Metode Cepat Belajar Bahasa a la Emil Krebs: O Ya?

Posted on April 13, 2017

0


Kalau Anda seorang Fesbuker alias gemar membuka Facebook, Anda mungkin pernah melihat iklan Metode Belajar Bahasa Cepat a la Emil Krebs. Kalimat pertamanya sangat menarik: “Emil Krebs menguasai 68 bahasa. Metode ini sangat efektif, dan siapa saja yang mencobanya akan merasakan kepuasan.” Di tengah tuntutan untuk bisa menguasai bahasa asing di era global yang ” sadis” ini (karena aturan mainnya adalah: siapapun yang pintar, cepat dan kaya akan menang) tentu ini sebuah janji yang menggiurkan. Siapa tidak ingin menguasai bahasa asing dengan cepat dan “puas” pula?

Kalau kita klik berita itu, akan muncul kalimat “belajar bahasa asing dengan super cepat”. Di bawahnya ada kalimat “setiap pelajaran dikembangkan secara ilmiah sehingga materi tetap tersimpan secara permanen di kepala Anda – bahkan setelah satu kali mendengarkan.”

Satu kali, sodara-sodara. Satu kali saja. Hebat nian! Kalau Anda termasuk orang yang menganut prinsip “skepticism is always healthy”, Anda akan mulai merasa aneh disini. Satu kali? Apa iya sebuah bahasa asing yang notabene berbeda sangat dengan bahasa kita bisa dikuasai hanya setelah SATU kali mendengarkan?

Kalimat berikutnya adalah : “Anda akan menyerap bahasa seperti spons menyerap air! Tanpa buku, tanpa pengulangan membosankan, tanpa usaha apa pun!”

Saya sangat cemas membaca kata “tanpa pengulangan” dan “tanpa usaha apa pun” di kalimat tersebut. Sejauh yang saya tahu dan Anda juga menyadarinya, sangat sulit, bahkan nyaris mustahil mempelajari sesuatu tanpa pengulangan dan tanpa usaha apa pun. Jangankan belajar bahasa, belajar nyeplok telur aja kalau ndak dilatih beberapa kali pasti akan ndak karu-karuan kok hasilnya. Betul ya?

Kalimat berikutnya lebih teknis: “Metode ini menghilangkan proses belajar membaca dan tata bahasa, berdasarkan bentuk belajar alami yang digunakan oleh anak-anak, yaitu mendengarkan.”

Oke. Kalau yang ini saya masih bisa menyetujuinya. Dalam ilmu pembelajaran bahasa, dikenal istilah “Silent Period”, yaitu suatu masa dimana pemelajar hanya diam mendengarkan ujaran dan membaca wacana tulis dalam bahasa asing tersebut. Lama kelamaan mekanisme kognitifnya mulai menyesuaikan diri dengan kaidah bahasa tersebut dan mulailah dia bisa sedikit demi sedikit mengujarkannya. Tapi itupun masih ada syaratnya, yakni masukan yang dia terima itu harus terpahami, dan oleh karena itu umumnya berpijak pada situasi kini dan sekarang, belum bisa yang sudah jauh atau abstrak.

Uraian berikutnya bertabrakan dengan uraian sebelumnya: “Penelitian telah menunjukkan bahwa kata-kata/frasa baru yang DIULANG-ULANG pada interval yang tepat, akan tersimpan dalam memori Anda dalam waktu yang lama.”. Lho, tadi katanya hanya satu kali dan tanpa pengulangan, lha kok sekarang bilang “diulang-ulang”?. Dari sini saja sudah terbukti bahwa iklan ini sangat bersemangat tapi tidak nyambung antara satu bagian dengan bagian yang lainnya sehingga mulai memancing keraguan.

Kalau soal interval belajar itu, saya masih setuju. Dalam ilmu pembelajaran bahasa, ada yang dinamakan teknik Spaced Practice. Teknik ini adalah pengulangan kata-kata yang telah dipelajari secara konsisten dalam selang waktu yang makin lama makin panjang. Hari ini belajar 10 kata, besok pagi diulang, lalu dua hari lagi diulang, seminggu lagi diulang dan seterusnya.

Di bagian bawah dikatakan untuk siapa saja kursus ini akan tepat:

– Untuk pemula yang sama sekali belum pernah belajar bahasa
– Untuk mereka yang bermaksud memperdalam kemampuan berbahasa
– Untuk semua orang dari segala umur – dewasa maupun remaja.

Bwahahaha! Udah mbok ditulis aja: “Untuk semuaaaaa!” gitu. Sebagai catatan, ada beda besar antara pemula dengan mereka yang sudah belajar bahasa beberapa lama. Materi, tujuan, kadar dan banyaknya latihan jelas berbeda. Dewasa dan anak kecil pun juga membutuhkan pendekatan pengajaran dan materi yang berbeda pula. Jangan semua digebyah uyah gitu.

Yang paling membuat saya akhirnya tertawa adalah kalimat paling akhir di bagian paling bawah: “Hasil pembelajaran tergantung dari kemauan dan waktu belajar anda. Jika anda tidak mengikuti kursus sesuai anjuran dan tidak belajar dengan benar – kami tidak bisa menjamin hasil apapun. Metode pembelajaran ini mampu membuat anda mengerti dan berkomunikasi dengan kata-kata yang dengarkan. Hasil bisa berbeda-beda, tergantung dari kemampuan dan niat belajar anda.”

Yaah, terbukti dugaan saya sejak awal. Belajar bahasa itu kuncinya adalah pada si pembelajar. Mau secanggih apapun alatnya dan mau semahal apapun biayanya, kalau pembelajarnya ndak niat ya keajaiban itu ndak bakal terjadi. Artinya, tanpa metode Krebs yang diiklankan “cepat dan memuaskan” itu, seorang yang memang sangat bermotivasi untuk belajar bahasa asing akan sukses dengan metode atau teknik lain karena dorongannya yang kuat akan membantunya untuk menemukann sumber-sumber itu.

Jadi, kalau Anda termasuk yang tergiur oleh iklan atau buku dengan judul serupa (Belajar Cepat Bahasa Blablabla), jangan lah cepat percaya. Teliti sebelum membeli atau sebelum mendaftar. Berpikir kritis selalu bermanfaat.

Di iklan Emil Krebs itu, tidak semuanya patut disangkal dengan pikiran kritis. Ada juga yang memang benar. Selain yang saya sebutkan di atas itu, ada yang saya juga sedikit banyak percaya: “Mereka yang menguasai bahasa asing cenderung mempunyai penghasilan yang lebih tinggi”.

Jadi, pesan akhirnya adalah: belajarlah bahasa asing, tapi hati-hati jangan cepat tergiur oleh promosi yang menjanjikan hal-hal yang fantastis namun sebenarnya tidak realistis.

Iklan
Posted in: akademik, bahasa, bisnis