Marketing Jitu Konon sih tapi Markimak

Posted on Agustus 15, 2017

2


“Markimak” adalah singkatan dari “mari kita simak”. Ini singkatan versi saya sendiri yang mulai males mengatakan ungkapan-ungkapan panjang yang sudah sering diujarkan. Jadi daripada panjang-panjang saya singkat aja. Ok? Markimak.

 

Posting kali ini membahas tentang cara memasarkan suatu produk. Orang lugu seperti saya kalau disuruh memasarkan atau mengiklankan sebuah produk maka akan berdiri di tepi jalan lalu menyebar-nyebarkan brosur kepada orang yang lalu lalang, atau menggelar tikar di tikungan pasar dan mulai bercuap-cuap mengiklankan ramuan obat atau apapun yang sedang saya coba jual. Itu cara orang lugu. Orang pinter seperti Malcom Gladwell yang menulis buku “The Tipping Point” punya cara yang jauh lebih canggih.

 

Menurutnya, dalam masyarakat ada orang yang disebut Connector. Orang macam ini adalah orang gaul yang punya banyak kenalan dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat tinggi, ilmuwan, guru,  preman sampai mbok-mbok di pasar. Umumnya orangnya suka berbicara, periang, sangat ekstrovert, dan temannya banyak. Kalau kita mengarahkan kampanye iklan kepada orang semacam ini, memberinya diskon istimewa, memberi insentif lainnya yang cukup besar, atau menjadikannya sebagai anggota klub eksklusif yang kita dirikan, dia akan dengan sendirinya mempromosikan produk atau servis kita itu ke orang-orang lain yang menjadi jejaring sosialnya. Mungkin motivasinya ingin pamer, atau sekedar berbagi pengalaman, tapi apapun itu, dia sudah menjadi seorang pemasar yang baik untuk produk yang kita jual.

 

Tipe kedua disebut Gladwell sebagai Maven. Orang bertipe Maven tidak mempunyai jejaring sosial sebanyak sang Connector. Mungkin kenalan dan teman-temannya sebatas kelompok profesinya saja, atau bahkan anak buahnya saja di perusahaannya. Namun, sang Maven punya kharisma dan pengaruh yang cukup disegani dan dihormati di jejaring sosialnya tersebut.  Ketika kita membuatnya yakin atas kualitas dan keunggulan produk atau layanan kita, maka dia tidak segan akan mengabarkannya ke jejaring sosialnya yang terbatas itu. Karena dia adalah orang yang berpengaruh dan dipercaya, maka omongannya cenderung didengarkan dan diikuti oleh kenalan-kenalannya tersebut. Nah, jadilah produk kita tadi menancap ke dalam benak mereka.

 

Memasarkan melalui para Connector akan membuat produk kita tersebar dengan cepat dalam skala yang luas, sementara dengan tipe Maven walaupun tidak secepat itu tapi juga cukup efektif. Tentunya akan dahsyat kalau keduanya dikombinasikan dalam strategi marketing yang jitu.

 

Jadi, perlu kiranya kita-kita ini mempelajari karakteristik kepribadian para pelanggan setia atau jejaring sosial perusahaan/lembaga kita.  Jika kita temukan ada dua tipe itu di antara mereka, kita bisa “menumpang anginnya”  untuk melajukan bahtera usaha kita.

 

Satu lagi teknik– atau tepatnya taktik–yang diulas oleh Gladwell adalah bahwa sebuah produk harus melekat dulu sebelum bisa menyebar. “A brand has to stick first before it can spread” katanya. Lho gimana caranya? “Tweak it a little!”

 

“Tweak” itu artinya pelintirlah sedikit. Sebuah merek di Amerika dengan sengaja memelintir tata bahasanya di slogannya: “Use this brand like your parents used to“. Kata “like” disitu sebenarnya kurang tepat secara tata bahasa, namun justru sedikit plintiran itu yang membuatnya diperhatikan orang banyak dan akhirnya terjual cukup laris. Tahu kan slogannya sebuah resto cepat saji “I’m Lovin It”. Ini juga saya curiga adalah hasil plintiran. Dalam tata bahasa Inggris,  adalah salah besar menggunakan kata “love” dengan kata kerja berakhiran -ing. Toh produk yang aslinya dari Amrik ini nekad menggunakannya. Lhah, dengan pelintiran begitu, akhirnya merek makanan cepat saji itu lalu nempel di benaknya orang-orang, dan selanjutnya menyebar, dan sukseslah si restoran itu mempromosikan panganannya.

 

Jadi, ada banyak cara untuk menggaet perhatian calon konsumen. Malcom Gladwell memaparkannya dengan bagus lewat buku yang saya baca di Blinkist pagi ini: “The Tipping Point”.

 

Nah, lalu pertanyaannya kan gini: “Lha kalau semua produsen menggunakan taktik yang sama, dengan Connector, Maven, dan tweak segala macam, kan ujung2nya tetap aja ada persaingan keras antara mereka? Gimana cara kita memenangkan persaingan itu?”

 

Lha, sampai disini kita harus gunakan taktik yang hanya bisa dilakukan oleh orang Indonesia, yaitu taktik “I”. I adalah “Insya Allah”. Barang sudah bagus, layanan sudah bagus, tapi pesaing juga banyak, so mari kita gunakan semua taktik itu plus Insya Allah laris!

 

*) Kalau kita perhatikan, judul posting di atas adalah hasil pelintiran juga. Kan itu kayak kalimat ndak selesai atau ancur, tapi justru karena itu elo-elo pade pada membaca posting ini kan? Wakakaka! 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
Posted in: bisnis, humanity