Nasib Indonesia di Tangan Generasi Kek Gini

Posted on Mei 12, 2017

5


Tadi pagi sewaktu mengajar kelas General Linguistics, iseng-iseng saya bertanya kepada para mahasiswa: “kalian ngapain aja di waktu senggang?”.

Jawaban “tidur” paling cepat diutarakan. Lalu menyusul “bermain Instagram; bermain games; jalan-jalan; ndak ngapa-ngapain”, dan masih beberapa lagi.

Saya pun tertegun. Tak ada satu jawaban pun yang mengatakan “membaca”.

 

Dari jawaban mereka yang spontan itu, saya jadi tahu bahwa benarlah apa yang dicemaskan dan ditengarai oleh beberapa pakar dan pengamat pendidikan: generasi muda sekarang memang tidak membaca!

 

“Yah, ya terserah sih,” kata saya beberapa saat kemudian. “Memang sudah nasib bahwa kalian tidak lagi membaca. Tapi ya jangan heran kalau nanti anak kalian juga tidak bisa membaca; lalu kelak cucu kalian juga tidak bisa membaca. You’ll lose the ability to read!”

 

Masih segar dalam ingatan betapa anak-anak kita terpuruk dalam tes kemampuan membaca versi PISA satu dua tahun yang lalu. Ya, masuk akal kenapa mereka terpuruk karena bacaan-bacaan di PISA itu kebanyakan panjang, dan disana-sini ditautkan dengan berbagai sumber lain. Karena hanya terbiasa membaca chat atau paling banter kaskus, mereka pun pasti kewalahan harus mengingat sekian banyak informasi tertulis yang kemudian bertaut-tautan kesana kemari, ditambah dengan tuntutan untuk menganalisis beberapa konsep yang sedang dibacanya.

 

Dari segi unggah-ungguh, ada pergeseran juga yang sempat saya amati. Generasi sekarang cenderung tidak sungkan menyapa generasi yang jauh lebih tua dengan “Anda”. Misalnya, “Selamat pagi, Bu. Apakah saya bisa menemui Anda di kantor jam 9?”. Ketika saya ungkapkan gejala ini di kelas, wajah-wajah para mahasiswa seperti bertanya: “lho, emang apa salahnya? Bukannya ya memang sudah begitu seharusnya?”

 

Pada tahun 80 an ke bawah, tentu saja hal itu sangat tidak sopan. Semua kata ganti orang kedua tunggal harus berupa “Bapak” atau “Ibu”. Tapi begitulah. Seiring dengan perubahan jaman, norma itu pun rupanya sudah bergeser.

 

Masih ada satu lagi yang sempat saya tangkap: gejala mbablas dalam menulis. Nampaknya mereka entah tidak tahu gunanya tanda titik, atau memang malas menggunakan tanda itu untuk membuat kalimatnya lebih mudah dipahami. Jadi, paragraf saya di atas itu akan mereka tulis dengan cara seperti ini:

 

“Pada tahun 80 an ke bawah, tentu saja hal itu sangat tidak sopan, semua kata ganti orang kedua tunggal harus berupa “Bapak” atau “Ibu”, tapi begitulah, seiring dengan perubahan jaman, norma itu pun rupanya sudah bergeser.”

 

Bayangkan betapa capeknya memahami untaian gagasan tanpa jeda titik itu. Tapi begitulah memang gaya menulis generasi sekarang.

 

Masih ada beberapa hal lagi tentang ciri-ciri generasi muda sekarang yang cukup memprihatinkan, tapi untuk sementara saya sudahi disini saja dulu. Kalau saya teruskan, nanti saya dituduh hanya menyoroti kelemahan generasi yang lebih muda. Seburuk-buruknya karakteristik suatu generasi, ya pasti ada ciri-ciri positifnya.

 

Hmm,  . . . . tapi apa ya? Saya mikir-mikir dari tadi kok sulit ketemunya? Hm m m m . . . .

 

 

Iklan