Generasi Muda Membaca? Mimpi Kalee

Posted on November 24, 2016

0


Kemarin saya menulis sebuah kalimat berbahasa Indonesia di papan untuk para mahasiswa di kelas Grammar: “Anda tidak boleh bermain gawai”. Begitu membacanya, serentak hampir semua murid bertanya: “Pak, apa itu gawai?”.

Maka saya pun terbengong. “Ndak ngerti artinya gawai?”. Mereka menggeleng.

“Kalian seberapa sering membaca surat kabar?”

“Jarang, Pak,” kata mereka. Salah satu  menjawab “nyaris tidak pernah,” lalu tertawa ngakak.

Astaga!

 

Lalu saya pun mengemukakan fakta tentang kemampuan intelektual bangsa Indonesia. “Menurut penelitian dari sebuah lembaga PBB, bangsa kita ini paling lemah dalam hal kemampuan berpikir analitis, berpikir kritis, dan membaca mendalam. Dengan kata lain, kita adalah termasuk bangsa tergeblek di dunia karena malas membaca.”

Mendengar kata “tergeblek” itu, salah seorang dari mereka menepuk dadanya dengan mimik muka prihatin. “Sakit, Pak,” katanya. Ya, betul, siapa tidak sakit hati dikatakan bangsa terbodoh di dunia? Tapi ya salahnya sendiri, karena malas membaca!

 

Pagi ini saya menulis di twit: “selama militer masih di belakang Presiden, tidak akan ada yang bisa makar untuk menggulingkan pemerintahan”. Lalu seorang pengikut, yang kebetulan juga mantan mahasiswa, bertanya: “apa itu ‘makar’, bro?” (catatan: di Ma Chung, setelah lulus, seorang lulusan bisa memanggil  mantan dosennya dengan semaunya sendiri, jadi jangan heran).

Maka saya jawab: “makar = kudeta; memberontak untuk menggulingkan presiden/kepala negara. Ayo, kamu tanya lagi apa itu ‘presiden’, tak gibeng kamu!”.

 

Kalau kita rajin membaca surat kabar atau materi bacaan bermutu lainnya, kita pasti tahu apa itu arti kata “makar” dan “gawai”. Karena malas membaca, maka tidak heran kedua orang yang mewakili generasi muda tadi tidak tahu arti kedua kata itu.

 

Saya bergidik membayangkan 20 tahun dari sekarang saat para mahasiswa itu sudah menjadi orang tua untuk generasi muda selanjutnya. Gimana ya tingkat literasi mereka? Mungkin mereka menjadi orang yang ngah-ngoh dan bisa dibayangkan makin ngah-ngoh pula anak-anaknya. Maka bangsa ini di masa depan sangat mungkin hanya menjadi konsumen, penonton, dan pengikut apapun yang sedang diumpankan oleh bangsa-bangsa yang lebih cerdas. Kalau nanti ditanya kok bisa begitu, ya mereka akan menjawab beramai-ramai: “lha soalnya kami ini malaaaasss membacaa!”

 

Saya makin prihatin ketika membaca lagi satu berita di surat kabar: “sebagian besar pemilih di pilpres AS mendapatkan berita dari Facebook dan Twitter.” Lalu ada lagi: “82 % mahasiswa di banyak perguruan tinggi di AS tidak bisa membedakan mana berita hoax dan mana berita yang lebih terpercaya.”

 

Saya melihat  dengan suka cita generasi muda Indonesia  yang kemana-mana membawa buku. Ketika menunggu di bandara atau stasiun atau bahkan di kakus pun mereka membaca buku-buku yang padat makna dan inspiratif. Tapi ah, belum-belum saya sudah terbangun. Rupanya saya  hanya sedang bermimpi  . . . .

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized