Berubah Sikit Sikit lah: Catatan tentang Fashion

Posted on Agustus 12, 2017

0


Anda suka fashion?

Sekalipun Anda mungkin bukan penyuka atau bahkan penggila fashion, tentunya Anda tahu bahwa fashion mengalami perubahan dari jaman ke jaman. Dari jaman tahun 1950 an dulu sampai millenium kedua di abad posmo ini, sudah banyak kita melihat bagaimana gaya pakaian mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

 

Artikel yang saya baca di Blinkist pagi ini mengatakan suatu gejala yang menarik. Ternyata, perubahan fashion itu mengikuti pola tertentu. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa perubahan dari satu gaya ke gaya lainnya ternyata tidak drastis. Gaya yang baru selalu masih mengandung sedikit elemen dari gaya yang lama, sebelum lalu makin lama makin berevolusi menjauhi gaya yang lama tersebut. Model rok mini wanita yang populer di era 1960 an, misalnya, tidak langsung berubah drastis menjadi long dress semata kaki hanya dalam waktu dua tiga bulan. Gaya rok itu berubah menjadi sedikiit lebih panjang.  Ketika dilihat sekilas, kesan mininya masih ada, namun lama kelamaan lalu menjadi makin panjang, makin panjang, sampai akhirnya terbentuklah gaya long dress yang makin populer.

 

Itu juga berlaku untuk penamaan anak. Ketika di Amerika nama “Jessica” sedang menjadi tren, ada beberapa orang yang mungkin kurang suka nama itu lalu memutuskan untuk mengganti sedikit nama anaknya. Jadilah “Jesse”. Masih ada unsur “Jessica” nya kan? Jadilah nama Jesse itu pelan-pelan lalu menjadi tren tersendiri.

 

Jadi, kalau sekarang nama yang sedang ngetren adalah Vania (di kampus saya saja ada belasan kalau ndak puluhan mahasiswi yang bernama Vania), maka kalau ingin menciptakan tren nama baru, ya jangan memberi nama anak Anda “Paitun”, misalnya. Kenapa? Ya karena nama Paitun berubah terlalu radikal dari nama Vania. Sebagai gantinya, buatlah nama yang masih sedikit mengandung unsur “Vania”, misalnya “Vinnie”. Manis kan? Ndak kalah feminin dari Vania, dan yang jelas potensial bisa menciptakan tren baru.

 

Satu hal lagi: tren fashion bisa berubah dalam waktu relatif singkat kalau ada kaum dari kelas sosial lebih tinggi (orang kaya, selebritis, atau politikus terkemuka) yang memakainya. Istilah marketingnya: “mengendorse sebuah produk.” Contohnya, celana jeans dulu berkonotasi dengan pekerja kelas rendahan di pelabuhan. Lalu mendadak ada bintang film sekelas James Dean yang memakainya. Tahu aja betapa dahsyatnya kharisma seorang James Dean saat itu.  Maka orang-orang dari kelas sosial lebih tinggi pun lantas ikut-ikutan memakainya. Jeans tidak lagi berkonotasi kelas buruh, namun naik kelas menjadi penciri kelas sosial di atasnya, plus sedikit citra pemberontak, agak liar, tapi cool dan sexy. Begitulah, jeans naik kelas setelah diendorse oleh James Dean.

 

Maka terbayang sekarang presiden Jokowi yang gemar memakai sepatu sneakers dan bahkan t-shirt bahkan di kala beliau sedang bekerja meninjau banyak pelosok. Nanti bisa-bisa sneakers Converse dan t-shirt makin sering kelihatan dipakai oleh banyak pejabat, lalu kelas-kelas di bawahnya, misalnya kayak dosen-dosen kayak saya ini lalu lantas ikut-ikutan memakainya. Dulu Pak Ahok kan juga sudah melakukan pemicuan tren itu  dengan baju kotak-kotak hitam dan merah itu juga kan?

 

Nah, tidak semua selebriti ternyata mau mengendorse sebuah produk. Kalau produk itu dia pandang tidak mewakili citra dirinya, maka jangan harap dia akan mengendorse sebuah produk. Dia takut kalau citranya akan menjadi tercemar oleh produk itu. Nah, contohnya saya sendiri nih. Beberapa minggu yang lalu saya ditawari untuk mengendorse produk motor 150 cc dengan imbalan ratusan juta. Setelah saya lihat, ternyata motor itu banyak digunakan para begal jalanan dan perampok Indomaret untuk beraksi menjalankan kejahatannya. Ya, sudah tentu saya tolak, karena akan hancurlah citra saya sebagai seorang dosen guru besar kalau mengendorse sebuah produk kendaraan yang lekat dengan citra garong. *).

 

In juga mengimplikasikan bahwa relatif mudah untuk menghancurkan citra mulia dari seorang selebriti atau tokoh masyarakat. Kembali ke contoh pak Ahok. Kalau saya berniat jahat, saya akan membeli banyak sekali baju kotak-kotak lalu saya bagikan ke para preman jalanan dan saya suruh mereka beraksi setelah saya beri minuman keras.  Karena mabuk, maka aksinya pun serampangan dan mudah tertangkap polisi. Nah, beritanya masuk TV kan. Jutaan pemirsa memandang bandit-bandit itu digelandang ke kantor polisi dengan baju kotak-kotak khas pak Ahok dulu ketika menjadi gubernur DKI. Hancurlah sudah citra pak Ahok karena citranya sebagai seorang pejabat mulia langsung turun menjadi secitra dengan gerombolan bandit kelas teri.

 

 

Begitulah. Fashion dan perubahannya ternyata mempunyai pola tersendiri. Tinggal kita saja yang kalau jeli mencermatinya bisa menggunakannya untuk berbagai kepentingan, baik yang bermanfaat maupun yang jahat.

 

*) Produk motor itu bermerek Ajib Ajib. Pernah dengar? Endak kan? Ya mesti aja, wong itu hanya khayalan saya. Bwahahaha!

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan
Ditandai: , ,
Posted in: humanity