Menjadi Katolik dan Lalu Berpikir

Posted on November 24, 2017

2


“Kalau Anda datang ke suatu acara, mengangkat biskuit di pring Anda lalu mengatakan ‘inilah tubuh Elvis Presley’, maka Anda adalah orang gila.

Tapi kalau Anda datang ke suatu ritual, dan seorang pemimpinnya mengangkat remah roti lalu berucap ‘inilah tubuh Yesus”, maka Anda adalah orang Katolik”.

Ujaran di atas diucapkan seorang pemikir bernama Sam Harris. Ujaran itu sungguh menohok. Perut saya langsung mulas mendengarnya. Mulas menahan ketawa dan juga takut dihujat beramai-ramai oleh orang-orang Katolik.

Kolom “agama” di KTP dan kartu keluarga saya isi “Katolik”. Kenapa? Ya supaya bisa diproses sama kecamatan, lalu ditandatangan pejabat yang berwenang dan distempel lah. Kalau ndak saya isi, nanti pasti jadi masalah dan saya ndak bisa punya KTP.

Jadi saya adalah Katolik. Iya, karena dibaptis sejak masih bayi. Jadilah saya Katolik karena itulah yang dipilihkan oleh keluarga saya ketika masih kecil. Ketika sudah besar dan bisa berpikir sendiri, saya mulai mempertanyakan agama pilihan orang tua ini. Lho kok berani? Lha ya berani aja lah, wong saya dikaruniai Tuhan segumpal otak untuk berpikir kritis kok, masa ndak boleh saya gunakan? Karena punya otak, punya pikiran, saya boleh kan berpikir kritis tentang segala hal, termasuk agama Katolik sendiri?

 

Tidak seperti orang Katolik lainnya yang mendasarkan cara pikirnya pada Kitab Suci dan oleh karenanya menjadi takut untuk berpikir dan bertanya, saya tidak segan berpikir menggunakan logika. Logika ini  kadang dipertajam atau dibentuk oleh pengalaman hidup, termasuk diskusi dengan beberapa orang baik yang sepaham maupun tidak dengan saya.

 

Salah satu yang mengusik pikiran saya sejak dulu adalah konsep “dosa asal”. Dikatakan–dan harus dipercaya–bahwa manusia itu sudah berdosa sejak awalnya dan oleh karena itu memerlukan penebusan. Tapi dikatakan pula bahwa Tuhan adalah makhluk yang maha sempurna, dan Dia mengasihi ciptaanNya. Lho, kalau sudah maha sempurna dan mengasihi ciptaanNya, kenapa menciptakan manusia yang sudah amsiong (rusak) dari sononya??

 

Yang juga menimbulkan pertanyaan adalah konsep pengakuan dosa. Pada bulan-bulan tertentu, orang Katolik wajib mengaku semua dosanya di hadapan seorang pastor. Ini yang membuat saya keheranan. Kenapa harus mengaku dosa di hadapan manusia yang juga sama potensinya dalam berbuat dosa? Lho, pastor kan orang suci dan wakil Tuhan? Ah, siapa bilang. Pastor yang pedofil atau homo juga banyak kok. Saya kenal seorang pastor di gereja Katedral yang dulu terkenal “galak” mengawasi umatnya dan ternyata nggelethek aja harus dipecat sebagai pastor setelah ketahuan menghamili seorang mahasiswi dan mennggunakan dana gereja untuk keperluannya. Mau saya sebut namanya???

(Hmm, cewek dilawan. Mana tahan? LOL – Red).

 

Jadi kenapa harus mengaku dosa di hadapan pastor? Ini aneh. Kapan terakhir kali saya mengaku dosa di hadapan seorang pastor? Duluuu, dulu sekali waktu saya masih lugu dan belum bisa berpikir jernih. Saya sudah lama sekali meninggalkan ritual yang aneh itu.

 

Satu lagi yang membuat saya tak habis pikir adalah konsep yang bertentangan antara “Tuhan yang maha kuasa dan maha pengasih”, dan “kalau kamu tidak ke gereja dan menuruti semua perintahNya, kelak ketika sudah mati Tuhan tidak akan mengenalmu”. Iki piyeee?? Katanya maha pengasih, (MAHA  lho booook!) lha kok baper hanya karena saya ndak ke gereja dan malas menuruti “perintah” Nya??

 

Di Galatia pasal 5 ayat 19 – 20 dikatakan bahwa “Kecemburuan adalah dosa”, padahal di  Exodus pasal 34 ayat 14 dikatakan “Tuhanmu adalah Tuhan yang pencemburu”.  Apa ndak pusing kepala sang “murtad” ini memahaminya, hahaha!

 

“Yaah, Kitab Suci mah ga bisa dibaca sekilas begitu saja. Harus ada bimbingannya oleh orang yang tahu dan ahli” demikian kilah orang Katolik. Halah, lah untuk memahami pesan Sang Pencipta yang Maha Kasih itu lha kok ribet banget toh??!! Buku-buku spiritual yang saya baca lho ndak ada yang harus diperantarai “pakar kitab”. Semua menjelaskan kasih Tuhan melalui alam ini dengan bahasa dan ungkapan yang sangat mudah dimengerti oleh orang awam yang tidak buta huruf!

 

Orang Katolik menyembah Yesus. Saya juga. Sekalipun saya sudah lagi bukan Katolik secara iman, saya masih sangat memuji dan memuliakan Yesus. Buat saya, namanya saya sebut dalam waktu-waktu sulit untuk mengingatkan ajaran cinta Nya. Lho, apa boleh menyembah Yesus tanpa melalui gereja Katolik? Lho, kenapa tidak?? Yesus tidak pernah menciptakan agama Katolik bukan?? Dia datang dulu untuk SEMUA manusia, bukan? Jadi kenapa sekarang Anda yang Katolik merasa gerah kalau saya tetap menyembah Yesus tanpa melalui gombal gambul hirarki dan ritual gereja Katolik?

 

Kalau Anda kemudian mengatakan bahwa saya sudah tersesat jauh dengan pikiran saya sendiri dan itu adalah dosa yang akan menuai “siksa neraka” di kemudian hari, maka terbuktilah apa yang saya duga tentang orang beragama: “agama adalah sistem kepercayaan yang dibangun atas dasar rasa takut, diimbuhi dengan sikap menghakimi terhadap orang yang tidak sepaham atau seiman dengannya.”

 

Lha gitu kok mau menikmati surga? Masih hidup aja elu-elu pade udah menciptakan neraka buat diri sendiri  dengan menghakimi orang lain yang berani berpikir, lalu Anda resah dan baper ketika pikiran mereka mengkritisi kepercayaan Anda.

 

Bleh.

 

 

 

Iklan
Posted in: Agama