Nasi Campur Biasa, Socmed Campur?

Posted on Juli 4, 2017

0


Saya sampai tidak tahu harus menjuduli apa posting saya kali ini. Maka jadilah apa yang saya tulis di judul itu.

Sebagai seorang imigran di dunia digital, saya bisa lah main socmed elek-elekan. Saya punya 3 akun Twitter, 2 akun Facebook, 2 blog, dan 2 Instagram, 1 Linkedin plus satu kumpulan cerpen digital di storial.co. Dari semua ini, Instagram lah yang paling asik dioprek dan dimainkan. Namun seiring dengan bertambahnya usia dan minimnya pengalaman saya ke wilayah-wilayah dimana maut mengancam (seperti bungee jumping, kemping di kuburan, berlayar di Segitiga Bermuda dll), maka keseharian saya–baik dari segi wajah, penampilan, dan pengalaman–tidak lagi menjadi sesuatu yang Instagrammable.

Namun seiring dengan bertambahnya usia pula, keinginan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat makin sering menggelitik saya. Saya hanya ingin melakukan sesuatu yang bermanpaat bagi orang lain, yang lebih dari sekedar memajang foto aneka makanan atau tempat wisata. Dan semua itu inginnya saya lakukan di socmed.

Ternyata jawabannya tidak jauh-jauh dari salah satu socmed saya. Akun Twitter saya yang bernama inggrisanda sudah diikuti oleh lebih dari 1000 orang. Melalui akun ini saya secara rutin menyebarkan kata-kata bahasa Inggris beserta contoh dan maknanya. Kadang-kadang ada juga pola-pola grammar yang saya kicaukan disitu. Di luar dugaan, banyak yang suka dan jadilah akun itu meraup 1000 lebih pengikut.

Nah, dari akun ini saya lalu terinspirasi untuk menyambungkannya dengan cerpen-cerpen saya di storial.co. Maka, setiap kali menulis cerpen disitu, saya buat tautannya lewat Twitter dengan salah satu piranti yang bernama bit.ly. Jadi, setiap kali saya selesai menulis cerpen, para pengikut di Twitter saya bisa langsung membacanya setelah mengklik tautannya di tweet saya.

Karena merasa kurang puas, maka saya pun membuat satu akun baru di Facebook. Namanya Inggris Anda, terilhami oleh Twitter saya yang juga populer dengan nama itu. Disitu saya bikin Page khusus, namanya English Speaking (@englishwithpatrisius). Isinya bukan hanya deretan satu dua kata baru dalam bahasa Inggris, tapi juga kisah perjalanan saya ke beberapa belahan negara asing, bahkan juga makanan yang pernah saya icipi dan saya anggap enak. Karena Facebook menyediakan ruang yang jauh lebih luas daripada Twitter, saya bisa bebas menulis panjang lebar dalam bahasa Inggris, plus beberapa foto yang menggugah minat dan selera para pengunjung.

Selesai membuat akun itu, maka kegiatan berikutnya adalah mencari friends (ini istilah untuk jejaring pertemanan di dunia maya; kalau di dunia nyata mah bukan “friend” tapi “teman”). Taktik saya adalah membuka akun beberapa friends yang sudah saya kenal, lalu mengirimkan friend request ke daftar friends para teman ini. Saya bisa menghabiskan waktu hampir satu jam an hanya untuk mengklik klak klik friend request ke daftar friends yang memuat ratusan nama itu.

Suatu pagi, ada peristiwa yang menyadarkan saya akan kelirunya taktik itu. Salah seorang fesbuker yang berhasil saya jaring menjadi friend berkata terus terang kepada saya lewat Messenger: “saya ndak tertarik bahasa Inggris. But, nice to know you anyway.”

Saya baru sadar bahwa para friends saya adalah alumni kampus dimana saya mengajar, dan sebagian besar lagi adalah orang-orang seusia saya. Pada rentang usia ini, kebanyakan bahasa Inggris mereka kalau ndak sudah sangat mahir ya tergolong nol putul. Nah untuk yang nol putul ini, pada usia 30 an minat untuk belajar bahasa Inggris sudah nyaris mati. Jadi tidak heran tidak banyak yang menyambut ajakan saya lewat friend request.

Maka saya mengalihkan serbuan friend request ke mereka-mereka yang masih berusia bangku SMA dan tahun-tahun pertama perguruan tinggi. Nah, ternyata sambutannya lebih hangat. Banyak sekali yang merespon friend request saya, dan tidak sedikit pula yang rajin memberikan “like” untuk setiap materi pelajaran kata baru ataupun tata bahasa yang saya postingkan sebagai status atau Note.

Sampai saat ini, alhamdullilah Page saya di English Speaking sudah di like 100 orang lebih hanya dalam kurun waktu 4 hari. Jumlah friends saya sudah 200 an lebih.

Cuma kelemahannya ya itu, karena friends saya kebanyakan ABG dan generasi muda, saya harus bisa mengerti kalau menjumpai posting-posting mereka yang “luar biasa” di halaman Facebook saya. Namanya juga masih ABG, posting-postingnya kalau ndak lebay, dangkal, kasar, ya mewek-mewek a.k.a menye-menye. Bayangkan, ada satu orang gadis belia yang memposting gambar tangannya penuh goresan silet, berdarah-darah, disertai dengan ratapan: “SakitQ di tangan ini tak seberapa dibanding perihnya hatiQ atas ucapanmu”. Inna lillahi.

Jadi begitulah, socmed campur saya. Twitter, Facebook dan socmed lain campur baur jadi satu, tentu dengan harapan semoga rasanya tidak seperti tai kucing campur coklat (yang mau bagaimanapun coklatnya pasti tetap akan berasa tai). Kenapa saya mau repot-repot begituan tanpa imbalan? Alasannya sederhana saja kok: saya hanya ingin menyumbangkan sesuatu yang bermanpaat untuk orang lain, khususnya generasi muda.

Iklan