Kenapa Males Nikah?

Posted on Agustus 21, 2017

0


Pertanyaan ini bukan untuk Anda kalau Anda dari Asia atau lebih tepatnya dari sebuah ndeso di Asia, atau lebih persisnya di Indonesia. Namun pertanyaan ini bolehlah Anda baca dan cermati juga jawabannya di bawah ini.

 

Semuanya bermula dari rasa keingintahuan saya tentang gejala menuanya populasi di beberapa negara maju, seperti Jepang dan Korea, bahkan Singapore. Ada gejala generasi mudanya malas menikah. Akibatnya pada satu titik tertentu di masa depan generasi tuanya akan lebih banyak daripada generasi mudanya dan itu tidak sehat.

Saya pun bertanya pada forum Quora dot kom.  Quora adalah salah satu situs tanya jawab yang selama ini membantu saya menanyakan banyak hal dan mendapatkan jawaban dari para pakar dan pengamat. Jawabannya diseleksi oleh para moderatornya, jadi yang menjawab sudah pasti tidak sembarang njeplak apalagi mengeluarkan kata-kata kasar.

 

Seorang sarjana dari Amrik menjawab pertanyaan saya itu. Menurutnya, generasi muda Amrik sekarang berbeda jauh dalam hal hutang dengan orang tuanya. Orang tuanya dulu di dekade 1970 an hanya staf sebuah perusahaan kecil, dan toh masih bisa membeli rumah, meyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi, bahkan liburan ke Eropa. Lha dia sekarang, lulus dengan beban hutang (namanya student loan) sebesar 30 ribu USD. Dia harus bekerja dengan gaji yang pantas supaya bisa melunasi hutang itu dalam waktu 5 tahun. Lha sementara itu, rumah dengan harga terjangkau harganya 200 ribu USD. Singkat kata, sulit bagi seorang lulusan kampus dengan hutang student loan untuk bisa menikah, membangun keluarga, dengan penghasilan yang harus terpotong banyak untuk melunasi hutang dan membeli rumah.

 

Jadi generasi sekarang dihadapkan pada pilihan yang sulit: lulus bergelar sarjana dan harus hidup dikerubuti hutang sana sini, atau tidak usah bergelar sarjana namun gajinya pasti  kecil dan itu mana cukup membangun sebuah keluarga yang bisa hidup layak.

 

Nah, itu baru dari segi keuangan. Dari aspek sosial lainnya, ada lagi kendala. Banyak orang muda yang menyaksikan bagaimana orang tuanya cekcok, lalu bercerai, menjadi ortu tunggal, dan harus bangkrut karena tidak bisa membiayai anak-anaknya, bangkrut karena mengurus biaya perceraian segala macam, atau hidup sengsara karena harus bekerja luar biasa keras. Itu membuat mereka trauma terhadap hidup pernikahan, bahkan sebelum mengalaminya sendiri.

 

Maka, terjadilah kecenderungan baru yang agak aneh tapi ya ada mulianya juga. Orang-orang muda ini lalu membentuk jaringan pertemanan dimana mereka bisa menemukan teman atau partner yang cocok dari segi cara pandang dan gaya hidup, lalu mereka saling mendukung satu sama lain. Jadi, mirip seperti sepasang suami istri namun minus ikatan formal yang disebut pernikahan. Namanya pun “life partner”, bukan “suami” atau “istri”. Wah, ini hal baru lho buat saya. Belum pernah saya mendengar penjelasan seperti ini, dan sekarang saya dapatkan dari salah satu pelakunya. Yah, ini semua berkat Quora.

 

Lalu dia menambahkan bahwa banyak orang masih memandang pernikahan sebagai suatu lembaga sakral dalam payung keagamaan. Nah, mereka tidak mau membuat ikatan yang religius itu lalu jadi ajur-ajuran karena ketidakharmonisan, perbedaan gaya hidup dan cara pandang, dan sebagainya. Jadi daripada mencemarkan sesuatu yang direstui agama, lebih baik mereka bersatu dalam ikatan yang erat namun tidak di bawah payung religiusitas agama.

 

Itu masih ditambah dengan alasan yang lagi-lagi berujung pada duit: biaya pernikahan bisa mencapai sekitar 30 rebu USD. Itu gila, katanya. Ndak mungkin seorang lulusan yang masih panas dari oven kampus bisa membiayai itu semua, plus nyicil untuk beli rumah dan masih harus melunasi student loannya.

 

Jadi begitulah sekelumit alasan mengapa ada kecenderungan malas menikah di kalangan orang yang sebenarnya sudah matang untuk menikah.

 

Tapi itu bisa membuat kita yang di Asia terheran-heran, ya to? Di Asia, orang ya nggak sampai segitu njlimetnya dalam menghitung beban finansial keuangan setelah menikah. Buat mereka, berlaku pameo : “setiap anak yang lahir akan membawa kantung rejekinya sendiri, jadi tidak usah kawatir akan kelaparan. Kalau burung-burung di udara aja dikasih makan sama Tuhan, masa kita yang manusia nggak dipelihara sama Tuhan? Ayo wis, nikah, kalau ndak sekarang, kapan lagi? Harus nekad!”

 

Mungkin inilah bedanya bangsa Asia ndeso tapi percaya benar kepada Tuhan dan mereka di Barat yang serba rasional. Akibatnya, bangsa kita beranak pinak melebihi kecebong di kolam-kolam, uakeh sak arat-arat! Yah, akhirnya sebagian harus rela nggitar di perempatan jalan karena ortunya ndak sanggup lagi membiayai pendidikannya.

 

Yah, sebenarnya dulu pun saya masih tergolong ndeso dalam hal pernikahan. Saya menikah karena sudah kepingin. Perkara uang, anak, beban finansial segala macam wis dipikir ntik aja, pasti ada jalan. Begitulah. Modal dengkul (dan sedikit di atas dengkul), hanya bermodal tampang dan kerjaan sebagai guru, saya nekad nikah. Gila aja kan. Tapi ya buktinya saya sekarang ndak sampai mbambung to?

 

 

Hmm, tapi bicara soal pesta pernikahan, kayaknya makin banyak orang muda yang berprinsip efisien dan ekonomis dalam pesta pernikahannya. Saya tahu beberapa mantan mahasiswa menikah bukan karena diundang, tapi karena ngelihat fotonya di Instagram. Pestanya terkesan sederhana kok, cukup anggun dan sakral, namun tidak mengesankan bermewah-mewah seperti pesta pernikahan 15 – 20 tahun yang lalu. Mungkin juga tindakan hitung-hitungan ekonomis sudah merasuki mereka dan sedang membuat kecenderungan baru di kalangan orang muda. Mungkin juga setelah membaca tulisan ini atau bahkan sebelumnya, mulai banyak yang berpikir “yang penting adalah mencari life partner, bukan suami atau istri.”

 

 

 

 

 

 

Iklan
Posted in: humanity, Pernikahan, sex