Berpisah dan Bertemu

Posted on September 28, 2017

2


“Life is a series of hellos and goodbyes. When it’s time to say goodbyes, let only the best memories remain.”

 

Kalimat pertama adalah penggalan lirik lagunya Billy Joel di era 1980 an. Kalimat kedua adalah bikinan saya sendiri.

 

Dalam hidup, kita pasti menyaksikan orang-orang yang datang ke dalam kehidupan kita, dan juga orang-orang yang meninggalkan kita.  Sebagian di antaranya menjadi bagian hidup kita selama jangka waktu yang panjang, tapi sebagian lagi hanya datang sekilas lalu pergi. Saudara sekandung dan ayah dan ibu kita pastilah berada dalam  kehidupan kita untuk waktu yang sangat lama. Sebaliknya, seorang pengamen yang datang ke meja kita di sebuah warung lalu pergi lagi setelah kita tidak memberinya receh hanya datang sangat singkat. Ada pula yang datang, menetap agak lama, lalu pergi. Perginya mungkin karena meninggal dunia, atau karena memilih jalan yang tidak sama dengan pilihan hidup Anda.

 

Ternyata perjumpaan dan perpisahan tidak sekedar mak nyuk begitu saja. Orang-orang bijaksana yakin bahwa setiap orang yang datang ke dalam kehidupan kita membawa pesan spiritual tertentu. Beberapa jenis orang akan datang terus-menerus kepada kita, sampai kita menyadari pesan apa yang dibawanya, dan sampai akhirnya kita naik kepada kesadaran yang lebih tinggi tersebut. Selama reaksi kita masih sama (kebanyakan emosional atau egois), maka orang-orang sejenis itu akan datang terus menerus ke dalam hidup kita.

 

Yah, mungkin itu sebabnya kenapa kita tidak pernah berhenti didatangi pengamen atau pengemis yang meminta-minta uang. Sekalipun kehadiran mereka sangat singkat, ia tetap membawa pesan bagi kita. Apa pesannya? Ya, jangan pelit-pelit, mungkin. Atau bekerjalah keras supaya tidak jadi seperti mereka. Tidak tahu juga. Pesan yang dalam memerlukan perenungan yang dalam pula dari perjumpaan yang sangat singkat itu.

 

Bagaimana dengan perpisahan? Ternyata perpisahan pun membawa pesan yang kurang lebih sama. Ketika dua pribadi sudah sulit disatukan dan yang terjadi adalah pertempuran dan friksi yang tiada henti-hentinya, alam seolah merestui ketika mereka berpisah.

 

Setelah perpisahan, kedua pribadi yang tadinya  terus berkonflik itu lalu dibukakan kesempatan untuk introspeksi diri. Mungkin aku terlalu egois sehingga maunya dimenangkan terus dan akhirnya membuat dia tidak tahan. Mungkin juga dia tidak melihat masa depan yang pasti di tanganku. Mungkin juga sebagai teman aku tidak enak diajak bicara karena tidak tahu apa-apa.

 

Introspeksi diri adalah satu sarana untuk berubah ke arah kesadaran yang lebih tinggi. Itu bisa dipicu oleh sebuah perpisahan.

 

Ada seorang bapak yang sudah sangat tua. Di kala dia sedang  bersiap-siap untuk menyongsong kematiannya di usia senja itu, mendadak ada sebuah pesan mampir ke inboxnya. Ternyata dari seorang wanita yang pernah menjadi kekasihnya berpuluh tahun yang lalu, dan dia datang untuk sekedar menyapanya.

 

Mengapa sang mantan yang sudah berpuluh tahun lenyap itu mendadak datang kembali mak jegagik dalam hidupnya?

 

Saya tidak tahu kelanjutan cerita itu karena yang bersangkutan tidak mau meneruskannya. Ya, maklum, itu kan hal pribadi. Namun saya yakin perjumpaan kembali itu pasti lah membawa pesan tertentu untuk mereka berdua.

 

 

Iklan
Posted in: goodbye, humanity