Anda bukan Satu-satunya yang Bisa

Posted on Juni 25, 2017

0


Posting kali ini diilhami oleh sebuah poster kecil di sebuah lembaga tempat saya mengajar beberapa belas tahun silam. Poster itu bertuliskan pesan singkat saja dalam bahasa Inggris, namun untuk mudahnya saya terjemahkan saja: “Bahwa perusahaan masih bisa berjalan ketika Anda cuti membuktikan bahwa sebenarnya tanpa Anda pun perusahaan tetap bisa berjalan.”

Lalu di bawahnya ada tulisan yang lebih kecil: “Selalu ada orang lain yang bisa menggantikan Anda”.

Kecuali Anda seorang Lionel Messi atau Lewis Hamilton di arena sepak bola dan balap, rasanya pesan yang agak ekstrem itu benar juga. Rasanya pesan itu patut diperhatikan untuk beberapa (atau banyak ya) orang yang menganggap bahwa dia adalah pemain kunci dalam sebuah lembaga dan jika dia tidak hadir maka lembaga itu pasti pincang. Dia kebanyakan juga sudah bergelar tinggi, berpengalaman banyak, dan memang figur yang banyak berperan dalam kinerja lembaga. Tanpa dia sadari, arogansi mulai tumbuh pelan tapi pasti dalam dirinya, dan merasa bahwa tanpa peran dia di lembaga itu, pastilah kinerjanya jadi agak goyah dan akhirnya hancur. Bleh. Jangankan dia yang cuma sekelas lulusan S2 atau S3, orang sekaliber Steve Jobs yang bak dewa pun bisa digantikan oleh orang lain yang dulunya ndak pernah kocap kok (bahasa Jawa, artinya: “dibicarakan banyak orang karena popularitasnya”).

Ketika ada seseorang yang mengundurkan diri dari gelanggang, pemimpinnya tanpa banyak ba bi bu langsung mencari pengganti lain. Ketemu? Ya pasti ketemulah, wong manusia 7 milyar kok ndak bisa ketemu. Lalu bagaimana dengan ilmu-ilmu yang selama ini diajarkan oleh sang karyawan yang mengundurkan diri tersebut? Gampang. Sang pemimpin rapat dengan stafnya, dan memutuskan untuk menghapuskan semua mata kuliah yang dulu diasuh si karyawan ini, lalu menggantinya dengan mata kuliah lain. Habis perkara!

Berkinerja baik dalam sebuah lembaga itu memang perlu dan layak diapresiasi. Juga tak bisa dipungkiri bahwa kinerja baik itu membuat sebuah lembaga makin berkemilau di mata publik. Namun hal itu selayaknya juga diiringi dengan sikap rendah hati dan tidak jumawa. Jangan pernah merasa bahwa Anda adalah orang yang paling menentukan hidup matinya sebuah lembaga. Selalu ada orang yang bisa menggantikan Anda, dan bahkan bisa berkinerja lebih baik daripada Anda.

Di kampus di antah berantah, ada sebuah prodi yang ditinggal oleh seorang pemimpinnya. Alih-alih hancur lebur, beberapa tahun kemudian prodi itu malah mendapat akreditasi A setelah sang pemimpin pergi.

Kalau ada sikap yang sederhana namun luar biasa sulitnya dihayati dan dilaksanakan ternyata adalah ini: kerendahhatian.

Maka memang sebaiknya kita tak jemu-jemu mengasah sikap rendah hati.

Karena akan selalu ada yang bisa menggantikan peran kita, seberapapun luar biasanya peran tersebut.

Iklan
Posted in: akademik, humanity, kampus