Kenapa Trump Menang Pilpres Amrik

Posted on November 11, 2016

0


Mendengar Donald Trump memenangi pemilihan Presiden USA rasanya seperti mimpi buruk. Setelah menerima berita itu di gadget, saya sampai menggeleng2kan kepala beberapa kali, setengahnya berharap supaya segera terbangun dari mimpi buruk.

 

Dunia juga langsung gonjang-ganjing begitu menerima kabar duka bahwa Donald Trump, milyarder yang  rasis, moslemphobia, dan misoginis (pembenci wanita) itu, bisa menang atas lawan beratnya, Hillary Clinton.  Bahkan ada satu pertanyaan di Quora: “bagaimana kita bisa membunuh Donald Trump dengan efisien?”. Ya, sebentar, bro, ini kita masih shock, belum sempat mikiri cara membunuh yang tepat pake kopi sianida atau senapan mesin atau drone berisi granat atau santet. Sek talah, kita ini sedang shooockkk!

 

Memang mengerikan membayangkan seorang seperti itu bisa memimpin Amrik sebagai salah satu negara adidaya. Apakah dia akan membangun tembok 500 kaki yang melindungi Amrik dari imigran Meksiko? Apakah dia akan mengintimidasi orang-orang Asia yang selama ini menetap disana? Apakah dia akan mulai  bertindak keras terhadap orang-orang Muslim, dan mengobarkan perang baik perang dagang maupun perang roket dan senjata berat lainnya melawan Tiongkok?

 

Tapi harus kita ingat bahwa Donald Trump dengan kemenangannya itu adalah sosok publik Amerika dalam beberapa tahun terakhir ini. Maksud saya, kalau mau mengutuk, ya kutuklah rakyat Amrik yang telah menjatuhkan pilihannya kepada monster seperti Donald Trump. Trump menang karena dia adalah satu-satunya orang Amrik yang berani dengan lantang dan keras menyuarakan ketakutan yang selama ini dipendam oleh sebagian besar orang Amerika: ketakutan akan melemahnya dominasi Amrik di panggung dunia setelah kedahasyatan Tiongkok; kehilangan pekerjaan akibat resesi ekonomi; ketakutan terhadap Muslim radikal yang telah membuat Suriah dan Irak hancur lebur; ketidaksenangan terhadap kaum imigran dan sebagainya. Selama bertahun-tahun ketakutan ini terpendam atau dipendam di bawah sadar sebagian besar rakyat Amrik. Mereka tidak berani bersuara vokal karena takut dicap rasis, namun  ketakutan itu makin membesar. Maka, ketika ada calon presiden yang notabene belum pernah punya pengalaman politik tapi berani dengan lantangnya menyuarakan semangat untuk menumpas semua ketakutan itu, berbondong-bondonglah mereka memilihnya. Trump dengan cerdik memasang taglinenya sebagai “Make America Great Again”. Betul, itu menyiratkan bahwa bangsa Amrik sedang terancam kedigdayaannya, dan pidatonya yang berapi-api bahkan kasar diterima publik sebagai pengobar semangat untuk membuat Amrik berjaya kembali di panggung dunia.

 

Jadi, seperti kata seorang analis politik, Trump memang cerdik. Dia mendapatkan perhatian lewat kampanyenya yang keras bahkan cenderung kasar namun mewakili isi hati sebagian besar rakyat Amrik. Namun, sebagai seorang presiden negara adidaya yang bukan hanya ditakuti karena kekuatannya tapi juga karena kematangan pikirnya, Trump bukan orang yang tepat.

 

Maka tidak ada seorang pun yang tahu bakal seperti apa dunia ini setelah orang gila setengah monster bernama Donald Trump itu memimpin Amerika.

 

 

 

Tagged: , , ,
Posted in: humanity