Art Brut dan Outsider Art

Posted on November 1, 2016

0


Art Brut dan Outsider Art. Iki hewan apa lagi? Bukan, ini bukan hewan. Lha apa? Ini sejenis roti. Lho, kalo itu kan “brood” dari bhs Belanda yang artinya roti? Lha iki “brut” kok.

 

Ternyata artinya memang unik. Art brut = hasil karya seni yang dibuat oleh orang yang mengalami kelainan mental atrau gangguan kejiwaan. Sedangkan “outsider art” adalah karya seni yang ditelurkan oleh orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan kesenian, dan menuangkan gagasannya secara spontan.

 

Ternyata pengidap skizofrenia bisa juga melukis. Ya mungkin karena pelukisnya adalah orang yang mengalami kelainan jiwa, art brut jarang dibahas. Mungkin malah disingkiri, ya karena latar belakang pelukisnya atau pembuatnya tadi.

 

Nah, outsider art bermakna sedikit lebih melegakan. Tapi terlintas tanya di pikiran saya ketika membaca istilah ini: “kalau begitu semua seniman besar itu termasuk outsider arts dong? Lha pelukis-pelukis besar macam Pablo Picasso, van Gogh, Affandi, Raden Basuki, atau Chairil Anwar apa pernah mengenyam pendidikan seni rupa?”

 

Hal menarik dari outsider arts adalah ciri-cirinya yang spontan, penuh gelegak karena memang umumnya berupa pengungkapan perasaan, dan oleh karena itu banyak kali melanggar pakem-pakem kesenian.

 

Mungkin saya termasuk yang disini. Karena saya bukan pelukis dan emang tidak bisa melukis, saya suka menulis. Tepat setahun yang lalu saya menulis di storial.co. Semua cerpen saya disitu dibaca orang, namun saya jujur saja tidak tahu bagaimana kualitas tulisan saya itu. Sampailah ada dua  orang yang mereview salah satu tulisan saya berjudul “Aku Hamil” dengan jujur:

 

Komentar pertama :

“Sebenarnya ini cerpen yang bagus dengan ending yang wow, tapi cara membawakannya sedikit kaku, juga alasan kenapa “aku” sulit bertemu dengan wanita yang hamil itu sedikit miss-logic.
Di sisi lain, ada informasi penting tentang seks dan nasihat yang dibawakan dengan jenaka.
Namun, dua hal baik ini tidak mampu mendongkrak cerpen ini dalam segi penceritaan.”

 

Komentar orang kedua:

“Bagus ceritanya, ada semacam twist ending, di mana tadinya cerita ini dikira bakalan klise, tapi ternyata, oh ternyata.
Menurutku cerita ini agak terburu-buru di penuntasan konflik, sehingga kesan “loh, segini aja?”
Sekian.”

Jadi itulah secara jujur mutu cerpen saya. Masih jauuh dari bagus. Ya, biarlah, lha wong namanya juga pelampiasan  perasaan secara spontan kok.

 

 

 

 

 

 

Posted in: Uncategorized