Menunggu

Posted on Agustus 8, 2017

0


 

Menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Bukan hanya itu, menunggu  juga bisa sangat menyebalkan (misalnya menunggu jawaban chat dari seorang teman ), dan kalau keterlaluan, bisa memicu penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.

 

Rasanya yang diatas itu sudah ungkapan klise. Semua juga sudah tahu kalau menunggu itu menyebalkan. Waiting sucks, kata orang keminggris. Nah, yang berikut ini adalah uraian yang pada ujungnya pasti akan membuat Anda semua mau berlatih menunggu.

 

Apa yang membedakan pembalap, pebulutangkis, pesepak bola, dan petenis kelas dunia dengan yang bukan jawara? Kalau diperhatikan, keduanya sama-sama cepat: menikung dengan cepat, mensmash dengan cepat, menerkam bola dengan cepat, mengayunkan raket dengan cepat. Tapi yang satunya jawara, kok satunya biasa-biasa aja?

 

Jawabannya agak di luar dugaan: para jawara itu ternyata mampu menunggu. Memang hitungannya seperseribu detik lebih lambat, tapi dengan menunggu, mereka bisa mendapatkan momentum yang sangat pas sehingga mobil balapnya tidak melintir, bolanya tidak nyangkut di net atau malah keluar lapangan, dan gocekan bola di lapangan bisa membuat lawan keponthal-ponthal (lihat gaya Lionel Messi mendribble bola).

 

Salah seorang ahli pendidikan, maaf saya lupa namanya, mengatakan begini: “Kecerdasan adalah perihal mampu mengetahui kapan harus bergerak cepat, dan kapan harus bergerak lambat.”

 

Di beberapa kelas yang saya ajar dan juga pernah menjadi murid, saya amati mereka yang dianggap pintar atau bahkan bijaksana tidak selalu yang senantiasa menjawab paling cepat atau berpendapat paling cepat. Kebanyakan mereka diam pada awalnya, membiarkan teman-temannya yang lebih impulsif merebut giliran dengan menjawab cepat atau berpendapat cepat. Lalu, setelah pembahasan dan bahkan debat agak mereda, keluarlah mereka ini dengan jawaban atau pendapatnya yang membuat semua orang terhenyak: ” Oh, iya ya? Kenapa tadi aku ndak mikir kesitu?”

 

Jadi, kalau Anda tergolong orang yang cepat menjawab atau bertindak tanpa berpikir panjang, itu namanya impulsif. Kalau Anda lebih sabar menunggu dan membaca situasi sebelum bertindak, itu namanya reflektif. Filsuf cenderung reflektif, dan pengusaha cenderung impulsif. Namun, beberapa pengusaha besar ternyata adalah orang-orang yang sabar menunggu namun juga tahu kapan harus menerkam.

 

Jadi, menunggu memang tidak senantiasa menyebalkan. Sebaliknya, itu justru menjadi pertanda kecerdasan. Dalam ungkapan yang saya kutip di bawah ini (dari Eckhart Tolle), menunggu juga merupakan pertanda kekurangmatangan spiritual:

 

“By waiting for the next moment, you dont want the present moment. When you dont want something, you resist it, and because you resist, you suffer.”

 

Hanya manusia yang sudah sekelas Buddha atau kaum tercerahkan lain yang bisa melakukannya dengan sempurna. Saya sendiri hanya bisa mengutipnya namun untuk mempraktekkannya? Halaaah, suliiit. Wong kejebak macet lima menit saja saya sudah berkeluh kesah panjang lebar. Maunya ingin segera berlalu dari keruwetan itu.

 

Begitulah. Jadi inti dari pesan-pesan baik di atas adalah menunggulah  dengan taktis, dan jangan lah menunggu karena yang ada  bukanlah masa depan tapi masa kini dan disini.

Iklan
Ditandai: