Membaca itu Asik: Blinkist dan Gengnya

Posted on Agustus 4, 2017

0


Banyak kegiatan yang menyenangkan yang bisa kita lakukan dalam hidup ini. Bepergian ke daerah baru, makan-makan, hang out di mall, bermain game, tidur, dan masih banyak lagi. Namun satu kegiatan yang sebenarnya sama asiknya yang makin jarang ditulis dalam daftar “kegiatan favorit” manusia modern adalah membaca. Seperti saya katakan, membaca itu asik. Apalagi di jaman dunia sudah menyusut menjadi seukuran gawai (gadget) di tangan kita ini.

Gawai Android kita menawarkan beberapa apps yang membuat kita nyaman sekali membaca berbagai gagasan yang mencerahkan dan membuka wawasan. Satu yang menjadi favorit saya adalah Moon Reader. Apps ini bisa diunduh gratis dari Google Play Store. Setelah terpasang, maka kita bisa membaca berbagai bacaan mulai dari yang klasik macam “Alice in Wonderland” yang ditulis pada abad ke 19, sampai buku dengan ambisi edan macam “How To Create a Mind” karya Ray Kurzweil (kenapa edan, ya nanti saya tulis di posting yang lain).

Kenyamanan ini makin diperenak (= dibuat jadi lebih enak) karena Moon Reader bisa mengaitkan dengan fasilitas kamus online yang bernama ColorDict. Kamus ini pun bisa diunduh gratis dari Play Store. Nah, ketika kedua apps itu sudah berkelindan, setiap kali kita menemui kata bahasa Inggris yang sulit, kita tinggal menekan kata itu dan muncullah tautan ke kamus yang langsung memberitahu maknanya. Kalau kita terkesan dengan beberapa kalimat di sebuah buku online, kita bisa menggerakkan jari kita untuk menghighlight baris-baris itu. Saya sering melakukannya untuk mencamkan hal-hal berkesan itu di benak saya. Kadang-kadang sedemikian bagusnya sehingga ungkapan itu pun saya kutip sebagai Tweet atau status Facebook saya.

Satu lagi apps yang asik gila adalah Blinkist. Saya temukan iklannya di Facebook dan langsung saya install. Yah, masih yang gratis untuk 30 hari, setelah itu ya mbayar 49 dollar per tahun. Tapi pada yang versi gratisan pun, Blinkist memberikan pencerah wawasan yang sungguh asik untuk orang-orang cupet wawasan dan cupu macam saya dan . . . . Anda-Anda juga tho? Hahaha! Blinkist ini didesain khusus untuk manusia yang sibuk tapi tetap ingin mendapatkan pengetahuan baru. Maka slogannya terasa pas: “A smarter you in 15 minutes”. Cukup dengan meluangkan waktu 15 – 30 menit setiap hari, kita bisa mendapatkan informasi baru yang meluaskan cara pandang kita.

Blinkist memberikan ringkasan dari tulisan-tulisan bestselling oleh berbagai intelektual dan para pemikir lainnya. Sebut saja Richard Branson yang menulis “How I Lost My Virginity”, Adam Grant dengan topik kreativitas, Vishen Lakhiani yang mendirikan Mindvalley, David Schwarz, beberapa penggiat lingkungan hidup dan pola hidup sehat, dan masih banyak yang lain. Tulisan ringkasan itu dikemas dengan sedemikian rupa sehingga padat, tidak terlalu panjang (sekitar 6-8 halaman layar gawai kita) namun tetap mencerahkan. Yang lebih istimewa, ada fasilitas suaranya sehingga kalau kita lelah membaca, kita bisa mendengarkan fasilitas audio itu membacakan seluruh isinya dalam bahasa Inggris yang superb!

Jadi setiap bangun pagi, sarapan pertama saya adalah menghirup kopi panas sambil menikmati sajian Blinkist. Pagi ini saya membaca tentang dampak fast food, mengapa wanita sulit jadi boss, dan bagaimana cara kita mengelola waktu.

Apps lain yang juga menyajikan akses ke bacaan-bacaan bermutu adalah Aldiko, Lithium, Kobo, dan tentu saja Kindle dari Amazon. Semua itu bisa diunduh secara gratis, namun materi bacaannya tentu saja harus kita dapatkan dengan membayar. Cara mereka mengiming-iming kita untuk membayar juga menarik (kalau nggak bisa disebut “keramahan yang licik”). Saya membaca bukunya “God’s Delusion” karya atheis terkenal Richard Dawkins. Di layar tertulis bahwa buku itu berharga sekian ratus dollar, namun ternyata masih bisa saya baca dengan nyaman tanpa membayar. Makin ke dalam, makin seru dan panas. Begitu rasa penasaran saya makin menggila dan hampir mencapai puncak, halaman berikutnya kosong, dan hanya ada tulisan “Ok, kamu boleh melanjutkan membaca tapi bayarlah dulu. Hargailah penulis yang sudah susah payah menuliskan gagasannya.” Haduuh, saya pun hanya mampu tertawa kecut dan langsung lungkrah. Ya gini ini penyakit orang negara berkembang, maunya cepet pinter tapi serba gratis. Ha. ha. ha. Hu.hu.hu.

Lepas dari semua itu, melalui posting saya ini saya ingin membagikan keasikan yang bisa kita dapatkan secara relatif murah di gawai-gawai kita. Ayolaah, masa gawai hanya untuk chatting, selfie, dan menonton video klip saja? (Survey kecil saya di kampus menunjukkan bahwa 70 persen responden menggunakan gawainya untuk chatting, lalu sisanya menonton film, memotret, dan beberapa yang lain. Membaca? Nol). Sekali lagi, membaca itu asik kok. Wawasan kita bisa bertambah luas, kita bisa menjadi makin bijaksana karena mengetahui banyak nilai-nilai kebajikan, dan pikiran kita menjadi makin tajam karena terbiasa memproses untaian gagasan tertulis yang panjang dan saling berkelindan.

Iklan
Posted in: akademik, humanity