Apps Andalan untuk yang Hobi Membaca

Posted on Juli 30, 2017

0


Suatu ketika, ada seorang pria agak aneh datang ke tempat cuci mobil. Pria ini agak aneh untuk ukuran bangsa Indonesia karena sementara orang lain di sekitarnya sibuk menenggelamkan diri di gadgetnya masing-masing, dia malah duduk-duduk saja sambil memandang sekitar. Setelah beberapa menit, dia sadar bahwa keinginannya untuk sekedar bertegur sapa dengan manusia lain harus dibuangnya jauh-jauh karena hari gini mana ada orang mau ngomong-ngomong ketika menunggu mobilnya dicuci? Semua pada sibuk bergadget. Lalu dia mengeluarkan sebuah buku dari tasnya dan mulai asyik membaca.

Maka jadilah dia orang yang sungguh aneh di ruang tunggu itu. Membaca buku? Hari gini membaca buku???

Karena tidak tahan, karyawan tempat cuci mobil yang kebetulan sedang ndak ada tugas mendekatinya dan bertanya: “kok Bapak baca buku? Baca apa pak?”

“Iya, ya daripada nganggur,” kata pria itu. “Ini saya sedang baca kebudayaan Tiongkok dan Korea dalam berdagang.”

 

“Wah, suka membaca ya,, pak?”

“Iya, membaca itu melatih otak karena kita dipaksa untuk terus mengikuti alur teksnya, kadang-kadang dipaksa berpikir kritis, dan yang jelas menambah wawasan. Belum lagi tambahan kata-kata baru. Tanpa sadar, semakin saya banyak membaca, semakin kaya saya dengan kata-kata, dan bahkan saya pun bisa menulis cerpen atau pengetahuan populer setelah banyak membaca.”

 

“Wah, asik juga ya,” kata si karyawan. “Bapak punya banyak buku di rumah? Selemari penuh ya?”

“Ah, ndak juga. Buku saya sedikit. Di rumah hanya ada setengah rak.”

“Lho, tadi katanya suka membaca.”

“Iya, tapi bukunya saya simpan disini,” pria itu menunjukkan gadgetnya, sebuah tablet Samsung berukuran sebesar catatan harian. “Saya punya setidaknya tiga apps disini untuk membaca. Ini, namanya Aldiko, satunya lagi Lithium, dan satunya lagi Moon Reader.”

“Wah, keren!” kata si karyawan. “Emang bisa ya pak membaca lewat gadget? Bukunya dari mana?”

 

“Ya dari Google Playstore. Nih, saya kasih lihat. Di Google PlayStore ada icon yang bertuliskan “Movies, Books, Newstand”. Kalau kita klik itu, nanti akan ada icon lagi yang namanya “Books”. Dari situ, kita bisa milih mau buku yang gratisan, yaitu di icon “Top Free” atau “Public Domain”, atau mau yang mbayar di icon “Top Selling” dan “New Release”. Begitu diklik, muncul banyak judul yang bisa kita pilih setelah membaca ringkasannya.”

Dia memeragakan apa yang diucapkannya dan sesaat kemudian dia sudah membalik-balik dengan usapan jarinya di layar sebuah novel horor elektronik berjudul “The Vegetarian”.

“Lha kok Bapak membacanya ndak dari gadget aja, Pak? Kok memilih membaca buku beneran, eh, maksudku, yang bukan elektronik?”

 

“Ya, soalnya saya hobi berat membaca. Di gadget ada tiga buku yang sedang saya baca, berganti-ganti. Tapi membaca di layar itu kurang sehat buat mata karena kontrasnya rendah. Makanya saya selingi membaca buku beneran karena di media cetak biasa kontrasnya lebih tajam sehingga mata tidak sengsara.”

 

“Iya, sih, Pak, kalau kelamaan membaca di layar gadget bisa sakit matanya.”

 

“Iya, makanya ada latihan mata yang namanya 20 – 20: setelah 20 menit menatap layar gadget, berhenti sejenak selama 20 detik memandang obyek yang jauhnya setidaknya 20 kaki dari kita. Mata dikejap-kejapkan 10 kali dalam 20 detik, supaya lensa mata tidak kering. Lalu, boleh meneruskan menatap layar lagi.”

 

“Oh gitu ya, pak?” si karyawan manggut-manggut.

“Ngomong-ngomong, Mas nya punya hape juga kan? Bisa ngakses Google Play Store untuk membaca buku juga kan?”

 

” Ya, punya lah pak,” si karyawan menjawab. “Tapi saya ndak tahu kalau ada untuk buku itu. Saya mah lebih suka nyari games, pak, hahaha. Lebih asik!”

 

“Sudah kuduga,” batin si pria itu, yang sebenarnya tak lain adalah saya sendiri.

 

 

 

 

 

Iklan