Bergulat dengan Luka Batin

Posted on Juni 18, 2017

2


Hanya sedikit sekali dari antara kita yang terbebas dari luka batin, entah itu sakit hati, dendam, keinginan tak tercapai, kegeraman, kesedihan, atau kehampaan yang mendalam. Tanpa sengaja pagi ini saya terantuk pada sebuah ceramah oleh seorang spiritualis tentang pergulatan dengan luka batin.

Inti ceramahnya aneh sekali. Alih-alih mengkhotbahkan sikap positif, pengacuhan, ketegaran dan sejenisnya, orang ini mengatakan : “peluklah kedukaan batin itu (embrace your pain body).”

Lho piye tho iki kok malah disuruh memeluk luka batin itu?

“Peluklah luka batin itu, sebab hanya itulah realitas yang kamu hadapi sekarang,” katanya. “Bawalah sakit itu ke dalam kehadiranmu sekarang. Sekarang, hadirlah disini dan sekarang, akuilah dan peluklah rasa sakit itu sebagai bagian dari hidupmu sekarang. Tidak usah memaki-maki dan menunggu masa yang akan datang, mengimpikan sakit itu akan lenyap di masa depan. Tidak usah. Hadirlah sekarang dan disini, bersama dengan luka hatimu itu.”

Kemudian dia melanjutkan:

“Perhatikan rasa sakit itu. Dengan memperhatikan dan mengakui kehaadirannya, kamu akan makin hadir di momen itu (be PRESENT), dan semakin intens kehadiranmu, semakin kamu bisa merasakan berangsur-angsur luka batin itu akan mereda.”

Dia mengakhiri uraiannya itu dengan kalimat yang sungguh dahsyat, setidaknya di mata saya:

“Your acceptance of the pain is so total, so complete, and that is where your spiritual power lies.”

Jadi intinya, kalau sedang merasa sakit hati atau gundah, hadirlah bersama kesakitan itu, akuilah dia sebagai bagian dari hidup sekarang, berserahlah total kepada rasa itu. Disitulah daya spiritualmu akan mendapatkan kekuatan untuk tumbuh.

Tentu saja cobaan seperti itu bisa menetap agak lama. Rasa sakit hilang, lalu kembali lagi, hilang lagi, kembali lagi. Tapi setiap kali dia kembali, maka yang sebaiknya dilakukan adalah membawanya ke dalam kekinian (the present moment) dan sepenuhnya menyadari kehadirannya.

Jadi pesannya ini sungguh lain dengan nasehat-nasehat melawan kesedihan yang pernah saya baca di mana-mana. Tidak ada ungkapan “lupakan, tinggalkan, menataplah ke masa depan!”, atau “tegarlah, acuhkan!”, “berdoalah sampai mlukek-mlukek” atau “berpikirlah positif! Lakukan sesuatu yang lain!’ dan sejenisnya. Inti dari pesannya sederhana saja: hadirlah di masa kini dan sekarang, akuilah dan peluklah rasa sakit itu, dan kamu akan tumbuh makin kuat. Perbedaannya dengan pesan-pesan mainstream sebelumnya adalah bahwa kehadiran di masa ini dan saat ini itu menyembuhkan, sementara pesan-pesan lainnya selalu menyiratkan “ayoo, jauhi rasa sedih itu sekarang dan tataplah masa depan!”.

Lalu dia melanjutkan bahwa wanita jauh lebih kuat daripada pria dalam bergulat dengan rasa sakit ini. Sebagian juga disebabkan oleh ciri fisiologis wanita yang harus menstruasi, melahirkan, menyusui dan sejenisnya. Wanita sudah terbiasa sakit, dan oleh karena itu wanita mampu menjadikan sakit sebagai bagian dari kehidupannya. Mereka mengakui dan memeluk rasa sakit itu, bahkan memeluknya sebagai bagian dari diri fananya. Ini berbeda dengan pria. Pria cenderung memusuhi dan menyangkal rasa sakit. Mereka terus-menerus melawan rasa sakit itu dengan otaknya/pikirannya. Secara fisik memang pria jadi lebih kuat, tapi secara spiritual, wanita tumbuh lebih cepat. “Men identify themlseves with their heads, while women identify themselves with their bodies,” demikian kata sang bijak itu.

Luar biasa. Luar biasanya karena ya itu tadi. Betapa nyelenehnya pesan itu terasa: peuluklah rasa sakit dan jadiakan bagian dari kesadaranmu saat ini dan disini.

Saya jadi teringat novelis terkenal Paulo Coelho yang dengan enteng menjawab pertanyaan apa yang dia lakukan kalau sedang sedih: “oh, saya akan biarkan aja rasa sedih itu. Ntar juga dia bosan lalu pergi sendiri.”

Paulo memang nyentrik dan jawabannya itu terkesan ngawur. Tapi mungkin juga tidak. Mungkin sekali jauh di balik jawaban itu adalah kesamaan dengan pesan luar biasa yang disampaikan oleh sang spiritualis itu.

Oh, ya, saya belum menyebutkan nama sang spiritualis itu. Namanya Eckhart Tolle.

Iklan