Bedah Otak untuk Perdamaian

Posted on Juni 2, 2017

0


Kalau semua perbuatan kita ini ternyata biang keladinya adalah otak, maka ayo kita beramai-ramai menciduk otak kita dan meletakkannya di atas meja. Aduuh, bentar ajaa kok, gak ada lima belas menit! Tenang sajalah!

Otak terdiri atas milyaran sel yang disebut neuron. Di antara neuron tersebut ada celah yang namanya synapses. Ketika terjadi kegiatan berpikir, ada lompatan-lompatan energi di synapses ini sehingga neuron-neuron tersebut saling berinteraksi.

Otak terbagi menjadi tiga bagian utama: otak belakang, tengah, dan depan. Otak belakang itu disebut juga otak limbik. Ini bagian yang paling primitif dan merupakan peninggalan dari nenek moyang kita yang dulu hidup di gua-gua dan masih sepupu dengan simpanse. Otak ini bekerja berdasarkan prinsip sederhana: serbu, atau lari! Bahasa Inggrisnya: fight or flee. Patut dimengerti, karena manusia purba memang berkisar pada dua kegiatan itu untuk kelangsungan hidupnya. Wah, ada rusa di depan sana. Serbu! Maka mereka pun berlari untuk menyerang dan membunuh rusa itu lalu dagingnya dimasak oleh Chef Juno (yang saat itu adalah nenek moyangnya yang juga chef). Setelah kenyang, wah, kok lihat ada macan di sana. Lari! Maka mereka pun lintang pukang berlarian menyelamatkan diri dari terkaman sang singa. Wah, di depan gua ada wanita cantik. Serbu! Baru juga mendekat lima meter, tahu-tahu nongol pejantannya yang kekar dan berbulu lebat. Ciitt! Ngerem-ngerem, terus lari! Ya, demikianlah, otak limbik di masa awal manusia emang kerjanya cuma memerintahkan sang empunya untuk serbu atau lari saja.

Karena fungsinya yang demikian kasar, maka patut dimengerti bahwa otak limbik itu tidak punya simpati, empati, atau pun keinginan untuk berkomunikasi. Bawaannya curiga dan waspada melulu. Maka, di jaman modern jutaan tahun dari manusia gua itu, kalau kita melihat seseorang atau menemui suatu kondisi dan langsung merasa tidak suka, benci, merendahkan, atau terancam, nah, itu adalah hasil kerja otak limbik kita yang primitif tadi itu.

Otak di bagian depan sudah jauh lebih canggih. Namanya prefrontal korteks. Letaknya di belakang tulang dahi. Disinilah terjadi proses pikiran yang jauh lebih mulia, tidak sekedar serbu atau lari saja. Berkat mekanisme di prefrontal korteks ini, manusia bisa memulai kegiatan berkomunikasi dengan santun, mengenal simpati dan empati, mengenal perikemanusiaan, berpikir melampaui ruang dan waktu tentang hal-hal abstrak, dan sebagainya. Bagian otak ini lah yang membuat kita mau berpikir panjang, menimbang-nimbang konsekuensi, berpikir dari sudut pandang orang lain alias berempati, dan bertoleransi.

Lalu datanglah sebuah gagasan yang dikenal dengan nama Singularity. Ini adalah jaman dimana impuls-impuls otak manusia menyatu berkelindan dengan kilatan-kilatan digital sebuah piranti Artificial Intelligence. Maka semua kegiatan manusiawi akan dieksekusi dengan kombinasi pikiran manusia dan pikiran mesin super canggih.

Sementara itu nun jauh disana di sebuah negara yang bernama Indonesia, pemimpin dan sebagian besar penduduknya cemas karena manusia-manusia berotak limbik makin merajalela dengan nafsu bengisnya. Negara itu terancam tercabik-cabik oleh perang saudara antara golongan yang ingin mengubah ideologi dasarnya dan golongan yang ingin mempertahankan keberagaman dan ideologi damainya.

Terlintas pertanyaan, mungkinkah kita melakukan sesuatu untuk menanamkan elemen-elemen berukuran nano ke otak para manusia yang sarat dengan nafsu saling melukai tersebut? Jika sudah masuk ke otak, maka elemen-elemen nano yang bermuatan kecerdasan buatan itu lalu meredam impuls-impuls ganas di otak limbik, dan menguatkan impuls-impuls toleransi dan manusiawi di bagian prefrontal korteksnya. Mungkinkah demikian?

Teknologi nano sudah sedemikian maju, dan demikian juga dengan teknologi kecerdasan buatan. Konon dalam beberapa tahun ke depan akan ada toilet yang punya chip AI di dasarnya dan mampu membaca kotoran manusia untuk meramalkan penyakit apa yang sedang tumbuh dalam diri si empunya hajat. Kalau ke urusan taek pun kecerdasan buatan sudah sedemikian relanya untuk masuk dan membantu manusia, masak masuk ke otak untuk mendukung perdamaian di Indonesia saja ndak bisa?

Ayo, ayoo, sudah selesai, silakan pasang kembali otak Anda dan ayo kita pikirkan kemungkinan yang bukan hil mustahal tersebut.

Iklan
Posted in: humanity