Mimpi Semesta

Posted on October 29, 2016

0


Jalan-jalan itu memang menyenangkan. Kita bisa ke tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi, makan panganan2 jenis baru yang belum pernah kita cicipi, berfoto-foto, plus sedikit kudos ketika memamerkan perjalanan kita itu di Instagram.

Tapi sekali-sekali nyoba yok jalan-jalan ke dalam tubuh kita sendiri. Kalau ke Jepang aja bisa, masa ke dalam tubuh sendiri ndak bisa? Ya ayolah.

Kita mulai perjalanan kita menembus kulit ari, lalu masuk ke daging, terus, teruuuusss, sampai ke sel-sel darah, dan masih teruuus ke dalam lagi. Gila, jauh amat. Mau kemana ini? Wah, sampai disana, ternyata kita mendapati bahwa masih ada yang lebih keciiil lagi dari sel. Kita sampai ke atom-atom yang menyusun tubuh kita dan kecilnya ndak ketulungan.

 

Kita akan melihat bahwa atom yang sekecil itu pun masih punya inti yang dikelilingi oleh proton dan elektron, yang dengan setianya terus berputar mengelilingi sang inti seperti para istri menjaga suami kesayangannya.

 

Sudah, sampai disini? Tunggu, belum selesai ini. Kita akan menyadari bahwa ternyata antara inti dan elektron itu ada ruang kosong. Lho, lha ini isinya apa? Sampailah kita pada benda maha kecil yang namanya Planck Unit. Kecilnya wis ndak ketulungan wis, sepersekian milyar milimeter atau bahkan lebih. Fiyuh, masih berani lebih dalam lagi? Oke. . . . dan sampailah kita pada kehampaan murni. Benar-benar hampa. Kosong. Kosong sak kosong-kosongnya. Hampa.

 

Nah, lalu heranlah kita ini: kenapa dari kehampaan yang maha hampa itu lalu tahu-tahu muncul Planck Unit, lalu atom, lalu sel, dan terus, terus, terus membentuk darah, jaringan tubuh, daging, dan   . . .  manusia!

 

Dan kalau kita melihat sekeliling manusia, maka ada hewan, tumbuhan, batu, manusia-manusia lain, bintang, bulan, matahari, galaksi, alam semesta! Biyuuh, baru kita sadar betapa semua benda itu tersusun dari unsur yang sama, dan berasal dari kehampaan yang sama!

 

Jadi, siapa yang kemudian mak jegagik muncul dari keheningan dan kehampaan itu untuk mewujud menjadi kita semua dan semua benda di sekeliling kita? Kenapa Dia melakukannya?

 

Jadi semua benda yang kita lihat ini pada dasarnya adalah hampa. Mereka berwujud benda karena energi zat tadi bergetar pada frekuensi tertentu, sehingga cukup lambat untuk kita cerap lewat panca indera. Tapi sejatinya, itu semua hampa!

 

Maka sekarang saya paham perkataan beberapa orang bijak–termasuk para fisikawan–bahwa semesta ini sebenarnya hanyalah mimpi. Sang Kehampaan itu sedang bermimpi, lalu mewujud keluar begitu saja dan menjadi semua benda yang kita lihat. Namun, sama seperti mimpi di malam hari yang pasti berakhir, mimpi semesta itu juga akan berakhir. Kita semua dan semua benda yang bernama pasti akan “terbangun” pada suatu ketika, yaitu ketika tubuh, pikiran, dan perasaan mati, dan kitapun kembali menjadi kehampaan tadi. Maka saya pun paham mengapa lagu kanak-kanak di bawah yang sekilas sederhana dan ceria ini sebenarnya sarat dengan makna hidup yang cuma mimpi ini:

 

“Row row your boat, gently down the stream. Merrily, merrily, merrily. Life is just a DREAM!”