Kepo itu Tidak Menyenangkan

Posted on Juni 23, 2017

0


Dalam bahasa gaul sekarang, kata “kepo” entah dari mana asalnya. Tapi padanan katanya dalam bahasa Inggris adalah “nosey”, yaitu “selalu ingin tahu urusan orang lain, bahkan sampai ke urusan pribadinya.”

Seorang yang kepo menghabiskan sebagian waktunya untuk mencari berita terbaru tentang orang lain. Dia ini seolah punya ketrampilan luar biasa untuk mengorek berbagai informasi tentang orang lain. Dia punya jejaring pertemanan yang entah bagaimana selalu siap memasok cerita-cerita terbaru tentang orang-orang lain. Orang lain disini bisa koleganya sendiri, bisa atasannya, bisa bawahannya, bisa muridnya (kalau dia guru). Saya bisa membayangkan mungkin gawai di tangannya penuh dengan chat Whatsapp tentang berita-berita seputar si A, atau si B, atau si C. Laptop atau desktop di mejanya mungkin penuh dengan tautan ke socmednya orang-orang yang sedang dia korek-korek beritanya. Kalau dia makan siang bersama gengnya atau sedang pergi kemana gitu, pastilah bahan omongannya juga tentang orang lain. “Oh, kabarnya si A beli mobil baru. Katanya itu hasil utang dari ortunya.” “Ah, masa sih, dengar-dengar dia punya kenalan pejabat tinggi di pemerintahan”; “Eh, bukan! Itu hasil rebutan harta warisan sama adiknya”, dan bla bla bla masih banyak lagi.

Saya kenal seseorang yang setiap kali ada selentingan kabar terbaru tentang seorang rekan, orang ini langsung bisa menceritakan sampai detil segala hal yang berkaitan dengan si rekan tadi. Informasinya bisa sampai mendetil sekali. Itu membuat saya heran dari mana saja dia mendapatkan berita tersebut, dan betapa tega dia menghabiskan waktu kerja yang hanya 8 jam sehari untuk mengorek-ngorek info tentang orang lain.

Saya sempat menjadi korban pengepoan ini. Suatu ketika, seseorang rekan dekat memberitahu saya–tepatnya membocorkan–percakapannya dengan si X. “Kata si X, bapak tuh pelit. Dapat uang penelitian besar sekali tapi begitu tersisa malah dikembalikan lagi ke pemerintah. Bahkan makan siang untuk anggota pun ndak bapak kasih.”

Menyebalkan sekali, bukan? Si X itu bukan anggota saya dalam tim penelitian itu. Lalu bagaimana dia bisa tahu semua kegiatan penelitian saya? Pasti dari hasil mengorek-ngorek informasi dari pihak-pihak lain. Sudah gitu, pernyataannya juga ngawur. Memang tidak ada dana yang sempat saya keluarkan untuk makan siang, karena semua kegiatan penelitian selesai sebelum makan siang. Saya dianggap “terlalu lurus” karena kok mau-maunya mengembalikan sisa uang yang belum tergunakan dalam proyek itu. Wah, gila si X ini. Saya doakan semoga karirnya seret, soalnya kalau endak kecenderungan korup itu bisa menghancurleburkan lembaga manapun tempat dia bekerja!

Maka, sifat kepo bukan sesuatu yang menyenangkan. Itu tidak sopan dan sangat menyebalkan.

Sampai suatu saat, ketika menghadiri sebuah rapat dengan orang-orang berpangkat dan terhormat, saya dibuat terperangah. Para hadirin terhormat itu sedang membicarakan si H. Herannya, pembicaraan mereka bisa menukik jauh ke kehidupan pribadi si H. Bahkan ada yang bisa tahu sms si H ke istrinya yang sedang ngambek.

Saya pun terlongong-longong mendengarnya. Ya, saya tahu si H dan masalahnya tapi ya ndak sebegitu detilnya lah.

“Wah, itu sudah jadi pembicaraan ramai di antara kita-kita, bro,” kata seorang hadirin terhormat itu. “Kita-kita ini kepo semua kalau ada urusan begituan hahahaha, hahahaa.”

Dan semua orang terhormat itu lalu tertawa bersama-sama. “Ha ha ha haa!”

“Astagafirullah aladziim,” saya hanya bisa membatin dengan rasa prihatin.

Iklan
Ditandai: , ,
Posted in: humanity