Atheis dan Agnostik Berbeda

Posted on Juni 27, 2017

0


Mumpung sedang hangat-hangatnya membicarakan Pancasila, saya ingin sedikit berbagi tentang dua konsep yang selama ini sering diucapkan tapi mungkin jarang dipahami. Kedua kata itu adalah atheis dan agnostik.

Atheis mungkin sudah lebih sering didengar dan dipahami sebagai orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan. A berarti tidak, theis berarti Tuhan. Jadi orang atheis adalah orang yang tidak berTuhan, atau orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan.

Nah, agnostik ternyata sedikit berbeda. Orang agnostik boleh dikatakan belum bisa mempercayai sesuatu yang belum bisa dibuktikan secara sangat meyakinkan dan konklusif. Orang agnostik belum percaya bahwa Tuhan itu ada karena dia belum melihat bukti-buktinya. Kalaupun ada beberapa bukti yang disodorkan, orang agnostik masih skeptis, masih ragu bahwa bukti-bukti itu menunjukkan adanya Tuhan. Jadi, orang agnostik menolak untuk mempercayai sesuatu wujud yang buktinya masih diperdebatkan disana-sini. Anda tahu seorang pakar fisika yang juga setengahnya selebriti di TV National Geographic bernama Neil de Grasse Tyson? Nah, orang ini adalah ilmuwan hebat yang mengakui bahwa dia adalah seorang agnostik.

Jadi, kalau seorang atheis menolak mentah-mentah adanya Tuhan, seorang agnostik mungkin masih terbuka terhadap kemungkinan dia akan percaya adanya Tuhan setelah sangat yakin dengan bukti-buktinya.

Mungkin seorang theis–yaitu orang beragama yang sangat percaya akan Tuhan–mengatakan bahwa hal kepercayaan terhadap Tuhan adalah masalah iman. Faith. Iman. Dan iman itu tidak banyak bertanya dan meminta bukti. Iman itu ya percaya begitu saja, ndak usah cerewet meminta bukti. Untuk hal ini, seorang saintis lain sekaliber Tyson, namanya Michio Kaku yang juga agnostik, mengatakan satu hal yang menurut saya menusuk juga: “Faith wihtout evidence is lethal” (iman tanpa bukti adalah sangat mematikan). Hmm, sudah berapa juta nyawa melayang karena masalah “iman” ini yang jangankan bukti, bertanya atau mendebat sedikit saja sudah berujung pada perang antar agama? Tyson mengemukakan satu argumen tentang kengototan akan bukti ini. Menurutnya, kalau manusia tidak terus mengejar bukti lewat eksperimen dan eksplorasinya ke alam, kita mungkin masih tinggal di gua-gua dan ketakutan setiap kali ada suara petir karena mengira bahwa itu adalah Tuhan atau dewa yang sedang murka.

Mungkin ini saatnya kita bersyukur sebagai orang Indonesia. Kita terbebas dari kepusingan mencari bukti dan argumen segala macam tentang Tuhan itu ada atau tidak, karena sila pertama Pancasila kita sudah mencanangkan dengan sangat jelas bahwa kita adalah bangsa yang percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Dah gitu aja. Titik. No ifs no buts.

Iklan