Apakah Anak Bingung Kalau Diajari Dua Bahasa?

Posted on Juli 22, 2017

0


Posting kali ini diilhami oleh mantan mahasiswa yang sudah menjadi sepasang suami istri dengan satu anak usia sekitar 18 bulan. Mereka datang mengunjungi mantan mentornya di kantor, dan salah satu cerita yang kemudian memicu saya untuk menulis posting ini adalah: “anak kami ndak kami masukkan ke sekolah yang menggunakan bahasa Inggris. Kami tunggu dulu sampai bahasa Indonesianya mantap, baru dia bisa masuk ke sekolah yang berbahasa Inggris”. Cerita itu lalu disusul dengan pertanyaan: “bener begitu ya, Pak?”

Waktu itu saya menjawab bahwa sebenranya kecemasan itu tidak perlu terlalu besar. “Kan bahasa Indonesia yang kalian gunakan di rumah berbeda dengan bahasa Inggris di sekolah? Fungsi-fungsi komunikatifnya juga banyak berbeda. Di sekolah kebanyakan adalah referential (menyatakan sesuatu), conative (menyuruh), dan metalingual (membicarakan tentang makna kata), sedangkan di rumah semua fungsi itu masih ditambah dengan emotif (melampiaskan perasaan). Itupun dengan frekuensi yang jauh berbeda. Plus atmosfer situasinya juga pasti berbeda. Di sekolah lebih formal, di rumah lebih santai.”

Jadi singkatnya jawaban saya adalah: tidak mengapa, masukkan saja anak kalian ke kelas yang sebagian besar berbahasa Inggris. Ini karena pada manusia ada yang namanya usia emas untuk belajar bahasa, yaitu antara sejak lahir sampai sekitar akil balik (14-16 tahun). Pada masa ini, yang namanya bahasa itu bisa diserap lebih cepat oleh otak mereka. Sikap dan pola emosi mereka yang spontan, tidak malu-malu, banyak bicara, juga kebanyakan mendukung belajar bahasa.

Setelah sampai di rumah, saya baca lagi literatur tentang pengajaran dua bahasa untuk anak ini. Ternyata, dulu memang para ahli berpendapat bahwa mengajarkan 2 bahasa pada anak-anak akan membuat mereka bingung dan akibatnya mereka akan mencampur adukkan kedua bahasa itu. Namun, teori terbaru menyangkal hal ini, dan mengatakan bahwa anak-anak mempunyai kemampuan istimewa dan keluwesan luar biasa untuk bisa memisahkan kedua bahasa tersebut. Mereka bisa mengetahui secara naluriah bahwa ada bahasa yang dominan (bahasa yang lebih sering digunakan oleh orang-orang rumahnya untuk berbagai fungsi komunikatif) dan bahasa yang sampingan. Jadi, tidak usah khawatir mereka akan mencampuradukkan keduanya.

Kasus-kasus nyata yang saya dengar sendiri ihwal pengajaran dua bahasa ini disebabkan karena semuanya melanggar prinsip yang saya jelaskan di atas tadi:

1. Sepasang suami istri mengeluh karena anak lelakinya yang sudah berumur 18 tahun dan dibesarkan di Amerika (karena mereka berdua studi lanjut disana) tidak bisa berbahasa Indonesia ketika sudah kembali ke Indonesia. Lha ya mesti wae, kan bahasa Inggrisnya sudah menjadi sangat dominan disana dan otomatis dia sudah menyerapnya sebagai bahasa pertamanya. Ketika sudah kembali ke Indonesia, mengapa ndak bisa berbahasa Indonesia? Lha ya mesti wae wong usianya sudah 18 tahun, dus sudah melampaui masa emas 1 – 14 tahun tadi. Pelajaran bahasa Indonesia buat dia menjadi lebih sulit karena otak dan corak kepribadiannya sudah kaku, tidak selentur ketika dia masih kecil.

2. Beberapa keluarga di kota besar yang dari kalangan sangat kaya mempunyai anak-anak remaja yang hanya bisa berbahasa Indonesia sepatah dua patah saja. Sisanya adalah bahasa Inggris. Selidik punya selidik, ternyata keluarganya memang sudah sejak mereka masih kecil menggunakan bahasa Inggris di rumah. Bahasa Indonesia hanya digunakan kepada sopir dan babu-babunya. Jelas, di mata anak-anak itu, bahasa Inggris lebih dominan baik dari segi frekuensi maupun status sosial. Tidak heran mereka tidak menguasai bahasa negerinya sendiri.

Jadi,kalau Anda masih lajang atau pasangan muda yang baru punya anak, jangan ragu untuk membelajarkan anakmu di kelas yang berbahasa Inggris. Tapi pastikan bahwa di rumah dia mendapat pajanan yang cukup ke bahasa Indonesia (atau bahasa daerah yang digunakan orang tuanya). Percayalah pada usia emas itu, 1 – 14 tahun. Percayalah, nanti anakmu itu akan mempunyai kecakapan dua bahasa yang akan membuat kamu berdecak kagum. Wis talah, percaya aja,  karena saya sudah mengalaminya kok 🙂

Iklan
Posted in: bahasa, pendidikan