Wanita dan Alis Editannya

Posted on Juli 12, 2017

0


Ternyata bukan hanya makalah atau naskah berita yang harus dan bisa diedit. Makin banyak wanita yang melebarkan makna “edit” itu ke ranah kosmetik dan penampilan.

Kata orang, wanita itu hidup di sangkar emas pria. Lugasnya, cara berpikirnya banyak sekali ditentukan oleh selera pria. Ini termasuk cara pandang wanita terhadap tubuh dan wajahnya sendiri. Banyak pembentukan dan pencitraan bagian wajah dan tubuh wanita yang kalau dirunut-runut pastilah ketemu pria sebagai biang keladinya. Entah siapa yang memulai, pria atau wanita, tapi yang jelas bagian wajah yang disebut alis makin banyak mengalami editan sehingga dalam beberapa tahun terakhir ini muncul istilah yang buat saya lumayan mengerikan: “sulam alis”, dan “menggambar alis”.

Sebuah penelitian psikologi yang hasilnya ditayangkan TV National Geographic menunjukkan bahwa sepasang alis adalah penanda kuat seraut wajah. Kita boleh hanya melihat sepasang mata (lengkap dengan alisnya) dari seseorang, dan bisa dengan relatif tepat menebak siapa orang itu. Namun, ketika sepasang alisnya dihilangkan, mendadak sulit sekali bagi kita untuk menebak siapa itu.

Sekalipun letaknya di posisi yang kurang strategis, sepasang alis ternyata mampu memberikan seraut wajah ciri khasnya; bahkan kombinasinya dengan wajah memberikan daya tarik sangat kuat untuk lawan jenisnya. Kita tertarik kepada seseorang lawan jenis karena menyimpan wajahnya secara lengkap, plus alisnya tentunya, yang bisa hadir dalam berbagai bentuk. Ada yang melengkung bagus, ada yang agak tipis, ada yang tebal, ada yang ujungnya nyaris bertaut. Apapun itu, ketika sepasang alis hadir secara alami menaungi sepasang mata, daya tarik yang khas dan alamiah itu terpancar sangat kuat.

Namun celaka! Sejak negara sulam alis menyerang, cita rasa alamiah dari sepasang alis yang pasrah itu hancur lebur berujung pada kebingungan dan kekecewaan.

Saya tidak tahu para wanita itu dapat ide dari mana bahwa penampilannya akan lebih mempesona dan mencengangkan ketika alisnya dibentuk menjadi lebih melengkung dan tebal. Mereka mungkin tidak tahu bahwa yang memberi wajahnya daya tarik adalah totalitas elemen-elemennya yang melebur menjadi satu dan menciptakan pesona itu. Tidak bisa ada satu elemen yang kemudian dirombak sedemikian rupa supaya kelihatan lebih bagus, lalu ditempelkan mak plek begitu saja di wajah aslinya. Jadinya sungguh aneh, terkesan nguawur, gak nyeni blas, palsu, destruktif, dan secara keseluruhan mengerikan. Wajah itu satu totalitas, bukan kayak motor Honda yang spionnya atau lampunya bisa dipreteli satu persatu diganti dengan yang lebih keliatan garang.

Keheranan dan kekecewaan saya memuncak ketika mendapati salah seorang mantan mahasiswi yang dulu saya sukai wajahnya karena terkesan eksotis dan agak mistis itu (untungnya dia tidak ikut casting The Ring). Beberapa hari yang lalu saya dapati fotonya dengan alis berubah sama sekali dari aslinya. “Whad da fuck have you done with your eyebrows?!”

“Saya gambar, pak, biar kelihatan segar”.

“Kamu jadi kelihatan lebih judes, kayak pemain sinetron yang aktingnya marah-marah melulu di ANTV itu, yaoloh!”

Memang, karena alis sulaman atau hasil gambaran cenderung lebih tebal dan melengkung indah tapi tidak sejiwa dengan wajah asli wanita, maka secara keseluruhan wajah baru yang muncul adalah tidak alami, terkesan judes dan galak. Alis itu jadi lebih indah, iya, karena lengkungannya sempurna dan tebalnya juga baik, namun itu tetap tidak selaras dengan wajahmu yang Tuhan dulu buat dari sananya, dodol!

Kasihan para wanita, makin jaman ndak makin smart cara pikirnya. Ini pasti kesalahan pria yang memang sangat manipulatif itu. Catatan: saya tidak termasuk lho di antara para pria itu. Kalau termasuk, masa saya nulis posting beginian?

Iklan
Posted in: humanity