Mengapa Orang Indonesia Paling Malas Jalan Kaki

Posted on Juli 16, 2017

2


Hari ini jaringan XL yang saya langgani untuk wifi sedang sakit parah. Semua socmed laris seperti Facebook dan Twitter mampus sama sekali. Karena blog saya bukan termasuk yang laris, maka masih bisa diakses. Daripada menghabiskan waktu merutuki jaringan yang sedang semaput itu, lebih baik saya menulis posting.

Ini masalah berjalan kaki. Sebuah studi dari Stanford di Amrik baru-baru ini merilis hasil penelitiannya tentang kebiasaan berjalan kaki dari berbagai bangsa dunia. Dengan menggunakan hampir 98 juta data, mereka sampai pada kesimpulan bahwa bangsa Tiongkok adalah yang yang tertinggi di dunia dalam hal berjalan kaki. Orang Tiongkok berjalan sebanyak 6000 an langkah perharinya. Di urutan terhina yaitu paling bawah sendiri adalah bangsa Indonesia. Orang Indonesia berjalan hanya 3000 an langkah perharinya.

Maka saya postingkan temuan ini di Facebook saya. Intinya, saya heran kenapa kita orang Indonesia malas sekali berjalan kaki.

Ternyata komen-komen dari beberapa orang di status saya itu cukup memberikan alasan yang masuk akal.

Pertama, di Indonesia, sarana untuk berjalan kaki di kota sangat belum memadai. Trotoar yang ada sangat sempit, dan itupun kadang penuh dengan parkir sepeda motor, pedagang kaki lima, tiang listrik. Di kota-kota besar lebih gila lagi. Trotoar menjadi jalan pintas para pesepeda motor yang ingin menerobos kemacetan. Maka kebiadaban pun terjadi: pesepda motor yang jelas-jelas melindas hak pejalan kaki itu malah marah-marah ketika diingatkan untuk tidak menggunakan trotoar.

Coba sebutkan mana daerah di kota-kota Indonesia yang enak untuk berjalan kaki. Nyaris ndak ada. Di Malang sendiri, nyaris nol! Jalan Ijen sudah mulai agak lumayan, tapi lainnya masih menyedihkan. Ketika berjalan kaki, kita harus mepet kiri di aspal, dan itu sangat tidak nyaman karena lalu lintas berlalu lalang di sebelah kanan kita. Di Surabaya sudah lebih lumayan. Ketika menginap di Marriott kapan hari itu, saya masih bisa merasakan enaknya berjalan kaki di trotoarnya yang rupanya sudah jauh diperlebar.

Bandingkan dengan berjalan kaki di Singapore. Trotoar di Orchard Rd itu luas sekali, wenak pol buat jalan kaki. Di Jepang dan Korea, sama nyamannya juga. Bahkan di Phnom Penh, Cambodia, saya masih bisa merasakan santainya berjalan di trotoarnya yang luas dan bersih. Saya benci harus membandingkan negara sendiri dengan negara lain, dan lebih benci lagi ketika harus mengakui bahwa banyak hal di negara lain yang jauh lebih baik daripada di negeri sendiri!

Alasan kedua yang dikemukakan adalah gengsi. Orang kita rupanya malu kalau kelihatan jalan kaki sementara yang lain naik mobil. Kalau kelihatan kita berjalan kaki, rekan yang melintas naik mobil akan bertanya : “kok jalan? Ayo nunut mobil saya.” Tidak pernah ada orang yang naik mobil itu lalu memarkir mobilnya dan ikut-ikutan jalan. Endak pernah ada yang kayak gitu.

Masih ada alasan ketiga: takut keringeten dan bertambah hitam. Yah, memang udara tropis yang lembab dan panas di negeri ini kurang mendukung semangat untuk berjalan kaki. Akan konyol juga kalau seorang direktur berjalan kaki dari apartmennya ke kantor melewati jalan-jalan yang panas dan tiba di kantor dalam keadaan bersimbah peluh. Buat para wanita Indonesia yang memang senantiasa mendambakan kulit putih, berjalan kaki di bawah terik matahari pastilah tidak akan pernah terpikirkan sebagai suatu hal yang rutin dilakukan demi kesehatan.

Satu hal yang mungkin luput diamati oleh peneliti Stanford di atas adalah kebiasaan orang desa di Indonesia. Masuk akal, karena datanya memang dari pergerakan gawai yang kebanyakan dimiliki oleh orang kota. Di desa, saya yakin masih banyak penduduknya yang lebih suka berjalan kaki, walaupun mungkin karena memang itu pilihan satu-satunya.

Berjalan kaki itu menyehatkan. Kalau kita berjalan jauh, memang akan terasa capek setelahnya. Tapi beberapa lama setelah itu, entah bagaimana kita bisa merasa lebih bugar dan sakit-sakit pegel yang khas melanda orang kota seperti kita bisa berkurang.

Iklan
Posted in: humanity