Bondho Nekad Belajar Speaking

Posted on Juni 10, 2017

0


Setelah beberapa minggu mengajar Speaking, saya baru menyadari betapa besar tantangan yang harus dihadapi seorang siswa supaya bisa berbicara dalam bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Murid saya tergolong rajin. Setiap pelajaran yang saya berikan selalu diulang di rumah, dan minta satu hari libur supaya dia bisa berlatih sendiri di rumah. Begitu datang, pertama ucapannya masih lancar, tapi ada kalanya jadi grathul-grathul lagi dan tersendat-sendat lagi.

Memang kendala terbesar seorang Indonesia yang belajar bahasa Inggris di Indonesia ya begitu: kurang latihan. Bukan karena malas atau apa, tapi karena memang situasi kebahasaan di Indonesia tidak mengharuskan seseorang menggunakan bahasa Inggris sehari-hari. Akibatnya, siswa hanya bicara bahasa Inggris ketika datang belajar bersama gurunya. Ya jelas saja kemampuannya seperti timbul tenggelam. Hari ini relatif lancar, minggu depannya tersendat-sendat lagi. Dalam terminologi bidang saya, ini disebut U-shaped development: kemampuan yang naik turun seperti huruf “U” itu sendiri.

Jadi lantas bagaimana dong supaya bisa meminimalkan gejala U yang menyebalkan itu?

Jalan satu-satunya memang memaksa diri untuk menggunakan bahasa Inggris setidaknya dalam sebagian besar porsi kehidupan itu. Akan lebih bagus kalau bisa menceburkan diri ke lingkungan yang sehari-hari banyak menggunakan bahasa Inggris karena benak kita akan terlecut dengan sendirinya untuk berpikir dan berkata-kata dalam bahasa itu. Itu sebabnya saya dikenal sebagai dosen yang menyebalkan karena selalu ngotot berbicara dalam bahasa Inggris kepada mahasiswa-mahasiswa saya di luar kelas pada setiap situasi. Kalau ndak begitu, mereka ndak akan terlecut untuk melatih organ bicara dan pikirannya untuk berbicara dalam bahasa Inggris.

Salah satu sikap yang ternyata saya dapati juga membantu penguasaan bahasa adalah sikap nekad. Nekad ini artinya tidak ragu mencoba berbicara dalam bahasa Inggris sekalipun grammar atau pengucapannya masih ndak karu-karuan. Resikonya memang agak berat: diperenguti orang karena dia tidak tahu apa maksud Anda, atau diketawakan, atau dikoreksi habis-habisan. Nah, karena sudah nekad, maka tak satupun resiko itu yang bisa membuat Anda gentar. Kalau salah dan diketawakan, ya sudah, pasanglah muka badak dan lalu mencoba lagi. Tentunya sambil mencamkan kesalahan Anda itu dan bertekad memperbaikinya di pengucapan yang berikutnya.

Sebenarnya masalah grammar masih bisa termaafkan kok, karena kalau sudah berbicara dalam sebuah shared context, orang lain cenderung bisa memahami maksud Anda sekalipun grammarnya masih ajur. Ada beberapa murid saya yang mengatakan : “Yes, we can to going to the school but we not allow.” Lha ini grammarnya luar biasa ancurnya, tapi toh saya manggut-manggut karena saya paham maksudnya. Kalau mereka-mereka ini tetap nekad berbicara sambil memperhatikan ujaran yang benar dan tetap mengasah tata bahasanya, akhirnya mereka bisa kok mengujarkan kalimat yang benar: “Yes, we can go to the school but we are not allowed.”

Dalam ilmu pengajaran bahasa ada yang disebut “delayed effect of instruction”. Artinya, pembelajaran yang sekarang ditempuh mati-matian itu bisa akan menunjukkan dampaknya sekian tahun kemudian. Ini saya lihat sendiri dari mantan-mantan mahasiswa saya yang dulu tata bahasanya masih parah. Sekian tahun setelah lulus, eh, saya melihat tata bahasa mereka relatif menjadi lebih baik. Aneh ya?

Yang lebih krusial sebenarnya adalah pengucapan atau pronunciation. Kalau banyak kata yang diucapkan secara salah, ini bisa menghambat pemahaman. Bayangkan kalau ada orang mengatakan: “I cant go to school because I have a pre weed photo.”. What?? Mau ngeganja (weed) ?? Bilang “pre-wed” itu beda sekali dengan “weed”. Makanya, jangan sepelekan pelajaran Listening dan pronunciation karena disitu letak kunci untuk membantu modal nekad tadi. Kalau pengucapan Anda sudah relatif baik, Anda makin bisa nekad karena yang perlu Anda perbaiki hanya grammarnya saja.

Jadi, singkat kata, jangan segan untuk bondho nekad ketika sedang belajar Speaking bahasa Inggris. Sambil Anda tetap mengikuti arahan guru dalam tata bahasa, sikatlah setiap peluang yang ada untuk nekad berbicara bahasa itu. Saya yakin, buahnya akan manis di kemudian hari.

Iklan
Posted in: akademik, bahasa