Kiat untuk Menjadi Instagrammable

Posted on April 28, 2017

0


Instagramable adalah satu kata hasil karya kreatif yang artinya: “layak dipajang di Instagram”. Setelah makin populernya Instagram, maka ada beberapa kesan yang akhirnya memunculkan kata itu. Ulasan nakal ini akan memberikan sedikit tips berdasarkan pengalaman pribadi tentang bagaimana caranya supaya foto-foto kita Instagramable.

 

Instagram adalah domain publik yang sumbernya adalah domain personal. Ini memunculkan kerumitan tersendiri. Karena bersifat personal, maka apapun yang mau dipajang disitu ya terserah yang punya akun Instagram. Di sisi lain, karena dipandang oleh publik alias orang banyak, maka harus ada beberapa pertimbangan yang berkaitan dengan etika, kesopanan, termasuk juga estetika.

 

Dari sisi kesopanan dan etika, memajang foto-foto vulgar yang menyalakan hasrat seksual tentunya sangat tidak layak dipajang. Tapi bukan hanya foto-foto seperti ini yang sebenarnya tidak Instagramable. Foto-foto pasien di rumah sakit yang lemah, kuyu, bahkan sekarat pun sebenarnya tidak Instagramable. Foto-foto jenazah di peti mati atau bahkan di lokasi kecelakaan juga sangat tidak etis untuk dipajang di Instagram. Pendek kata, foto-foto ini hanya membuat orang yang melihatnya merasa jijik, galau, atau bahkan ikut-ikutan sedih.

 

Di sisi lain, ada foto-foto yang sekilas tidak menimbulkan kesan vulgar, tapi tetap saja kurang Instagramable. Jumlahnya bisa sampai ratusan foto, dan 90 persen diantaranya adalah foto-foto diri dengan berbagai pose, termasuk pose di tempat-tempat pribadi seperti kamar mandi, kolam renang, atau kamar tidur. Dalam terminologi sosial media, yang kayak beginian disebut “gaya sosialita”. Mewah, narsis, dan hedonis. Ya, sekilas memang indah, namun kalau deraian foto seperti itu mencapai ratusan, mungkin akan lebih banyak cibiran yang muncul dan bukan pujian kekaguman.

 

Jadi saran saya kalau ingin memajang foto diri, lakukanlah sekali-sekali saja dan jangan dalam bentuk deraian yang panjang. Saya pernah terpaksa membuang (unfollow) seorang teman karena setiap hari yang muncul hanya foto dirinya. Mana udah tampangnya ndak cakep, fotonya berjibun pula. Sayang sekali dia tidak sadar hal itu sehingga foto dirinya memenuhi lini masa Instagram. Yaah, terpaksalah saya buang.

 

Rakyat lebih jelata lain lagi gayanya. Masak seonggok sayur atau daging mentah di kulkas aja bisa diinstagramkan? Memang ini jauh dari kesan narsis dan pamer kemewahan, namun yaoloh apa nikmatnya mata publik melihat gambar butek sebuah lemari es dengan isinya?

 

Maka yang lebih Instagramable adalah foto-foto unik. Itu bisa berupa sebuah benda atau lokasi yang dipotret dengan sudut yang tidak lumrah sehingga terkesan estetis, nyentrik, dan nyeni. Ada beberapa mahasiswa saya yang berbakat sekali  dalam hal ini. Ketika memotret sebuah jalan raya, misalnya, mereka bisa mengambilnya dari sudut dan pencahayaan yang memunculkan kesan keriuhan yang teredam, plus kesepian manusia jaman sekarang. Bagus sekali.

 

Foto-foto makanan beberapa tahun yang lalu masih terasa menyegarkan. Sekarang yang seperti itu sudah agak mainstream dan beberapa mulai bosan. Namun foto makanan memang selalu menarik, lepas dari apakah itu makanan biasa saja dari satu daerah di tanah air, atau makanan eksotis dari berbagai belahan negara, seperti Wagyu, Hati Bebek, Siput, dan sebagainya.

 

Foto yang masih tergolong Instagramable namun sebenarnya kurang menggugah nafsu adalah foto rapat atau gathering para digital immigrants. Yah, fotonya kebanyakan sangat sopan, sangat datar, hanya beberapa orang dijejer-jejer terus senyum sekilas terus difoto. Terus di latar belakang ada spanduk “Seminar BlaBla Bla”. Yaah, bukan jelek sih. Tapi ya itu tadi yang saya bilang: “kurang menggugah nafsu”.

 

 

 

 

 

 

Iklan
Ditandai:
Posted in: humanity, Nyantai