamu tahu dari mana? Sudah ada yang pernah kesana dan melihat orang disiksa selamanya?  Kalaupun dia disiksa karena berdosa, proses pengadilannya seperti apa? Bisakah dilihat dan kita nilai bersama-sama?”

 

“Wah, Anda ini jangan bertanya hal-hal seperti itu!” mendadak sang pemuda (seperti halnya orang beragama pada umumnya) naik darah dan berkata dengan sangat marah. “Itu masalah iman! Itu tidak usah ditanyakan! Menanyakan berarti meragukan, dan meragukan berarti dosa!”

 

“Lho, lho sek talah,” sang tua berusaha menenangkan. “Kan kita diberi otak untuk berpikir? Kita diberi kebebasan untuk berpikir? Karena mampu berpikir, sah-sah saja kan kita selalu mempertanyakan banyak hal, termasuk surga dan neraka? Karena pikiran menuntut logika dan bukti, kita hanya akan percaya apa itu surga dan neraka kalau ada bukti yang bisa dilihat, diukur, dibandingkan, dianalisis, lalu disimpulkan. Kan ndak bisa kita menerima sesuatu begitu saja karena “katanya orang”, atau “katanya kitab ini kitab itu–”

 

“Anda tidak bisa mengagungkan prinsip ilmu pengetahuan tanpa moral!” sang pemuda masih saja panas. “Hanya agama yang membuat kita bermoral. Sumber moral itu dari agama, tidak ada yang lain!”

 

Sang tua agak kewalahan, bukan karena kalah tapi karena tidak bisa melayani orang yang sedang sangat marah atas sesuatu yang nir bukti nir logika. Mendadak seorang pemuda lain menyeletuk: “Bro, ajaran moral itu bahkan sudah ada jauh sebelum agama-agama dibuat. Ada Plato, Socrates, Aristoteles, dan banyak lagi filsuf yang menyebarkan ajaran moral. Bahkan Pancasila pun adalah ajaran moral. Kita bisa saja tidak mendalami agama namun dengan konsisten melaksanakan sila-sila dalam Pancasila.”

 

Mendengar ideologi yang sensitif itu disebut-sebut, kumpulan orang muda itu pun menjadi terjengak ibarat monyet kesetrum kawat berlistrik. Lalu hebohlah mereka.

 

Kiamat memang tidak kunjung datang. Namun kelompok muda itu pecah jadi dua. Kelompok yang satu menuruti nasehat sang tua tadi dan mulai belajar sains, humaniora, sastra dan ilmu-ilmu lain yang berdasarkan penalaran kritis dan logis. Mereka bertekun mengamati, mengembangkan model dan solusi berdasarkan hipotesis yang dimunculkan dari pengamatan yang akurat, obyektif, dan terperinci. Kadang ada satu hipotesis yang berjaya tapi kemudian disanggah oleh hipotesis lain yang muncul berdasarkan pengamatan dan pengukuran yang lebih akurat. Apa yang terjadi? Ya sudah, hipotesisnya berganti, gitu aja. Mana yang dipandang lebih akurat dan lebih sesuai nalar, ya itu yang mereka ikuti.

 

Kelompok kedua sangat bertekun dengan agama dan kitab sucinya masing-masing. Semuanya bersumber pada ketakutan akan siksa neraka dan pengimpian surga. Ketakutan itu lalu menjadi senjata yang ampuh untuk menakut-nakuti orang lain yang belum sepaham dengan mereka. Semuanya bersumber pada dogma dan iman yang sudah harus diterima bulat-bulat. Jangankan minta bukti, mempertanyakannya saja sudah mengundang persekusi, hukuman rajam, pengasingan, atau hukuman penggal. Ketika ada beberapa orang yang kemudian muncul dengan dogma dan iman yang berbeda, apa yang terjadi? Ya mereka pun lantas tersinggung berat, lalu menghunus pedang, mengangkat senjata dan bertempur habis-habisan demi iman dan dogma yang diagungkannya.

 

Demikianlah yang terjadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
Ditandai: , ,