Niat Nyari Uang Gak Sih?

Posted on April 15, 2017

0


Uang memang topik yang elusif. Selain nikmat, kalau salah memperlakukannya bisa menjadi laknat dan akhirnya membawa sengsara. Kalau bisa menyikapinya dengan baik, maka walau tidak banyak, uang bisa mendatangkan kebahagiaan yang nyaris mendekati kebahagiaan sejati.

Beberapa figur yang sudah kondang di dunia dan tentu saja kaya raya beberapa kali memberikan nasihat yang sulit sekali dicerna dengan akal dangkal: “yang penting adalah passion. Uang itu nomer ke sekian.”. Seorang trilyuner seperti Jack Ma bahkan dengan blak-blakan pernah mengatakan: “kalau ada seseorang datang ke saya dan mengatakan bahwa tujuan bisnisnya adalah mencari duit, saya ogah.”. Hah?

Begitulah. Untuk beberapa kalangan yang sudah bergelimang uang, ternyata yang pertama-tama membuat mereka meledak adalah passion, semangat, gairah, dan upayanya untuk mewujudkan mimpinya, dan bukan semata-mata uang. Steve Jobs mengejar impiannya menciptakan komputer pribadi, dan Elon Musk menjelajah luar angkasa. Ketika mereka pertama kali bermimpi itu, pasti yang ada di benaknya bukanlah: “aku mau menciptakan ini dan itu supaya dapat uang banyak!”.

Tapi prinsip seperti di atas akan patah dengan mudah oleh prinsip yang satu ini: “uang memang bukan segalanya, namun segalanya butuh uang.” Nah. Realistis aja lah, bro, wong parkir dan pipis di mall aja butuh uang kok, masa masih mau bilang uang tidak penting.

Seorang penasihat spiritual juga mengatakan hal yang sama. “Kalau memang ingin uang dalam kehidupanmu, ya arahkan pikiran dan jiwamu ke arah uang. Jangan hari ini bilang  ‘ah,  uang ga penting juga’,  lalu minggu depannya bilang ‘ah, tapi aku ingin uang!.  Itu namanya membingungkan alam semesta!”

Nah, jadi benar kan bahwa perkara uang bukanlah perkara yang sederhana. Saya sendiri sudah setuwek ini (setengah abad lebih sebulan) masih juga belum paham bagaimana bersikap paling bijaksana terhadap uang.  Kadang-kadang ada upaya untuk mendapatkan materi lebih banyak, namun begitu tersendat-sendat atau bahkan gagal sama sekali, lalu ada sesuatu yang mengingatkan dari dalam batin: “Dasar tolol. Kenapa masih juga ingin berlebih? Bukannya yang saat ini sudah cukup?”

“Lha terus aku harus bagaimana?”

“Syukurilah apa yang sudah ada! Sesederhana itu”.

“Ya, iya sih, sudah bersyukur. Tapi kadang masih ingin juga.”

“Ya, ingin sih boleh. Ya sudah sana lakukan yang menjadi gairahmu, dan itu bukan semata-mata hanya karena ingin mendapat uang lho ya!”

Sebenarnya saya masih belum paham tapi baiklah saya turuti saja suara sang Maha Sadar itu.

Iklan
Ditandai: ,
Posted in: bisnis, humanity