Rek Ayo Rek Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan Numpak Sepur

Posted on April 26, 2017

0


Jalan-jalan ke Surabaya jelas bukan sesuatu yang blogable ( = layak diceritakan diblog), tapi berhubung yang punya blog ini adalah saya maka apapun kata orang ya tetap saya blogkan.

Yang mungkin agak istimewa dari perjalanan saya kali ini adalah moda transportasinya. Kalau biasanya saya naik mobil pribadi atau bis Patas, maka kali ini saya naik kereta api. Kereta api jurusan Blitar –Surabaya lewat Malang namanya Penataran. Tiketnya murah meriah, 12 rebu saja. Bandingkan dengan bis Patas Malang – Surabaya yang 25 rebu, dan travel sekitar 60 rebu. Ini jelas moda transportasi yang sangat berpihak pada rakyat jelata seperti saya. Walaupun murah, namun sistem ticketing dan boardingnya sudah kayak pesawat aja nih kereta. Di stasiun kota Malang saya ketemu Mas Irfan, kolega sekampus yang mau berlibur ke Yogyakarta.

Kereta Penataran berangkat jam 7.08 pagi pas. Sekitar 17 tahun yang lalu, saya juga naik kereta ini untuk cari makan di Surabaya (keren ya, makan aja di Surabaya, nanti minumnya di Malang). Waktu itu duduknya bisa sesuka hati. Tapi sekarang tempat duduknya sudah ditentukan oleh nomer kursi di karcis kita. Jadi kesannya lebih tertib karena semua penumpang akan duduk di kursinya masing-masing dan hanya sedikit yang berdiri atau bahkan menggelepar di lantai kereta (rupanya ini adalah para penumpang yang mungkin membeli tiketnya ketika seatnya sudah habis. Mereka bayar lebih murah tapi kalau tidak ada tempat duduk ya harus rela berdiri selama lebih kurang 2.5 jam). Begitulah. KA Penataran itu jadi moda transportasi yang sungguh nyaman. Kereta berjalan tidak cepat, paling banter mungkin sekitar 70 an km/jam. Kalau jaman saya kecil dulu kereta kayak gini disebut “sepur kluthuk” karena jalannya pelan-pelan asal selamet. Pemandangan di luar mulai dari rumah mewah (mepet sawah) sampai sawah dan pegunungan Kawi dan Arjuna tersaji di luar. Cukup menyegarkan mata orang modern yang sehari-hari menatap layar digital dalam jarak hanya sekian puluh cm. Dua AC yang dipasang di setiap gerbong sangat membuat nyaman. Kalau jaman dulu sih hanya kipas angin.

Kereta berhenti agak lama ketika bersilangan dengan kereta Bima di stasiun Bangil. Setelah itu jalan lagi. Disini baru terasa kebenaran orang-orang yang mengatakan “naik kereta lebih santai daripada naik mobil”. Rupanya, setiap kali mobil mengerem lalu tancap lagi ditambah pemandangan lalu lintas yang padat membuat tubuh jadi capek ya? Kalau naik kereta, hal-hal kayak gitu ndak akan ada. Bahkan suara detak detak rel juga minim. Wis talah, nyaman betul pokoknya walaupun kereta ini benar-benar kelas rakyat jelata.

Kereta sampai di Stasiun Gubeng Surabaya pas jam 9.48. Perjalanan diteruskan naik taksi ke Hotel JW Marriott di Jl. Embong Malang. Hotel yang pernah mengalami trauma karena dibom teroris tahun 2003 ini menerapkan pemindaian ketat di pintu masuknya. Tas dan saku celana dipindai dengan cermat. Eh, di lift ketemu mahasiswi Sastra Inggris yang sedang mengurus yudisiumnya. Mungkin dia kaget melihat dosennya berpakaian nggladrah masuk ke hotel berbintang. Sebenarnya dia pun juga ndak kalah nggladrahnya wong hanya pakai kutungan dan sandal.

Hotel ini juga nyaman. Kamarnya twin bed dengan bathtub dan pemandangan ke arah kota Surabaya. Saya suka kolam renangnya yang terletak di lantai 4. Bagian terdalam kolam itu hanya 1.3 meter jadi resiko tenggelam minim. Tapi ya jangan terjun bebas karena bisa berantakan tuh kepala dan leher.

Ketika mencoba berendam di bathtubnya, saya mendadak ngeri. Saya pikir: “kalau semua penghuni hotel ini melakukan hal yang sama, coba hitung berapa air yang diboroskan hanya untuk kenikmatan merendam satu orang saja?”. Hotel memang mewah dan nyaman, namun di jaman dimana lingkungan hidup makin kehilangan daya dukungnya karena ekspansi kegiatan manusia maka hal ini agak mencemaskan.

Yang lebih bagus lagi dari Hotel JW Marriott adalah layanan shuttlenya ke kompleks Tunjungan Plaza. Setiap jam ada mobil yang berangkat ke sana untuk menerjunkan (= mendrop) para penginap yang ingin berbelanja di Tunjungan dan menjemput mereka yang sudah puas shoppingnya dan mau kembali ke hotel. Maka saya pun pergi ke Tunjungan Plaza naik layanan itu. Gratis. Berangkatnya naik mobil itu, pulangnya jalan kaki aja karena jarak TP ke hotel ternyata hanya dekat saja, ndak ada satu kilometer.

Soal kuliner, saya sudah diwanti-wanti oleh orang-orang sekampus untuk mencoba Rawon Setan yang persis di depan hotel. Apa lacur, saya lebih tertarik makan di kedai di sebelahnya yang menjual Soto Banjar dan sate. Wih, enak lho makanannya! Soto Banjarnya sedap, gurih, dengan dagingnya empuk, dan sate ayamnya pun lunak.

Iklan