Meninggal dengan Hormat

Posted on Agustus 6, 2017

0


Sebagai makhluk mortal, kita semua pasti akan mati. Setidaknya, tubuh, otak, ego, dan pribadi kita akan berakhir pada satu titik yang disebut kematian. Sejauh ini pula, sebagaimana layaknya di banyak negara di dunia, sudah lazim lah untuk mengawetkan jenazah supaya bisa tahan beberapa lama sebelum membusuk, lalu menguburkan jenazah itu di dalam tanah, umumnya lengkap dengan peti jenazahnya.

Menurut hitung-hitungan para pakar sosiologis dan kesehatan, di Amerika saja logam yang digunakan sebagai bagian dari peti jenazah bisa digunakan untuk membuat jembatan sebesar Golden Gate. Kayunya bisa digunakan untuk membangun ribuan rumah sederhana untuk kaum marjinal, dan cairan formalin pengawet jenazah bisa digunakan untuk mengisi puluhan kolam renang!

Betapa borosnya ya?

Maka pilihan kedua adalah kremasi. Jenazah dibakar sampai tinggal abu di dalam proses kremasi. Ya, ini cara yang lebih sederhana, dan juga lebih murah. Tapi sadarkah kita bahwa hasil pembakaran itu malah akan menjadi zat-zat perusak lapisan ozon? Asapnya memicu polusi.  Studi di Eropa menunjukkan bahwa gas karbon monoksida hasil kremasi bisa mencapai 1600 an pounds per tahun. Yang lebih menyedihkan: proses pembakaran itu melenyapkan semua potensi yang sebenarnya masih ada di dalam tubuh yang sudah tidak bernyawa itu. Jadi, celaka betul kita yang sudah mati itu: sudah mati,  ndak berguna bagi lingkungan, masih mengotori Bumi pula!

Maka muncullah gagasan lebih mulia yang namanya recomposting. Proses recomposting tidak mengawetkan jenazah dengan cairan formalin, dan juga tidak menaruh jenazah dalam peti kayu kokoh. Jenazah cukup dibungkus dengan kain sederhana, lalu dikubur di dalam tanah.

Maka apa yang terjadi dengan jenazah itu? Siksa kubur? Haduuh, hari gini masih percaya aja yang kayak gituan. Bukan, bukan siksa kubur. Yang terjadi lebih dahsyat lagi: tubuh itu akan membengkak, karena semua cairan dan lemak yang ada di dalamnya diubah oleh bakteri menjadi gas. Setelah mengeluarkan cairan, tubuh pun mengempis. Cairan berleleran di sekitarnya. Pada hari-hari pertama, cairan itu sangat beracun. Namun lama kelamaan, cairan itu menyatu dengan tanah di sekelilingnya dan membuatnya menjadi lebih . . . . subur!

Bakteri, mikroba, lalat mayat dan banyak lagi hewan berukuran super kecil memangsa isi kepala, keluar masuk rongga mata dan hidung yang sudah cumplung (=menganga), dan secara keseluruhan mengubah tubuh tanpa nyawa itu menjadi zat-zat hara yang menyatu dengan tanah di sekitarnya, menjadikannya makin subur. Tanah itu lalu menjadi tempat yang nyaman untuk berbagai tumbuhan tumbuh di atasnya. Pada gilirannya, tumbuhan itu lalu dimakan oleh hewan, entah itu kumbang yang menghisap madu, atau sapi, kambing, kuda, dan kerbau yang menyantap rumput. Pada gilirannya, hewan-hewan tadi menjadi konsumsi manusia, sebagian juga dikonsumsi ibu-ibu hamil, yang lalu memberikan energi untuk janin yang sedang dikandungnya. Sang bayi lahir, alhamdullilah sehat, dan muncullah benih kehidupan baru di dunia ini.

 

Begitulah, Anda percaya sekarang bahwa sejatinya kita tidak pernah mati? Jenazah kita yang sekilas membusuk tadi lalu melahirkan kehidupan baru. Sebab memang demikianlah adanya sumber energi yang berada di balik hidup yang fana ini: abadi, tidak pernah mati.

Maka kita pun yang sudah menjadi almarhum atau almarhumah lalu bisa berbahagia di alam sana: kematian kita telah didaur ulang menjadi kehidupan yang baru!

*Tulisan ini disarikan dari ceramah Katrina Spade di TED Talk, dan dari wawancara Larry King dengan ahli kosmologi terkenal berkulit hitam, Neil deGrassse Tyson.

Keduanya berbicara dengan sangat memukau, terutama Neil Tyson. Kalau sempat, Anda bisa mencarinya di Youtube. Pakar fisika ini berbicara dengan sangat elok, sekilas juga terasa lucu dan komikal, namun kalau Anda peka, Anda bisa benar-benar tersentuh mendengar uraiannya. Bagaimana dia bisa menguraikan tentang kematian dengan sangat elegan, masuk akal, dan benar-benar membuat kita semua ingin mati dengan hormat. Superb!

Iklan
Posted in: Agama, humanity