Mahasiswa Bumi Datar

Posted on Mei 16, 2017

4


Siang-siang jam 2, kerjaan separuh aku karena Internetnya sedang dimatikan takut terserang virus WannaCry. Jadinya ya memang wanna cry sungguhan. Dalam perjalanan pulang dari pantry untuk menyeduh kopi, pandangan saya tertumbuk pada sesosok makhluk sexy sedang berdiri di depan pintu kelas.

Saya merandeg. Saya balik kanan dan saya panggil manusia itu. Dia masuk ke kantor saya dengan patuh.

“Boleh saya tanya sesuatu?” saya awali pembicaraan. “Ini bukan kenapa-kenapa, tapi saya ingin tahu aja. Kamu kan cowok? Kok pake anting di telinga kirimu itu kenapa ya?”

Dia agak tersipu-sipu. “Ya, karena saya pikir itu cool aja, Pak.”

“Wah, kamu apa ndak takut dirasani orang lain yang melihat kamu pake anting gitu?”

“Ya, iya sih. Tapi I don’t care, kok, pak, he he he . . “

Hebat, batin saya. Wenak loh jadi manusia yang bersikap “I don’t care” gini. Hidup rasanya lebih ringan karena nggak usah peduli omongan orang lain.

“Kok kamu ndak pake sepasang aja di telinga kanan dan kiri?” tanya saya lagi.

“Wah, endak, pak. Itu mah homo, hi hi hi . . .”

“Lhoh, bukannya yang anting hanya sebelah itu yang homo?”

“Bukan, pak. Kan saya pakenya di telinga kiri. Kalau pakenya di kanan, nah itu homo, pak.”
“Oh, gitu ya? Jadi kamu bukan homo ya?”
“Ya bukan dong, pak, hi hi hi . . .”

“Terus orang tuamu gimana ngelihat kamu pake anting satu gitu?”

“Ya, ndak peduli juga sih, pak. Asal saya ndak berkelakuan menyimpang atau ndak jadi jahat aja ya nggak papa, he he he . . .”

“Kamu kalau lagi senggang ngapain?” (ini adalah ungkapan halus untuk menemukan hobinya apa).

“Tidur, pak, he he he . . “

Fiyuh. Jadi bahwa generasi sekarang sangat menyukai tidur itu ternyata bukan mitos. Dalam seminggu ini sudah saya dengar jawaban itu beberapa kali dilontarkan oleh mahasiswa-mahasiswa saya.

“Apa lagi selain tidur?”

“Nonton Youtube, pak.”

“Nonton apa? Bokep?”

“Bukan, pak, aih kok segitunya bapak ini. Saya nonton Flat Earth Society, pak”.

Sampai disini dia mendadak jadi bersemangat menceritakan keyakinannya tentang Bumi Datar itu. Tanpa saya minta, dia lantas bercerita panjang lebar tentang Bumi Datar, bahwa ada kaitannya dengan ayat-ayat dalam Alkitab, dan bahwa profesor Michio Kaku yang terkenal itu juga mendukung teori Bumi Datar.

“Gravitasi itu hanya ilusi, pak,” katanya dengan sangat yakin. “Benda-benda jatuh ke bumi itu bukan karena gravitasi tapi karena berat jenis, pak. Jadi balon itu melayang, sementara kita menempel di muka Bumi ya karena berat jenisnya balon lebih kecil daripada kita.”

“Lha kalau kita berdiri di tepi laut dan melihat kapal muncul dari balik cakrawala itu kan bukti bahwa Bumi itu bulat?” sanggah saya.

“Sebenarnya ndak gitu, Pak. Sebenarnya itu ada di depan kita tapi karena keterbatasan teleskop jadinya ya seolah-olah tidak kelihatan.”

Dia lantas berkata-kata lagi tentang bahwa Bulan dan Matahari itu tidak sejauh dan sebesar yang kita bayangkan.

“Dulu saya juga ndak percaya tentang teori Bumi Datar tapi setelah saya dengarkan di Youtube itu dan saya baca-baca Alkitab, saya jadi makin yakin, pak.”

Dia menyiratkan bahwa dia juga ingin saya meyakini bahwa Bumi ini datar kayak martabak. Tapi saya katakan begini:
“Saya bukan tipe orang yang langsung percaya pada satu hal. Saya perlu melihat dulu bukti-bukti empirisnya. Saya bandingkan dengan teori-teori dan anggapan yang selama ini meyakini bahwa Bumi itu bulat. Namun saya juga terbuka terhadap gagasan apa pun. Jadi saya belum pada posisi menerima, tapi juga tidak menolak sepenuhnya. Ya asyik aja mengikuti argumen-argumen dari kedua belah pihak.”

“Nanti deh saya kasih dokumentasi dari argumen-argumen itu. Ada di hard disk saya. 8 Giga, pak.”

“Biyuh,” batin saya dalam hati. “Bisa-bisa beralih profesi jadi guru besar bidang Bumi Datar kalau harus melihat film itu.”

“Ya, deh, nanti saja,” jawab saya. “Saya lihat dulu apa yang kamu sarankan itu di Youtube. Apa tadi judulnya? Flath Earth Society episode 12 ya.”

“Eh, omong-omong kalau Bumi itu datar, kenapa juga selama ini para ilmuwan mainstream selalu mengatakan bahwa Bumi itu bulat?” tanya saya lagi.

“Ya, tujuannya supaya manusia jadi terkelabui, pak, lalu jadi atheis.”

Yihuuii! Tambah gemblung nih arah diskusinya. Tapi saya berlagak cool aja sih walaupun dalam hati ya setengah nya kaget setengahnya mau tertawa ngakak.

Lalu saya katakan kepadanya bahwa mungkin maksudnya bukan atheis, tapi meredefinisi Tuhan. Saya beberkan keyakinan saya tentang apa itu Tuhan dan dia nampak agak terkejut. Tapi ya, ini nanti ajalah untuk posting berikutnya.

Jadi begitulah, pembicaraan yang semula hanya mau mengetahui kenapa dia beranting sebelah itu meluas menjadi diskusi yang lumayan mengasyikkan antara dosen dengan mahasiswanya. Kalau tidak ada mahasiswa lain yang kemudian mengetuk pintu saya minta tanda tangan mungkin dia masih akan berdiskusi panjang lebar dengan saya.

Setelah dia pergi saya merenung-renung. Siapa pula ini punya kerjaan usil membuat umat manusia bingung akan kebenaran? Dark Force mana lagi ini yang sedang menerapkan prinsip “Obfuscate the Truth. The truth is out there, nowhere”. Kalau Anda meyakini Bumi itu bulat atau sebaliknya, jika tidak hati-hati Anda bukannya merasa tercerahkan tapi lantas bingung sendiri akan kebenaran hal-hal yang selama ini dianggap benar tapi ternyata salah, atau hal-hal salah yang ternyata setelah dipikir-pikir kok ya ada benarnya juga.

Bingung kan? Ha ha ha!

Iklan