Kuliner Surabaya vs Kuliner Malang

Posted on Juli 12, 2017

2


“Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota  . . ”

 

Cuma kali ini tidak naik delman tapi naik kereta Jayabaya dari Malang ke Surabaya. Karena termasuk kereta cepat, perjalanan ke Surabaya hanya 1.5 jam saja. Selanjutnya keretanya bablas terus ke Pasar Senen Jakarta sementara saya dan tim turun di Stasiun Gubeng.

 

Jauh-jauh dari Malang ke Surabaya hanya untuk lihat kayak apa sih yang namanya Ascott Waterplace itu. Google sih bilangnya “serviced apartment”. Lho, lak berarti apartemen yang sedang diservis? Lha lapo mlaku-mlaku nang apartemen rusak sedang diservis? Ngawur ae. Masiyo elek-elek gini saya ya tahu bedanya “under repair” sama “serviced”.

 

Apartemen itu letaknya persis di depan Pakuwon Trade Center (PTC) di Surabaya Barat. Nah, PTC itu kalau dimasuki lalu bablas terus ke jerohannya akan sampai ke Pakuwon Mall.  Enak sekali tinggal disini, ke mall tinggal jalan kaki nyebrang jalan.

 

Saya tidak akan membahas mallnya karena mall dimana-mana adalah spot paling membosankan di dunia karena ya sama aja. Coba kowe masuk Mall Dinoyo, Mall TP, dan mall di Korea sana, kan sama aja pemandangannya. Kali ini saya hanya heran kenapa makanan di Surabaya bisa berbeda dengan panganan di Malang?

 

Pertama kami mencoba nasi rawon di salah satu kedai di Food Courtnya mall tersebut. Suapan pertama saja langsung meruntuhkan jiwa. Bukan, bukan runtuh karena terkesan tapi karena ndak enak blas. Mungkin  semacam air kobokan (= air cuci tangan) yang dikasih garam sedikit dan daging sapi dan sedikit kluwek tipis-tipis lalu disuguhkan.

 

“Cobalah Bakso Sapi  A **ng,” saran seorang teman lewat WA nya. Ternyata seporsi bakso itu juga tidak membuat kami bergairah. Rasanya ya bukannya ndak enak, tapi ya biasa aja kayak  . . .  kayak apa ya,  . . .  ya pokoknya ndak enak, hahaha!

 

Penasaran, saya mencoba Bakmi Ge-Em yang konon adalah bakmi terlezat di tanah buaya dan hiu ini. Setelah memesan satu porsi  Bakmie Ayam yang disajikan luar biasa cepat, saya ibarat balon yang mau mengembang lalu kempes lagi. Ternyata apa yang dibilang bakmi dahsyat itu ya melempem di lidah saya kayak mercon banting habis kecemplung air bah.

 

Maka bertanya-tanyalah kami keheranan mengapa di Malang bisa menikmati sajian bakso Cak Man, bakso Jalan Salatiga, Bakso Gundul, Rawon Djamiah di Batu, dan Mie GadjahMada di Pasar Besar yang sangat memuaskan selera itu, kok  di Surabaya yang jaraknya hanya 100 km dari Malang makanan enak ternyata langka. Salah satu makanan paling enak yang pernah saya coba di kota ini ya baru Nasi Minang di Tunjungan Plaza beberapa bulan yang lalu itu. Rawon Setan? Ah itu mah udah lewat dari dulu.

 

Mungkin itu sebabnya saudara-saudara kami di Surabaya gemar sekali berwisata kuliner ke Malang. Mungkin juga itu sebabnya ribuan orang dari Surabaya rela antri macet setiap akhir pekan untuk bisa ke Malang dan menikmati sajian kulinernya.

 

Apakah mungkin kualitas kuliner yang minimal itu disebabkan oleh mutu air tawarnya? Surabaya kan kota yang air tawarnya sudah harus berperang dengan intrusi air laut? Mungkin juga dugaan ini salah, tapi kalau pun salah ya peduli amat wong namanya aja dugaan.

 

Dengan perut terbayang kenyang (= kenyang hanya dibayangkan), kami masuk ke Sogo. Ya gini ini, lapar memang bisa membuat orang berjalan tak tentu arah. Masa kelas guru ngeluyur ke Sogo? Eh, tak dinyana ternyata disana ada t-shirt bagus dengan diskon harga yang sudah disesuaikan atau istilah kerennya “customized prices”. Jadilah saya mendapatkan beberapa potong t-shirt berlogo buaya. Bahannya enak sekali jatuhnya di badan. Singkat kata, nyaman, cukup elegan tidak ngisini-ngisini, dan yang penting harganya murah karena sudah didiskon affordable, ha ha ha.

 

Lalu heran lagi: “kenapa ya di Malang kok kualitas baju-bajunya di mall tidak sebagus di Surabaya?”

 

Yah, fair enough. Malang memang menang dari segi kulinernya, tapi Surabaya lebih unggul dalam segi kualitas baju yang dijualnya. Karena jaraknya juga tidak terlalu jauh, mungkin ide bagus untuk berbelanja baju di Surabaya lalu pulangnya ngebut untuk bisa makan siang atau makan malam di Malang.

 

 

 

Iklan
Posted in: humanity, makanan, Nyantai