Kapan Sebaiknya Menikah

Posted on Juni 15, 2017

0


Setelah bertemu dengan mantan mahasiswa kemarin, ada satu topik pembicaraan yang mengilhami saya untuk menulis posting ini. Kami ngobrol tentang teman-temannya sekelas yang sudah menikah, yang masih belum, dan yang sudah punya anak. Dia sendiri mengaku menikah pada saat usia sudah hampir kepala 3. Saya jadi ingat sobat saya sekelas yang dulu menikah usia 25 tahun. Sayanya lagi mati-matian mengejar gelar Master eh dianya kawin. Akibatnya sekarang dia sudah jadi Mbah karena anaknya juga menikah pada usia relatif muda dan langsung beranak, eh, maksudku, melahirkan anak.

Jadi sebenarnya kapan usia ideal untuk menikah? Ini pertanyaan yang jawabannya juga elusif, sangat tergantung pada budaya dan perubahan cara pandang antar generasi. Dari benua Barat, ada seorang sosiologist yang meneliti banyak pasangan dan akhirnya menyimpulkan bahwa usia antara 29 – 32 tahun adalah usia ideal untuk married pada era ini. Anehnya, setelah usia itu sampai sekitar akhir 40 an tahun dan awal 50 an adalah tidak ideal untuk menikah karena dia mendapati mereka-mereka yang menikah di rentan usia ini kebanyakan bercerai. Nah, rentang usia di atasnya, yaitu 59 sampai 62 kembali lagi menjadi usia ideal untuk menikah.

Kenapa 29 – 32 termasuk usia ideal untuk married? (btw, kata ini rasanya sudah menjadi bagian dari kosa kata percakapan di bahasa Indonesia). Ini karena pada usia tersebut seseorang sudah bisa membedakan mana hubungan yang akan berpotensi menjadi lebih serius untuk menata hidup berkeluarga, dan mana yang hanya karena sentakan hormon atau gairah sesaat. Dari segi karir, kebanyakan orang di usia ini juga sudah mulai bekerja dan merasa mantap dengan kemampuannya untuk menabung dan menafkahi keluarganya. Dari segi kematangan emosi, mereka juga pribadi-pribadi dengan pola emosi yang sudah relatif stabil, tidak lagi bergejolak. Pengalaman hidup selama hampir 3 dekade mungkin sudah mengasah kemampuan mereka beradaptasi dan bertoleransi.

Lha terus kenapa kalau menikah selepas rentang itu menjadi lebih rentan bercerai? Sosiolog tadi tidak menawarkan jawaban yang gamblang, tapi hipotesis saya (saya pakai kata “hipotesis” sebagai ungkapan pemegah untuk maksud yang aslinya adalah “saya duga secara agak ngawur”) adalah karena pada usia itu oang sudah mulai mantap dengan gaya hidup dan pandangannya, dan memasuki masa solid alias kaku sudah tidak bisa diubah lagi. Karena menjadi pribadi yang mantap namun kurang luwes, maka kemungkinan untuk bertengkar dengan pasangan hidupnya menjadi lebih besar. Ujung2nya, bisa berakhir dengan perceraian.

Kembali pada usia emas 29 – 32 tadi. Apakah ini berita baik bagi mereka yang masih jomblo pada usia setelah 25? Ya, tergantung pada lingkungan dan budayanya. Di budaya Timur, status single pada rentang usia itu rentan menjadi bahan rasan-rasan yang kurang enak didengar. Tapi, menurut saya, itu juga tergantung pada generasi yang ngerasani. Generasi itu kebanyakan adalah generasi tuwek kelahiran tahun 40 sampai 50 an. Tapi kan generasi ini makin lama makin susut karena pada rame-rame meninggal dunia. Jadi tersisalah generasi kelahiran 60 an (seperti saya yg lahir tahun 67) dan selanjutnya. Nah, generasi 60 an ini rasanya makin ndak ngurus masalah STMJ (Sudah Tua tapi Masih Jomblo) itu. Mereka dan generasi sesudahnya adalah generasi yang makin individualistis dan dengan sendirinya punya pusat perhatian atau concern yang lebih urgen dan menarik daripada ngerasani orang jomblo. Mereka akan mengatakan: “jomblo atau tidak itu masalah pribadi. Mungkin orang itu belum menemukan jodohnya, mungkin juga tidak tertarik pada kehidupan perkawinan, atau mungkin LGBT. Tapi apapun itu, itu urusan mereka. Ndak layak dan dan ndak ada bagusnya dijadikan bahan rasan-rasan.”

Nah, jadi rasanya walaupun masih belum married pada usia 25 ke atas, tenanglah saja.

Eit, tapi tunggu dulu. Ternyata ada yang namanya “tekanan sosial” yang tanpa disadari harus disaksikan. Pada usia di atas 25, seseorang makin sering melihat teman-teman sekelasnya bertunangan, menikah, lalu beranak. Sekalipun tidak ada orang yang ngerasani statusnya, dalam hati si lajang ini terbersit pertanyaan: “teman-temanku seangkatan sudah pada married dan beranak. Lha aku kok masih sendirian?”

Nah, saya tidak punya gagasan apalagi mau sok pinter menawarkan jawaban untuk pertanyaan yang satu itu. Mungkin kita bisa kembali pada petuah bijak yang sudah ada sejak jaman dulu: “Jodoh itu di tangan Tuhan.”

Iklan
Posted in: humanity