Passive Aggressive

Posted on Agustus 13, 2017

0


Kalau sudah tahu apa itu passive aggressive ya syukur. Artinya Anda rajin membaca dan rajin gosok gigi. Kalau belum tahu, ya ini lah penjelasan yang saya pahami tentang apa itu passive aggressive.

 

Dalam berinteraksi dengan orang lain, terutama pimpinan dengan bawahan atau guru dengan murid atau orang tua dengan anak, ada hubungan yang tidak simetris dalam hal perintah. Pimpinan, guru, atau orang tua bisa memerintahkan anak buah, murid, atau anak untuk melakukan sesuatu, tapi tidak sebaliknya. Nah, ketika menerima perintah itu, orang yang agresif dan vokal bisa langsung bereaksi. Misalnya dengan mengatakan: “whaatt?? Masa saya disuruh begitu?? Ndak, ndak mau saya! Suruh yang lain saja!”.

 

Oang yang passive aggressive tidak akan bereaksi frontal seperti itu. Kebanyakan mereka akan diam saja. Sekilas nampak patuh dan nerima. Namun tunggu dulu.

 

Beberapa waktu setelah perintah itu diberikan, sang pemimpin merasa heran lalu mulai sebal terhadap kelakuan anak buah yang dipimpinnya. Mereka nampak berkali-kali datang terlambat ke rapat, atau menyerahkan tugas dengan penuh kesalahan disana sini, atau bahkan baru mengerjakannya ketika deadline sudah tinggal 5 menit. Ketika ditegur, mereka cenderung menyalahkan pihak lain. “Jalannya macet parah tadi,” “Komputer saya memang lemot,” “Ini gara-gara cleaning servicenya lupa membersihkan kamar mandi jadi saya kehilangan mood tadi,” dan sebagainya dan sebagainya.

 

Orang yang passive aggressive sebenarnya sedang merasa sangat marah, namun tidak punya keberanian atau sungkan mengungkapkannya dengan lebih terbuka. Namun tentu saja mereka membutuhkan saluran untuk melampiaskan kemarahan itu. Maka  jadilah sikap yang sekilas patuh namun diam-diam memberontak itu.

 

Saya kira, kita pernah melakukannya dalam beberapa kesempatan. Masuk akal. Di budaya Asia yang sangat mementingkan keharmonisan di permukaan, hal itu sangat lumrah. Kita cenderung menampilkan keharmonisan semu yang dibungkus dengan senyum dan tutur kata yang cenderung halus. Di dalam hati? Bisa berbeda sekali.

 

Sebagai seorang yang diberi nasib memimpin beberapa unit, saya biasanya mulai waspada kalau ada perilaku anak buah yang cenderung berulang yang menunjukkan passive aggressive. Kalau datang terlambat rapat hanya satu kali, mungkin ya memang ada halangan. Namun kalau terlambatnya sampai 15 menit dan berulang kali, dapat dipastikan bahwa mereka ini sedang membara di dalam entah karena kecewa, marah, atau merasa malas di bawah komando saya namun tidak berani mengungkapkannya dengan lebih terbuka.

 

Ini juga berlaku dalam hubungan antara sepasang kekasih. Perilaku passive aggressive bisa berwujud tidak memulai percakapan seperti biasanya, atau bahkan tidak membalas percakapan. Memang yang lalu nampak adalah dua orang yang sekilas tenang tidak bertengkar kata-kata, namun hati mereka sedang “simmering”, istilah Inggrisnya. Simmering itu kata yang maknanya adalah memendam kemarahan yang makin lama makin parah sehingga akhirnya meledak.

 

Bagaimana mengatasi perilaku passive aggressive?  Wah, itu lumayan sulit, kata seorang ahli psikologi yang tulisannya saya baca di e-book. Diperlukan upaya menciptakan jalur komunikasi yang baru yang membuat kedua belah pihak merasa nyaman. Diperlukan juga seorang pemimpin yang saraf sungkannya sudah mati dan dus bisa dengan blak-blakan mengungkapkan kecurigaannya terhadap perilaku passive aggressive.

 

 

 

 

Iklan
Posted in: humanity