Throwback ke Masa Ganteng

Posted on September 29, 2017

0


Ini adalah foto saya di tahun 1988. Ternyata saya pernah ganteng juga ya? Yah, kata siapa ganteng? Ya katanya saya sendiri dan minimal ibu saya lah. Bwahaha.

 

 

Tahun 1988. Saya masih 22 tahun. Itu berarti seumuran dengan mahasiswa saya di semester 4. Saya bayangkan ruang waktu 1988 sedikit mengsle lalu saya terlempar ke tengah-tengah mereka di tahun 2017 . “Wah, siapa kamu? Anak baru yah? Cakep juga yah?” “Goblok, aku iki dosenmu!” Bwahaha.

 

Kolega saya pak Adi melihat foto itu di Instagram saya dan langsung komen  bahwa tampang saya  mirip boyband Korea tanpa oplas. Yah cukup mengharukan komentar itu. Kenapa? Ya karena ternyata di mata anak sekarang, tampang kayak saya itu tidak macho dan cenderung homo. Ganteng? Iya sih. Kan ganteng = gelandangan tengik.

 

Tapi saya bukan homo dan juga tidak tengik. Saya ingat betul gambar itu diambil oleh seorang mahasiswa yang menjadi seorang jurnalis kampus. Saya difoto dalam keadaan rapi dan wangi karena berparfum.  Nah, topik di berita itu  agak membuat jengah untuk ukuran jaman sekarang. Ini jaman status cum laude sudah bukan lagi simbol kebanggaan seorang mahasiswa. Kalau dulu lulus cum laude sih bangganya bukan main. Sekarang orang lulus cum laude harus berpura-pura biasa aja karena IPK tinggi jaman 2017 adalah identik dengan kutu buku, nerd, dan geek yang kurang gaul, (kurang dolen kalau istilahnya anak Malang) dan hanya berkutat dengan buku dengan resiko ketrampilan soft skills agak kurang. Apakah segitu parahnya? Ya, kira-kira demikian. Seorang profesor rekan saya di Universitas Atma Jaya menegaskan hal itu: “kalau merekrut orang jangan yang cum laude,” katanya. “Mereka kebanyakan freak, agak aneh, dan kurang bisa berkomunikasi dengan enak.”

 

Saya memang mencapai cita-cita saya di jaman 1988 itu. Saya lulus cum laude, lalu akhirnya menjadi profesor. Apakah saya freak dan aneh? Ya ndak tahu, mungkin juga. You decide. Yang jelas, satu yang saya suka dari hasil wawancara itu adalah dia meramalkan persis apa yang saya lakukan untuk orang banyak hampir 30 tahun kemudian: menulis. Saya menulis kek orang gila. Ya blog, ya twitter, ya naskah di jurnal akademik, ya buku-buku serius, ya cerpen-cerpen gelap, banyak wis. Sebagaimana yang pernah saya utarakan di salah satu posting, saya mendapat kepuasan tersendiri manakala banyak orang yang membaca tulisan saya dan merasa terilhami, tercerahkan atau bahkan tertohok.

 

Saya pandangi lagi foto itu. Yah, saya bersyukur 30 tahun yang lalu setidaknya pernah merasakan gimana rasanya punya rambut di kepala. Bwahaha!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
Posted in: akademik, kampus