Nama Produk yang Memikat

Posted on November 8, 2016

0


Setelah menemukan suatu produk, hal tak kalah pentingnya adalah memberinya nama. Nama itu harus mudah diingat, mencerminkan sifat dan kualitas produknya, dan lebih bagus lagi kalau mempunyai asal usul yang mulia.

 

Secara psikolinguistik, ternyata orang mempunyai kecenderungan tertentu dalam memberi nama produk atau jasanya. Ini menarik karena seorang pemerhati bahasa seperti saya ternyata juga bisa sedikit banyak memikirkan nama yang pas, atau setidaknya saya tahu mengapa sebuah produk diberi nama “Jumbo” dan bukan “Emprit”, misalnya.

 

Untuk produk-produk yang berukuran besar, berkesan megah, dan kokoh, maka nama-nama yang dilekatkan padanya cenderung mempunyai vokal a,  o, atau u. Secara fisik, ketiga  bunyi itu dihasilkan dengan mulut menganga atau setidaknya membuka cukup lebar. Mungkin secara tidak sadar si pemilik mengasosiasikan bunyi-bunyi lapang ini dengan ciri produk yang diingininya.

 

Coba kita lihat: pesawat jet terbesar dinamai “Jumbo” ( dibaca /jambo/), maskapai murmer diberi nama “Air Asia”, truk pengangkut barang diberi merek “Fuso”, mesin pencari terbesar disebutnya “Google” setelah sebelumnya ada pula “Yahoo”.

 

Sebaliknya, produk atau jasa yang mengesankan kecepatan dan kelincahan walaupun mungkin dengan ukuran yang kecil diberi nama yang mengandung bunyi-bunyi “i” atau “e”. Ini rupanya selaras dengan pembentukan bunyi “i” dimana lidah cenderung naik ke langit-langit sehingga aliran udara dari tenggorokan melesat cepat keluar dan membentuk bunyi “iiii”.

 

Coba kita lihat. Jasa titipan kilat disebutnya “Tiki” atau “JNE”. Pun masih ditambah dengan kata “ekspress” di belakangnya. Mobil balap jet darat disebutnya “Ferrari”, “Mercedes” (diucapkan /mersedis/). Dulu mobil saya adalah “Mitsubishi” dan sekarang “Livina”. Sepatu kets saya yang cuma satu2nya itu adalah “Nike” (diucapkan /naikii/).

 

 

Coba ganti merek “Ferrari” itu dengan “Blohay” misalnya. Niscaya bukan cuma pemegang sahamnya yang teriak-teriak tapi pembalapnya pun mendadak bego karena secara sugesti dia berasa menaiki ikan paus dan bukan kuda jingkrak yang cepat.

 

Jadi nampaknya ada korelasi antara ilmu jiwa bahasa dan penentuan merek produk.

 

Jadi saya sekarang sedang berangan-angan mendirikan sebuah restoran besar penuh dengan makanan enak yang namanya Wakaka, dengan logo smiley ngakak di bawahnya.

 

 

 

 

Posted in: bahasa, bisnis, humanity