Wanita Memang Sudah Tidak Menarik Lagi?

Posted on Juli 17, 2017

0


Ini sudah bukan lagi jaman edan. Jaman edan tuh tahun 1980 an ketika para penyair dan pemimpin ramai-ramai menggumamkannya. Lah sekarang ini adalah jaman post-edan atau pasca-edan, ha ha ha!

Lepas dari edan atau pasca-edan, di jaman ini ada beberapa gejala menarik yang cukup membuat heran. Mungkin semuanya itu hanya guyon. Tapi bukankah guyon sebenarnya mengandung isi hati sangat jujur dari yang melontarkannya? Ingat, hanya anak kecil dan pelawak yang berkata jujur, lainnya adalah basa-basi atau hipokrisi. Biyuh!

Gejala ini saya lihat dari sebuah meme yang isinya cukup membuat tersenyum geli: “Kenapa harus ada cewek? Bukankah sudah ada online games?” Meme itu disertai gambar seorang bocah lelaki usia ABG yang termangu heran di depan laptopnya.

Rupanya untuk remaja pria ABG, dunia online games sudah begitu menariknya sehingga lawan jenisnya yang umumnya mulai mekar di usia-usia itu lewat begitu saja dari perhatiannya. Si bungsu saya sendiri pernah mengatakannya dengan terus terang ketika ditanya kedua orang tuanya mengapa dia belum mulai naksir cewek. Jawabannya singkat saja: “cewek tidak menarik”. Lantas dia kembali sibuk dan asyik lagi ke mainan onlinenya yang makin lama makin mendekati gambaran dunia nyata itu. Saya pun terngungu-ngungu. Dulu ketika saya seusia dia (kelas 1 – 2 SMP), hormon testosterone yang mulai menggelegak bak lava sudah cukup membuat saya naksir teman sekelas dan tunggang langgang mengejar cewek. Sekarang sudah berubah. Sejak negara api online games menyerang, young boys will never be the same again . . .

Hal kedua yang sempat mampir ke pengamatan saya adalah satu pertanyaan di forum Quora. Seorang wanita Barat melontarkan pertanyaan mengapa jaman sekarang kaum pria berasa tidak agresif mengejar wanita. Jawaban seorang pria (juga dari negara yang sama di Barat) cukup menohok: “karena ulah kaum feminis, semua yang kami lakukan akan dicap pelecehan terhadap wanita. Memandang dianggap melecehkan, memanggil dianggap mengundang secara tidak sopan, menyentuh sedikit aja dianggap mau memperkosa. Selama kaummu yang berkoar-koar soal feminisme itu tidak kamu suruh tutup mulut, kami para pria juga mulai ogah melakukan pendekatan ke wanita.”

Hmm, masa iya sih sampe segitunya? Kayaknya yang bertanya maupun yang menjawab sama-sama sensinya nih. Tapi mengingat jawaban si pria itu mendapat upvote sampai banyak sekali menandakan bahwa gejala itu mungkin terasa makin kuat di Barat sana.

Hal ketiga diungkapkan sendiri oleh seorang rekan yang sudah bercerai dengan istrinya. Tanpa diminta dia menceritakan mengapa mereka bercerai: “ketika pertama kali bertemu dengannya, dia masih wanita yang polos dan alim. Setelah menikah beberapa tahun denganku, sifatnya berubah. Dia jadi lebih mementingkan materi, dan cara pandangnya menjadi sangat materialistik, khas wanita-wanita mandiri di negeri ku.”

Oh wow. . . .

Hal keempat yang paling membuat saya makin terngungu-ngungu adalah berita di sebuah harian beberapa minggu yang lalu: ada seorang pria Jepang (sudah menikah dan punya anak) yang membeli sebuah boneka wanita untuk dipeliharanya sebagai pasangan hidup. Alasan dia, sejak menikah dan punya anak, istrinya menjadi dingin dan sibuk dengan urusan anak. Tidak ada lagi gelora mendebarkan yang dulu membuat hubungan mereka sehangat dan semenggairahkan bom nuklir meletus. Karuan saja sang istri marah-marah ketika boneka itu dibawanya pulang, tapi si pria tidak perduli. Boneka tersebut (yang memang luar biasa mirip dengan seorang wanita) dirawatnya dengan telaten, diberinya pakaian, dikasih make-up. “Aku mencintainya,” kata si pria. “Dia telaten dan mau sabar mendengarkanku. Kelak kalau aku mati aku ingin boneka ini tetap menemaniku di liang kubur.” Ah, sudahlah, makin didengarkan ocehannya makin kita bergidik-gidik saking absurdnya. Tapi ini nyata! Ini kisah nyata yang sekilas pasti terasa sangat aneh namun mungkin menjadi penanda bahwa dunia memang sudah berubah menjadi pasca-edan.

Lalu yang terakhir adalah gejala para pria mulai lebih menyukai sesama pria. INi masih ditambah dengan sebuah berita yang cukup kredibel yang saya baca kemarin: “Generasi Millenial lebih tertarik pada karir dan pendidikan, bukan pada pernikahan dan berketurunan”.

Mengapa beberapa pria mulai kehilangan gairahnya terhadap lawan jenisnya? Mengapa mereka terkesan ogah untuk menggeluti, menggauli, dan meremukkan si “lawan” ini seperti yang dulu nenek moyangnya lakukan?

Mungkin wanita jaman sekarang memang menampilkan wajah yang makin lama makin palsu dengan make-up yang luar biasa menawan?

Atau mungkin wanita jaman sekarang menjadi terlalu pintar dan mandiri sehingga tidak ada ruang buat si pria untuk menjadi pelindung, pemberi hikmat dan kebijaksanaan (plus nikmat juga sih), atau tempat berlabuh untuk hati yang sesak?

Atau mungkin para prianya yang makin kecil nyalinya dan makin ogah untuk bekerja keras sehingga perkataan wanita tentang “hidup layak sandang pangan tercukupi” didengarnya sebagai ungkapan materalistis yang rakus harta?

Atau wanita jaman sekarang justru bego semua karena wawasannya hanya sebatas medsos dan hang out di kafe-kafe sehingga tidak nyambung ketika diajak bicara oleh pria tentang dunia dan segala isinya?

Jaman pasca edan. Sing ora edan mung isa nggumun . . . .

Iklan
Posted in: humanity