Nirwana

Posted on April 16, 2017

0


Nirwana. Dalam bahasa Inggris disebut “Nirvana”. Mungkin tidak banyak orang non-Buddha yang tahu arti kata tersebut. Bagi beberapa orang yang sudah berusia 45 tahun ke atas, kata itu mengingatkan pada satu grup band grunge rock dari Seattle, AS, yang sekarang sudah almarhum seiring dengan bunuh dirinya sang komandan yang juga vokalis utamanya.

 

Tapi Nirvana bukanlah grup band. Dalam kepercayaan Buddha, Nirwana artinya “padam”, atau “nyala lilin yang ditiup sehingga padam.” Secara spiritual, kata ini mengacu pada pembebasan sang jiwa dari keinginan ego, kegelisahan pikiran, dan penderitaan sang badan. Kalau kita mati, jiwa kita bebas dari semua sumber kedukaan itu. Kita hanya akan berupa energi murni yang bebas kesana kemari tanpa menghakimi tanpa mengingini tanpa menyakiti dan tanpa kesakitan. Itulah surga dalam arti sebenar-benarnya. Kalau Anda beragama bukan Buddha dan membayangkan surga adalah tempat dimana Anda duduk di sisi kanan Tuhan dan makan minum tertawa sepuas-puasnya dikelilingi tujuh bidadari molek (atau tujuh pria macho kalau Anda adalah wanita), maka surga bagi kaum Buddha adalah kehampaan, kekosongan, keheningan tiada tara. Tanpa terikat pada tubuh yang fana, pikiran yang resah, dan ego yang tidak pernah puas, keheningan itu tiada tara bahagianya. Itulah . . . Nirwana.

 

Saya dibaptis sebagai Katolik ketika masih kecil. Ketika sudah dewasa, konsep surga dalam ajaran gereja Katolik tidak membuat saya puas. Maka saya diam-diam mencari konsep surga yang lain, Dan ketemulah konsep Nirwana itu. Email saya yang pertama kali mengandung kata “Nirwana” di dalamnya. Bapak saya pun mengernyitkan kening: “kena apa kok kamu namai Nirwana?”. Jelas, sebagai seorang Katolik luar biasa taat, Bapak saya merasa tidak bahagia dengan pilihan putra sulungnya tentang konsep surga.

 

Apakah saya lalu buru-buru mengubah nama itu dan kembali mendalami ajaran Katolik tentang surga? Tidak.

 

Saya nyaman sekali dengan konsep Nirwana. Setiap kali saya melihat diri saya sendiri di cermin, saya membatin: “wajah dan tubuh itu hanya sementara. Kalau sudah masanya rapuh dia pasti akan low batt lalu meluruh dan membusuk. Hilang. Tapi kesadaran yang sedang melihat dirinya sendiri di cermin itu akan kembali ke kehampaan, terbebas dari ikatan tubuh, ego, dan pikiran yang fana. Kembali menjadi sang tanpa bentuk dalam keheningan dan kehampaan tak terbatas waktu. ”

 

Mungkin Anda yang tidak suka dengan kepercayaan ini akan berhenti membaca sampai disini, namun sebelum Anda pergi, dengarkan dulu apa yang saya pesankan: “kelak kalau Anda dan saya sudah meninggal dan Anda mencari kemana saya, apakah di surga atau di neraka, Anda tidak akan menemukan saya. Saya sudah menjadi kehampaan, keheningan, kekosongan maha dahsyat tanpa rupa tanpa bentuk tersebut.”

 

 

Nirwana

Iklan
Posted in: Agama, spiritualitas