Beriman atau Mati

Posted on Juli 3, 2017

0


Serangannya terhadap kaum agamawan sangat frontal, blak-blakan, bahkan menjurus kasar.

Tapi justru itu yang membuat saya terkesan terhadap orang-orang ini.

Ada beberapa. Saya sebutkan segelintir saja di antaranya: Michio Kaku, Neil deGrasse Tyson, Christopher Hitchens, dan Richard Dawkins.

Dua terakhir yang saya sebutkan itu sering berpidato berapi-api mengkritik agama-agama formal. Karena mereka adalah orang-orang terpelajar yang berbicara berdasarkan logika dan bahkan data, maka kaum agamawan yang mendengarkannya pun tampak terdiam. Marah, pasti, tersinggung pasti, lha mau gimana, wong kedua pembicara itu menyerang habis keyakinan agama-agama itu. Tapi mau mendebat juga nanti dulu, sebab kedua pakar atheis itu bisa dengan mudah menyerang balik dengan argumennya yang sangat logis.

Salah satu titik perdebatan yang mereka pernah layani adalah soal iman. Iman, menurut orang beragama, adalah kemauan untuk meyakini dan menerima sesuatu tanpa meminta buktinya. Memiliki iman berarti menihilkan keinginan untuk bertanya atau meminta bukti. Iman itu hanya masalah percaya tanpa bukti, kalau tidak percaya ya sudah (paling ntar lagi juga gue matiin lu). Betul kan?

Maka berkatalah para ahli agnostik itu dengan nada prihatin: “Faith without proof can be a lethal weapon”.

“Kok bisa?” tanya seorang rohaniwan yang mewawancara.

Ya, banyak orang sudah memegang teguh suatu iman bahwa jalan yang disediakan oleh nabinya adalah SATU_SATUnya jalan keselamatan. Orang yang tidak melalui jalan itu diyakini tidak akan selamat. Berikutnya, ditanamkan lagi suatu keyakinan bahwa tugas mereka adalah membuat orang lain yang tidak percaya ini agar mempercayai iman tersebut. Kalau masih belum mau percaya juga, maka keyakinan berikutnya adalah bahwa mereka menjadi martir kalau bisa membunuh orang-orang yang tidak mau percaya ini.

Maka iman itu sudah tertancap kuat di dalam benak mereka. Apakah mereka masih meluangkan sedikit waktu untuk merenungkan sejenak iman itu dan bahkan mengkritisinya? TIDAK BOLEH! Kan sudah dibilang tadi bahwa itu masalah iman, jadi jangan bertanya kenapa dan jangan minta bukti!

“Jadi bayangkan daya rusaknya,” demikian sang atheis sialan tadi berkata meneruskan argumennya. “Kalau Anda dihadapkan pada orang beriman seperti ini yang mau membunuh Anda, Anda bisa apa? Segala macam argumen dan sanggahan Anda tidak akan mempan, karena buat dia iman adalah iman, tidak usah ada perdebatan segala macam.”

Faith without evidence is a lethal weapon. Yah, ada benarnya juga kan 😦

Di agama yang (dulu) saya peluk, yaitu Nasrani, ada juga kok satu hal yang harus diterima sebagai iman. Umumnya diungkapkan dengan begini : “Akulah satu-satunya jalan keselamatan. Tanpa melalui Aku, engkau tidak mencapai keselamatan tersebut”.

Maka kalau saya mengimani hal tersebut, saya akan meyakini tanpa pernah setitikpun mempertanyakan mengapa dan bagaimana dengan yang lain dan sebagainya. Saya akan menerimanya sebagai iman, lalu saya keluar menjumpai orang-orang bukan Nasrani dan saya mengatakan kepada mereka: “kamu tidak akan selamat!”

Pada beberapa hal, iman memang meneguhkan dan menghibur, namun ketika melebar ke banyak aspek yang sebenarnya patut dikritisi atau direnungkan kesahihannya, iman bisa menjadi senjata dahsyat yang merobek-robek persatuan.

Iklan
Ditandai: , , ,
Posted in: Agama, spiritualitas