Echo Chamber dan Cognitive Dissonance di Medsos

Posted on Mei 31, 2017

0


Istilah “echo chamber” saya baca pertama kali di sebuah laman profesional. Tapi sebelum membahasnya, bayangkan Anda berdiri di sebuah ruangan yang sangat besar tapi kosong. Lalu berteriaklah.

Maka teriakan Anda itu akan bergaung di ruangan besar tersebut. Gaungnya kadang bersahut-sahutan sehingga terkesan ada beberapa orang yang berteriak disitu. Atau bisa juga berdiri di sebuah bukit dengan dinding cadas beberapa puluh meter di depan. Ketika berteriak, suara kita bergaung juga setelah dipantul-pantulkan oleh dinding cadas itu.

Itulah sebuah echo chamber. Fenomena tersebut lalu diterapkan ke media sosial online. Apapun yang dikatakan oleh seseorang tentang sesuatu lalu diberi komen setuju atau komen positif oleh netizen lain adalah gejala echo chamber itu. Jadi kalau saya menulis status di Facebook: “ganyang PKI!”, lalu Anda memberi komen “setuju! ganyang komunis”, lalu sekian puluh teman saya juga berkomen dengan nada yang sama, maka itulah echo chamber: status saya tadi makin lama makin kuat daya gempurnya karena Anda dan teman-teman saya yang lain memberikan penguatan atas pendapat saya tersebut.

Coba tulis di status Anda: “bumi itu datar!”. Lalu beberapa jam kemudian kalau makin banyak friends Anda yang juga mendukung pendapat yang sama, maka ujaran Anda itu mendapat kekuatan. Semakin banyak komen yang bernada setuju, semakin Anda yakin bahwa pendapat Anda tentang bumi adalah benar: bumi itu ternyata datar!

Pada titik tertentu, echo chamber itu sedemikian kuat sehingga kita sudah benar-benar yakin sak yakin-yakinnya bahwa kita benar. Lalu suatu saat muncullah sebuah komen yang intinya menggugat apa yang kita yakini tersebut. “Bumi itu tidak datar” demikian komen itu menggugat. “INi ada link yang menunjukkan pengukuran akurat bahwa Bumi itu bundar.”

Sampai disini Anda serasa gegar otak. Sesuatu yang tadinya Anda sangat percaya tiba-tiba sedikit goyah karena ada orang lain yang menggugatnya. Ini disebut “cognitive dissonance”, yaitu gejala kaget, bahkan marah, karena keyakinannya digugat oleh orang lain yang meyakini bahwa kita salah.

Demikianlah. Di dunia media sosial, echo chamber dan cognitive dissonance menjadi dua gejala yang akan sering kita alami. Pada kasus tertentu, itu pula yang terjadi dengan orang-orang Indonesia yang ingin mengubah ideologi dasar negara menjadi lebih radikal dan bengis, dan pihak lain yang ingin mempertahankan NKRI dan Pancasila sebagai harga mati.

Iklan